{"id":1062,"date":"2025-07-31T00:58:30","date_gmt":"2025-07-31T00:58:30","guid":{"rendered":"http:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/?p=1062"},"modified":"2025-08-05T02:55:20","modified_gmt":"2025-08-05T02:55:20","slug":"menelusuri-rahmat-ilahi-tafsir-integratif-surat-al-fatihah-ayat-3","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/2025\/07\/31\/menelusuri-rahmat-ilahi-tafsir-integratif-surat-al-fatihah-ayat-3\/","title":{"rendered":"Menelusuri Rahmat Ilahi: Tafsir Integratif Surat Al-F\u0101ti\u1e25ah Ayat 3 Perspektif Tafsir Ichwani"},"content":{"rendered":"\n<p>Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu membutuhkan sesuatu yang menjadi penenang, penghibur, sekaligus sandaran saat lelah menghadapi realitas. Dalam agama Islam, ketenangan spiritual itu hadir lewat hubungan yang erat dengan Allah \ufdfb. Salah satu bentuk pendekatan yang paling esensial dalam relasi ini adalah memahami sifat-sifat Allah yang termaktub dalam Al-Qur\u2019an. Salah satu sifat paling menonjol dan paling sering diulang adalah \u201crahmat\u201d \u2014 kasih sayang-Nya yang meliputi segala sesuatu. Dua nama Allah yang menyiratkan sifat rahmat-Nya disebutkan secara eksplisit dan berurutan dalam Al-F\u0101ti\u1e25ah ayat ke\u20113: <strong>\u201cAr-Ra\u1e25m\u0101n ar-Ra\u1e25\u012bm\u201d<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p>Ayat ini bukan hanya lanjutan dari pujian dalam ayat sebelumnya (\u201cRabb al-\u2018\u0100lam\u012bn\u201d), tapi juga fondasi teologis yang menanamkan pengertian bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ia tidak hanya mengatur dan menguasai seluruh alam, tapi melakukannya dengan kasih sayang yang tanpa batas. Untuk itu, pendekatan tafsir Ichwani\u2014sebuah metode integratif yang menggabungkan analisis linguistik, tafsir klasik, pemikiran kontekstual, serta dimensi sosial dan historis\u2014menjadi pilihan tepat untuk menggali makna ayat ini secara menyeluruh.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Langkah 1: Analisis Bahasa (Tafsir Lughawi)<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Jika kita telusuri lebih dalam, kata \u201c<strong>ar-Ra\u1e25m\u0101n<\/strong>\u201d dan \u201c<strong>ar-Ra\u1e25\u012bm<\/strong>\u201d sama-sama berasal dari akar kata yang sama, yaitu <strong>ra\u1e25ima<\/strong> (\u0631 \u062d \u0645), yang berarti kasih sayang, kelembutan, atau rasa iba. Namun, penggunaan dua bentuk ini secara bersamaan di ayat yang sama bukanlah pengulangan yang sia-sia. Bahasa Arab sangat kaya dalam nuansa, dan setiap bentuk morfologis memberikan lapisan makna tambahan yang mendalam.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Ar-Ra\u1e25m\u0101n<\/strong>, dalam bentuk wazan <strong>fa\u02bfl\u0101n<\/strong>, mengindikasikan sifat yang melimpah dan menyeluruh. Ini adalah jenis rahmat yang tidak mengenal batas: ia mencakup semua makhluk\u2014manusia, hewan, bahkan yang kafir sekalipun. Rahmat Allah sebagai Ar-Ra\u1e25m\u0101n adalah kasih sayang yang bersifat <strong>universal<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan <strong>ar-Ra\u1e25\u012bm<\/strong>, dalam bentuk <strong>fa\u02bf\u012bl<\/strong>, menggambarkan sifat kasih sayang yang <strong>berkelanjutan dan mendalam<\/strong>, namun bersifat <strong>khusus<\/strong>. Rahmat ini ditujukan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan taat. Ia bukan sekadar melimpah, tapi juga bersifat <strong>intens dan berkesinambungan<\/strong>. Maka, jika Ar-Ra\u1e25m\u0101n adalah lautan rahmat tanpa batas, maka ar-Ra\u1e25\u012bm adalah sungai yang terus mengalir memberi kehidupan pada jiwa yang berserah.<\/p>\n\n\n\n<p>Perpaduan dua kata ini menunjukkan <strong>kesempurnaan kasih sayang Allah<\/strong>. Ia tidak hanya menyayangi seluruh makhluk secara umum, tetapi juga memberikan perhatian khusus yang mendalam kepada mereka yang berada di jalan-Nya. Dalam susunan linguistiknya, posisi ayat ini pasca \u201cRabb al-\u2018\u0100lam\u012bn\u201d menjadi penguat bahwa meski Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, namun kekuasaan-Nya tidak disertai kekejaman, melainkan dibalut dengan cinta kasih.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Langkah 2: Analisis Tafsir Klasik (Tafsir Bil Ma\u2019tsur)<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Dalam khazanah tafsir klasik, ayat ini banyak mendapatkan sorotan dari para ulama besar. <strong>Ibnu Kath\u012br<\/strong>, salah satu mufassir terkemuka, menjelaskan bahwa kedua nama ini digunakan secara berurutan untuk memberikan keseimbangan antara <strong>khauf<\/strong> (rasa takut) dan <strong>raj\u0101\u2019<\/strong> (pengharapan). Setelah menyebut Allah sebagai \u201cRabb al-\u2018\u0100lam\u012bn\u201d\u2014yang dapat saja dipahami sebagai bentuk kekuasaan mutlak\u2014Allah segera menyebut diri-Nya dengan dua nama rahmat agar manusia tidak merasa gentar atau menjauh, melainkan mendekat dan merindukan kasih-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Al-Qur\u1e6dub\u012b<\/strong>, dalam tafsirnya yang sangat detail, menjelaskan bahwa \u201cAr-Ra\u1e25m\u0101n\u201d digunakan untuk menunjukkan rahmat Allah yang mencakup seluruh umat manusia dan makhluk, sedangkan \u201car-Ra\u1e25\u012bm\u201d ditujukan khusus bagi orang-orang mukmin di akhirat. Dengan kata lain, ada dimensi waktu yang juga dibedakan oleh para mufassir klasik: <strong>Ar-Ra\u1e25m\u0101n untuk dunia, dan ar-Ra\u1e25\u012bm untuk akhirat<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Al-\u1e6cabar\u012b<\/strong>, mufassir awal abad ke-3 H, menyebutkan bahwa para sahabat seperti Ibn \u2018Abb\u0101s dan Muj\u0101hid menafsirkan \u201car-Ra\u1e25m\u0101n\u201d sebagai nama khusus bagi Allah yang tidak boleh digunakan oleh siapa pun, sedang \u201car-Ra\u1e25\u012bm\u201d bisa digunakan dalam bentuk nama manusia (seperti \u2018Abdur-Ra\u1e25\u012bm). Ini menunjukkan kesakralan kata tersebut, sekaligus penegasan bahwa rahmat Allah adalah sesuatu yang tak tertandingi.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Langkah 3: Analisis Tafsir Kontemporer dan Kontekstual (Tafsir Bil Ra\u2019yi)<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Di era modern, para mufassir kontemporer melihat ayat ini dalam kerangka hubungan sosial, psikologi spiritual, dan respons terhadap tantangan zaman. <strong>Mu\u1e25ammad \u1e6c\u0101hir Ibn \u2018\u0100sh\u016br<\/strong>, seorang mufassir dari Tunisia, menyebut bahwa penyebutan dua nama rahmat ini bukan hanya retoris, melainkan strategis: menciptakan suasana batin yang kondusif bagi hamba dalam berinteraksi dengan Allah. Dalam konteks doa, seorang hamba lebih cenderung terbuka dan tulus jika diawali dengan pemahaman bahwa Tuhan yang ditujunya penuh cinta dan kelembutan, bukan sekadar hakim yang keras.<\/p>\n\n\n\n<p>Di Indonesia, ulama seperti <strong>Quraish Shihab<\/strong> melalui Tafsir Al-Mishbah menekankan pentingnya memahami ar-Ra\u1e25m\u0101n dan ar-Ra\u1e25\u012bm bukan sebagai pengulangan, tapi penegasan. Dalam bahasa Quraish Shihab, ar-Ra\u1e25m\u0101n adalah kasih sayang yang meliputi bahkan kepada yang membangkang, sementara ar-Ra\u1e25\u012bm adalah kasih sayang yang tidak pernah meninggalkan orang-orang yang taat. Ini menjadi relevan di zaman modern, ketika banyak orang merasa terasing dari Tuhan akibat dosa atau keputusasaan. Ayat ini datang sebagai pelukan spiritual dari Tuhan yang selalu membuka pintu-Nya.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Langkah 4: Memahami Latar Belakang Ayat (Asb\u0101b al-Nuz\u016bl)<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Secara khusus, Surat Al-F\u0101ti\u1e25ah memang tidak memiliki <em>asb\u0101b al-nuz\u016bl<\/em> atau sebab turunnya ayat secara eksplisit seperti surat-surat lainnya. Namun, banyak ulama yang memahami konteks umum dari penurunan surat ini. Surat ini termasuk kategori Makkiyah, turun di masa-masa awal kenabian ketika umat Islam masih dalam fase pembentukan identitas dan spiritualitas.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam masa itu, Allah menyampaikan ayat ini untuk menghibur Rasulullah \ufdfa dan para sahabat yang menghadapi tekanan dan cemoohan. Penyebutan nama-nama Allah yang penuh kasih sayang menjadi bentuk penguatan jiwa. Bahwa meskipun mereka menghadapi ujian berat, Tuhan yang mereka sembah adalah Tuhan yang penuh cinta dan pengampunan. Ini memberikan kekuatan mental luar biasa untuk tetap teguh dalam perjuangan.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Langkah 5: Analisis Sosio-Historis Kontemporer<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Ketika kita melihat masyarakat modern, khususnya umat Islam Indonesia yang hidup di tengah pluralitas keyakinan dan sistem sosial yang kompleks, dua nama Allah ini menawarkan nilai universal yang sangat relevan. \u201cAr-Ra\u1e25m\u0101n\u201d mengajak kita untuk melihat semua manusia sebagai objek kasih sayang Tuhan. Maka, tidak pantas ada kekerasan, diskriminasi, atau kebencian atas nama agama terhadap sesama manusia. Semua adalah ciptaan-Nya, dan semua layak diperlakukan dengan hormat dan kasih.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAr-Ra\u1e25\u012bm\u201d di sisi lain, memberikan arahan internal bagi umat Islam: bahwa keberpihakan Allah terhadap kaum beriman harus diteladani dalam bentuk empati dan dukungan pada sesama muslim, terutama mereka yang tertindas atau kekurangan. Dalam konteks kemiskinan, ketidakadilan, dan konflik, dua nama ini seharusnya menjadi dasar gerakan sosial Islam yang penuh cinta, bukan sekadar retorika ibadah individual.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Langkah 6: Penafsiran Tematik (Tafsir Maw\u1e0d\u016b\u2018iy)<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Untuk menggali kedalaman makna dari ayat ini secara tematik, pendekatan tafsir <strong>maw\u1e0d\u016b\u2018iy<\/strong> sangat tepat. Dalam metode ini, kita tidak hanya fokus pada satu ayat, tetapi menghubungkannya dengan ayat-ayat lain yang mengandung lafaz serupa, dalam hal ini adalah tema <strong>rahmat Allah<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam Al-Qur\u2019an, nama <strong>Ar-Ra\u1e25m\u0101n<\/strong> dan <strong>Ar-Ra\u1e25\u012bm<\/strong> muncul berkali-kali dengan konteks yang beragam. Misalnya, pada Surat Maryam ayat 85\u201396, Allah digambarkan sebagai Ar-Ra\u1e25m\u0101n yang menciptakan dan membimbing manusia dengan penuh kelembutan. Dalam Surat al-Isr\u0101\u2019 ayat 110, ditegaskan bahwa nama-nama tersebut saling melengkapi: <em>\u201cSerulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana pun kamu menyeru, Dia memiliki al-asm\u0101\u2019 al-\u1e25usn\u0101 (nama-nama terbaik).\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Jika dirangkum secara tematik, rahmat Allah dalam Al-Qur\u2019an terbagi dalam tiga dimensi besar:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li><strong>Rahmat Eksistensial<\/strong>: menciptakan segala sesuatu dengan rahmat-Nya (QS. Al-Anbiy\u0101\u2019: 107 \u2013 <em>\u201cKami tidak mengutusmu, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.\u201d<\/em>).<\/li><li><strong>Rahmat Legislatif<\/strong>: hukum-hukum dan syariat Islam diturunkan sebagai bentuk kasih sayang, bukan pembatasan (QS. An-N\u016br: 20).<\/li><li><strong>Rahmat Eskatologis<\/strong>: rahmat Allah di akhirat diperuntukkan bagi mereka yang beriman dan bertakwa (QS. Al-Kahf: 107).<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Dengan menelusuri tema rahmat dalam Al-Qur\u2019an secara menyeluruh, kita dapat memahami bahwa Ar-Ra\u1e25m\u0101n dan Ar-Ra\u1e25\u012bm bukan sekadar dua nama yang indah, tapi merupakan manifestasi dari sistem nilai Ilahi yang mendasari keseluruhan ajaran Islam: cinta kasih, pengampunan, dan harapan.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Langkah 7: Menilai Sesuai dengan Maq\u0101\u1e63id al-Shar\u012b\u2018ah<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Dalam kerangka <strong>maq\u0101\u1e63id al-shar\u012b\u2018ah<\/strong>\u2014tujuan-tujuan utama syariat\u2014makna \u201car-Ra\u1e25m\u0101n ar-Ra\u1e25\u012bm\u201d sangat terkait dengan misi utama Islam sebagai agama yang membawa <strong>rahmat<\/strong>, <strong>perlindungan<\/strong>, dan <strong>kesejahteraan<\/strong> bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Lima maq\u0101\u1e63id utama dalam hukum Islam adalah:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li><strong>Hif\u1e93 ad-d\u012bn<\/strong> (menjaga agama)<\/li><li><strong>Hif\u1e93 an-nafs<\/strong> (menjaga jiwa)<\/li><li><strong>Hif\u1e93 al-\u2018aql<\/strong> (menjaga akal)<\/li><li><strong>Hif\u1e93 an-nasl<\/strong> (menjaga keturunan)<\/li><li><strong>Hif\u1e93 al-m\u0101l<\/strong> (menjaga harta)<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Nama-nama \u201cAr-Ra\u1e25m\u0101n\u201d dan \u201cAr-Ra\u1e25\u012bm\u201d secara intrinsik mendukung kelima tujuan ini. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Dalam menjaga <strong>jiwa<\/strong>, Allah menetapkan hukum qish\u0101\u1e63 sebagai bentuk rahmat (QS. Al-Baqarah: 179).<\/li><li>Dalam menjaga <strong>akal<\/strong>, Allah mengharamkan khamr, sebagai wujud kasih sayang agar manusia tidak merusak potensi intelektualnya (QS. Al-M\u0101\u2019idah: 90).<\/li><li>Dalam menjaga <strong>agama<\/strong>, Allah menurunkan wahyu bukan untuk menyulitkan (QS. Al-Baqarah: 185), tetapi sebagai rahmat dan petunjuk.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Dengan demikian, memahami ayat ini dalam konteks maq\u0101\u1e63id menuntun kita pada kesimpulan bahwa setiap perintah dan larangan dalam Islam tidak lain adalah bentuk nyata dari kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Langkah 8: Tajd\u012bd (Pembaharuan) dan I\u1e63l\u0101\u1e25 (Reformasi)<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Memahami ayat ini dalam kerangka <strong>tajd\u012bd<\/strong> dan <strong>i\u1e63l\u0101\u1e25<\/strong> berarti menggali relevansinya dalam menjawab tantangan zaman modern. Dalam banyak kasus, pemahaman yang sempit tentang Allah sebagai Zat yang \u201chanya menghukum\u201d menjauhkan manusia dari spiritualitas Islam yang penuh kasih.<\/p>\n\n\n\n<p>Ayat ini dapat dijadikan dasar bagi gerakan pembaharuan pemahaman Tuhan dalam Islam. Allah bukan hanya al-Jabb\u0101r (Maha Perkasa), tapi terlebih dahulu adalah Ar-Ra\u1e25m\u0101n dan Ar-Ra\u1e25\u012bm. Ini adalah pesan untuk menjauhi ekstremisme dan radikalisme yang mengatasnamakan agama tapi justru menciderai nilai rahmat.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Isl\u0101\u1e25<\/strong> dalam bidang sosial juga bisa dibangun dengan spirit ayat ini. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Dalam pendidikan Islam, penekanan pada nilai kasih sayang seharusnya lebih dominan daripada hukuman.<\/li><li>Dalam politik Islam, pemimpin ideal adalah yang meneladani sifat Ar-Ra\u1e25m\u0101n\u2014pengayom semua rakyat, dan Ar-Ra\u1e25\u012bm\u2014peduli secara khusus terhadap yang miskin dan terpinggirkan.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Reformasi nilai spiritual menuju Islam yang <em>rahmatan lil \u2018\u0101lam\u012bn<\/em> harus dimulai dari pemaknaan dua nama ini dalam tataran praksis kehidupan umat.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Langkah 9: Kesimpulan Integratif (Metode Tafsir Ichwani)<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Setelah melalui berbagai pendekatan\u2014bahasa, tafsir klasik, tafsir kontekstual, asb\u0101b al-nuz\u016bl, analisis sosial, tematik, maq\u0101\u1e63id, hingga tajd\u012bd\u2014tibalah saatnya kita merangkumnya dengan <strong>metode tafsir Ichwani<\/strong>, yaitu metode <strong>integratif yang bersifat inklusif dan moderat<\/strong>, memadukan semua pendekatan untuk menghasilkan tafsir yang menyeluruh dan membumi.<\/p>\n\n\n\n<p>Ayat \u201car-Ra\u1e25m\u0101n ar-Ra\u1e25\u012bm\u201d bukan sekadar pujian indah kepada Allah, melainkan sebuah <strong>ideologi rahmat<\/strong> yang menjadi fondasi keislaman dan kemanusiaan. Di satu sisi, ia menyadarkan kita akan ketergantungan kepada kasih Tuhan, dan di sisi lain, menuntut kita menjadi perpanjangan rahmat itu dalam kehidupan sosial.<\/p>\n\n\n\n<p>Tafsir Ichwani melihat bahwa makna rahmat dalam ayat ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika umat manusia. Ia membentuk cara berpikir, cara hidup, hingga cara beragama. Dengan semangat ini, Islam hadir bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai pelukan kasih Tuhan bagi dunia.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Penutup<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Tafsir ini menunjukkan bahwa dua nama Allah: <strong>Ar-Ra\u1e25m\u0101n dan Ar-Ra\u1e25\u012bm<\/strong>, menyimpan kekuatan teologis, sosiologis, dan spiritual yang luar biasa. Dari sekadar nama, ia berkembang menjadi doktrin, lalu menjadi inspirasi tindakan. Rahmat Allah adalah titik awal, jalur perjalanan, dan tujuan akhir dari seluruh pengalaman religius manusia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu membutuhkan sesuatu yang menjadi penenang, penghibur, sekaligus sandaran saat lelah menghadapi realitas. Dalam agama Islam, ketenangan spiritual itu hadir lewat hubungan yang erat dengan Allah \ufdfb. Salah satu bentuk pendekatan yang paling esensial dalam relasi ini adalah&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1063,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-1062","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tafsir-ichwani"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1062","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1062"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1062\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1074,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1062\/revisions\/1074"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1063"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1062"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1062"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1062"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}