{"id":1076,"date":"2025-08-05T15:45:01","date_gmt":"2025-08-05T15:45:01","guid":{"rendered":"http:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/?p=1076"},"modified":"2025-08-05T15:45:02","modified_gmt":"2025-08-05T15:45:02","slug":"dari-iqra-ke-penutup-wahyu-analisis-mendalam-ayat-pertama-dan-terakhir-al-quran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/2025\/08\/05\/dari-iqra-ke-penutup-wahyu-analisis-mendalam-ayat-pertama-dan-terakhir-al-quran\/","title":{"rendered":"Dari Iqra\u2019 ke Penutup Wahyu: Analisis Mendalam Ayat Pertama dan Terakhir Al-Qur\u2019an"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Pendahuluan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Al\u2011Qur\u2019an merupakan wahyu terakhir yang diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad \ufdfa selama kurang lebih 23 tahun. Di antara proses penurunan tersebut, ada dua momen krusial yang sering dibahas dalam ilmu <em>\u2018ulum al\u2011Qur\u2019\u0101n<\/em>, yakni wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah \ufdfa dan wahyu terakhir yang mengakhiri periode kenabian. Kedua momen ini menyimpan nilai simbolis, teologis, dan metodologis yang sangat penting bagi pemahaman Al-Qur\u2019an secara menyeluruh.<\/p>\n\n\n\n<p>Di satu sisi, ayat pertama yang turunnya menandai awal misi kenabian dan pengakuan umat terhadap permulaan risalah. Di sisi lain, ayat terakhir menunjukkan bentuk penyempurnaan syariat dan petunjuk moral-hukum yang menjadi pengakhir wahyu. Memahami kedua titik ini membantu kita memahami struktur historis penyusunan Al-Qur\u2019an dan peran wahyu dalam membentuk perkembangan umat Islam secara teoritis dan praktis.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Latar Belakang Penurunan (Nuz\u016bl al\u2011Qur\u2019\u0101n)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kerangka ilmu <em>\u2018ulum al\u2011Qur\u2019\u0101n<\/em>, istilah yang penting dikenal adalah <em>inz\u0101l<\/em> (penurunan tunggal) dan <em>tanz\u012bl<\/em> (penurunan berangsur). <em>Inz\u0101l<\/em> merujuk pada wahyu yang diturunkan secara kolektif dari Lau\u1e25 Ma\u1e25f\u016b\u1e93 ke Bait al\u2011\u02bfIzzah di langit terendah pada malam <em>Lailatul Qadr<\/em>, sedangkan <em>tanz\u012bl<\/em> menunjukkan proses penurunan yang terjadi secara bertahap kepada Nabi \ufdfa melalui malaikat Jibr\u012bl selama 23 tahun.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut banyak mufassir dan ulama klasik seperti Al\u2011Suy\u016b\u1e6d\u012b dalam <em>Al\u2011Itq\u0101n f\u012b \u2018Ul\u016bm al\u2011Qur\u2019\u0101n<\/em>, kedua tahap penurunan ini merupakan dua fase yang berbeda secara konteks dan fungsi. Tahap pertama bersifat simbolis \u2014 pengakuan atas kemuliaan kitab Ilahi melalui penurunan secara keseluruhan. Tahap berikutnya bersifat fungsional: wahyu menyesuaikan konteks sejarah, sosial, dan moral masyarakat, disampaikan secara gradual agar dapat dipahami dan diinternalisasi umat.<\/p>\n\n\n\n<p>Proses <em>tanz\u012bl<\/em> memungkinkan turunnya ayat-ayat yang merespon langsung peristiwa konkret\u2014baik konflik, hukum, maupun situasi moral masyarakat Madinah maupun Mekah. Oleh karena itu, struktur historis dan susunan kronologis ayat-ayat tidak selalu sejalan dengan susunan mushaf (susunan dalam Al-Qur\u2019an yang kita baca sekarang), melainkan memungkinkan adanya urutan tematik dan penyesuaian dengan keadaan Nabi \ufdfa dan umatnya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Ayat Pertama yang Diturunkan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Mayoritas ulama (jumh\u016br) berpendapat bahwa ayat pertama yang Allah turunkan adalah lima ayat awal Surat Al\u2011\u2018Alaq (QS 96:1\u20135):<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>Iqra\u2019 bismi rabbika allat\u012b khalaq\u2026 \u2018Allama bi\u2011qalamin \u2018allama l\u2011ins\u0101na m\u0101 lam ya\u2018lam<\/em><br>(<em>Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan\u2026<\/em> hingga <em>\u2026mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya<\/em>).<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Dasar kuat pendapat ini didasarkan pada hadis sahih yang diriwayatkan dari \u2018Aisyah radhiyall\u0101hu \u2018anha, yang menceritakan bahwa wahyu pertama datang melalui mimpi baik, kemudian Nabi \ufdfa mengalami pengalaman langsung dengan malaikat Jibr\u012bl di Gua Hira\u2019: tiga kali diperintahkan membaca, sebelum akhirnya Allah menurunkan ayat-ayat tersebut. Riwayat Aisyah menjelaskan rangkaian pengalaman spiritual dan psikologis Nabi \ufdfa sebelum ayat itu turun, dan banyak periwayat seperti Bukh\u0101r\u012b, Muslim, dan al\u2011Hak\u012bm menegaskan riwayat tersebut sebagai shahih.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Al\u2011Suy\u016b\u1e6d\u012b dalam <em>Al\u2011Itq\u0101n<\/em>, ayat-ayat Surat Al\u2011\u2018Alaq tersebut secara teologis penting karena menjadi semacam \u201csurat pembuka wahyu\u201d: mendorong umat manusia untuk membaca, belajar, dan mengenali ilmu pengetahuan sebagai milik Allah. Konsep <em>iqra\u2019<\/em> juga berfungsi sebagai simbol tantangan pertama \u2014 bahwa manusia terlahir tanpa ilmu dan ilmu itu hanya dibuka oleh wahyu Ilahi\u2014sebuah pesan yang berulang dalam banyak tafsir modern maupun klasik.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Pendapat Alternatif: Surat Al\u2011Muddaththir atau Al\u2011Fat\u1e25ah sebagai Wahyu Pertama<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Meski jumh\u016br ulama sepakat bahwa Surat Al\u2011\u2018Alaq ayat 1\u20135 adalah wahyu pertama, sebagian ulama klasik maupun kontemporer menyebutkan kemungkinan surat lain sebagai wahyu permulaan. Di antaranya adalah Surat Al\u2011Muddaththir (QS 74:1\u20137) dan Surat Al\u2011Fat\u1e25ah (QS 1:1\u20137).<\/p>\n\n\n\n<p>Pendapat yang menyebutkan Al\u2011Muddaththir berlandaskan pada riwayat sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukh\u0101r\u012b dari Jabir bin \u2018Abdillah, yang berkata:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>\u201cAku mendengar Rasulullah \ufdfa berkata, \u2018Aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit\u2026 Lalu Jibril yang pernah mendatangiku di Hira\u2019 berkata: <em>Y\u0101 ayyuhal muddaththir, qum fa-andzir\u2026<\/em>\u2019\u201d.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Beberapa ulama memahami bahwa inilah perintah kenabian aktif pertama. Sedangkan <em>Iqra\u2019<\/em> lebih merupakan pengalaman awal kenabian secara spiritual dan penegasan pribadi kepada Rasulullah \ufdfa. Jadi, meskipun <em>Iqra\u2019<\/em> turun lebih dahulu, perintah <em>qum fa-andzir<\/em> menjadi awal tugas kerasulan secara sosial: menyampaikan, memberi peringatan, dan berdakwah secara terbuka.<\/p>\n\n\n\n<p>Adapun yang menyebut Surat Al\u2011Fat\u1e25ah sebagai wahyu pertama biasanya mendasarkannya pada pentingnya surat ini dalam shalat dan konteksnya sebagai intisari Al\u2011Qur\u2019an. Akan tetapi, tidak ada riwayat sahih yang menunjukkan bahwa Al\u2011Fat\u1e25ah turun sebelum Surat Al\u2011\u2018Alaq. Pandangan ini lebih cenderung bersifat simbolis daripada historis, yakni Surat Al\u2011Fat\u1e25ah sebagai pembuka mushaf dan pembuka makna Qur\u2019an secara tematik, bukan kronologis.<\/p>\n\n\n\n<p>Karenanya, mayoritas ulama tetap menyatakan Al\u2011\u2018Alaq sebagai wahyu pertama dalam urutan penurunan, baik berdasarkan riwayat hadis, urutan tematik wahyu, maupun logika historis.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Ayat Terakhir yang Diturunkan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Menentukan ayat terakhir yang diturunkan memiliki tantangan tersendiri. Ini karena tidak seperti wahyu pertama yang sangat eksplisit dalam hadis sahih, wahyu terakhir tidak dicatat secara eksplisit oleh Nabi \ufdfa atau para sahabat secara definitif. Maka tidak mengherankan bila para ulama berbeda pendapat. Setidaknya ada <strong>tiga pendapat utama<\/strong> mengenai ayat terakhir yang diturunkan:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Pendapat Pertama: QS Al\u2011M\u0101\u2019idah Ayat 3<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Sebagian ulama berpendapat bahwa ayat terakhir yang diturunkan adalah QS Al\u2011M\u0101\u2019idah:3, terutama pada bagian:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>&#8220;Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agamamu&#8230;&#8221;<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Ayat ini turun saat Haji Wada\u2019, dan banyak ulama menyatakan bahwa wahyu ini menandai penyempurnaan syariat Islam. Beberapa sahabat seperti Umar bin Khattab r.a. dan ulama besar seperti Ibnu Jarir al\u2011\u1e6cabar\u012b juga menguatkan pendapat ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, sebagian lainnya mengkritik bahwa meskipun ayat ini sangat kuat secara makna dan momentum, masih terdapat ayat-ayat lain yang turun setelahnya \u2014 khususnya terkait hukum utang, riba, dan wasiat. Maka, ayat ini mungkin bukan yang terakhir secara kronologis, meski sangat penting secara simbolis.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Pendapat Kedua: QS Al\u2011Baqarah Ayat 281<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Pendapat populer lain menyebut QS Al\u2011Baqarah:281 sebagai ayat terakhir:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>&#8220;Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah&#8230;&#8221;<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Ayat ini disebut-sebut turun sembilan malam sebelum wafatnya Rasulullah \ufdfa. Sebagian ulama seperti Ibnu Abbas dan Syaikh al\u2011Alusi menguatkan pendapat ini, dan menyatakan bahwa ayat ini adalah penutup seluruh rangkaian wahyu dalam Al\u2011Qur\u2019an.<\/p>\n\n\n\n<p>Penegasan tentang hari kiamat, pertanggungjawaban di hadapan Allah, dan sifat universalnya menjadikan ayat ini cocok menjadi penutup wahyu dari segi makna spiritual dan eskatologis.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Pendapat Ketiga: QS Al\u2011Baqarah Ayat 282 atau 278\u2013280 (Tentang Riba dan Utang)<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Pendapat ketiga adalah bahwa wahyu terakhir adalah QS Al\u2011Baqarah:282, yakni ayat tentang pencatatan utang:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya&#8230;&#8221;<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Ayat ini sangat panjang (dikenal sebagai ayat terpanjang dalam Al\u2011Qur\u2019an), dan menurut beberapa riwayat turun setelah ayat tentang riba (QS Al\u2011Baqarah:278\u2013280). Beberapa mufassir seperti al\u2011Qur\u1e6dub\u012b dan Fakhruddin al\u2011R\u0101z\u012b cenderung pada pandangan ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Kekuatan pendapat ini adalah pada konteks aplikatifnya: hukum riba dan pencatatan utang adalah bagian penting dalam membangun masyarakat Madani Islam. Maka wahyu ini menjadi fondasi syariah dalam ekonomi dan sosial. Selain itu, penekanan pada keadilan dan tanggung jawab sosial sangat sesuai untuk menjadi penutup ajaran Islam yang bersifat universal dan praktikal.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Menyimpulkan Beragam Pendapat tentang Wahyu Terakhir<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Dari ketiga pendapat di atas, masing-masing memiliki argumen yang kuat:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>QS Al\u2011M\u0101\u2019idah:3<\/strong> kuat dalam simbol penyempurnaan agama,<\/li><li><strong>QS Al\u2011Baqarah:281<\/strong> kuat dalam makna akhirat dan momentum dekat wafatnya Nabi \ufdfa,<\/li><li><strong>QS Al\u2011Baqarah:282<\/strong> kuat dalam implementasi hukum terakhir yang diturunkan untuk pengaturan masyarakat.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, sebagian ulama kontemporer seperti Yusuf al\u2011Qaradawi dan Muhammad al\u2011Ghazali menyatakan bahwa yang dimaksud dengan \u201cayat terakhir\u201d bisa berbeda tergantung konteks: <em>ayat terakhir secara hukum<\/em>, <em>ayat terakhir secara spiritual<\/em>, atau <em>ayat terakhir secara tekstual<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Rujukan dari Kitab \u2018Ulum al\u2011Qur\u2019\u0101n<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Kajian tentang ayat pertama dan terakhir yang diturunkan tidak bisa dilepaskan dari referensi klasik yang sangat penting dalam dunia Islam, yaitu kitab-kitab <em>\u2018Ulum al\u2011Qur\u2019\u0101n<\/em>. Di antara kitab paling otoritatif dalam disiplin ini adalah <strong>\u201cAl\u2011Itq\u0101n f\u012b \u2018Ul\u016bm al\u2011Qur\u2019\u0101n\u201d karya Jal\u0101ludd\u012bn as\u2011Suy\u016b\u1e6d\u012b<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Al\u2011Itq\u0101n f\u012b \u2018Ul\u016bm al\u2011Qur\u2019\u0101n (As\u2011Suy\u016b\u1e6d\u012b) dan Penjelasan Wahyu<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Dalam \u201cAl\u2011Itq\u0101n,\u201d As\u2011Suy\u016b\u1e6d\u012b mengkaji secara sistematis berbagai aspek Al\u2011Qur\u2019an, termasuk wahyu pertama dan terakhir. Ia mencatat bahwa wahyu pertama adalah lima ayat dari Surat Al-\u2018Alaq, merujuk pada hadis sahih dari \u2018Aisyah. Ia juga menegaskan bahwa ada perbedaan pendapat tentang wahyu terakhir, namun QS Al\u2011Baqarah:281 disebutkan secara khusus dalam beberapa riwayat sebagai ayat yang turun menjelang wafatnya Nabi Muhammad \ufdfa.<\/p>\n\n\n\n<p>As\u2011Suy\u016b\u1e6d\u012b menjelaskan bagaimana wahyu tidak hanya turun berdasarkan urutan logis atau hukum, tetapi mengikuti peristiwa (asb\u0101b al\u2011nuz\u016bl) dan kebutuhan umat pada waktu tertentu. Maka, susunan mushaf yang kita kenal sekarang bukanlah susunan kronologis, melainkan susunan yang disusun berdasarkan petunjuk langsung dari Rasulullah \ufdfa di masa akhir hidupnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kitab ini juga menekankan tentang pentingnya membedakan antara <strong>nazm (susunan redaksi)<\/strong> dan <strong>tart\u012bb nuz\u016bl (urutan penurunan)<\/strong>. Hal ini penting karena banyak orientalis Barat yang menilai Al\u2011Qur\u2019an harus dipahami melalui urutan penurunan semata, padahal dalam tradisi Islam, aspek nazm dan i\u2019jaz (keindahan dan keajaiban gaya bahasa) juga menjadi bagian dari mukjizat Qur\u2019an.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Pendekatan Barat: Theodor N\u00f6ldeke dan Richard Bell<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Beberapa orientalis seperti Theodor N\u00f6ldeke dan Richard Bell mencoba menyusun kronologi wahyu berdasarkan gaya bahasa, tema, dan asumsi historis. Dalam <em>Geschichte des Qorans<\/em>, N\u00f6ldeke menyatakan bahwa Surat Al\u2011Qalam (QS 68) adalah wahyu pertama, bukan Al-\u2018Alaq. Ia berdalil bahwa gaya bahasanya lebih tua dan mengandung nuansa puitis khas masa awal kenabian.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun pendekatan ini banyak dikritik oleh ulama Muslim karena terlalu subjektif dan tidak berdasar pada riwayat sahih. Meski begitu, pendekatan seperti ini tetap digunakan dalam studi Islam di dunia akademik Barat dan menjadi bagian dari diskursus <em>Islamic studies<\/em> global, khususnya dalam jurnal internasional seperti <em>Journal of Qur\u2019anic Studies<\/em> dan <em>Islamic Quarterly<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Relevansi Pendekatan Ilmiah Klasik dan Modern<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Kombinasi antara pendekatan klasik berbasis riwayat (hadis dan tafsir) dan pendekatan akademik modern berbasis linguistik dan sejarah sosial memberikan pemahaman yang lebih holistik. Di satu sisi, kita mendapat keabsahan dari sanad dan riwayat; di sisi lain, kita juga bisa memahami bagaimana wahyu berinteraksi dengan konteks sejarahnya secara dinamis.<\/p>\n\n\n\n<p>Inilah yang kemudian menjadi landasan para cendekiawan kontemporer seperti Fazlur Rahman, Nasr Hamid Abu Zayd, dan Muhammad Arkoun untuk menawarkan pembacaan ulang terhadap wahyu dalam kerangka kontekstual dan historis. Meski beberapa pendekatan ini menimbulkan kontroversi, namun mereka tetap menghidupkan diskusi ilmiah yang sangat penting bagi dinamika pemikiran Islam.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Tabel Perbandingan Pendapat<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Untuk mempermudah pemahaman, berikut adalah tabel ringkasan berbagai pendapat ulama tentang ayat pertama dan terakhir yang diturunkan:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table><thead><tr><th>Aspek<\/th><th>Pendapat Utama<\/th><th>Dalil &amp; Rujukan<\/th><th>Ulama Pendukung<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td><strong>Ayat Pertama<\/strong><\/td><td>QS Al-\u2018Alaq: 1\u20135<\/td><td>Hadis Aisyah r.a. (HR Bukhari, Muslim), <em>Al-Itqan<\/em>, <em>Tafsir At-Thabari<\/em><\/td><td>Jumh\u016br Ulama, As-Suy\u016b\u1e6d\u012b<\/td><\/tr><tr><td><\/td><td>QS Al-Muddaththir: 1\u20137<\/td><td>HR Jabir bin Abdillah (Bukhari), permulaan perintah dakwah terbuka<\/td><td>Sebagian mufassir klasik<\/td><\/tr><tr><td><\/td><td>QS Al-Fatihah<\/td><td>Tidak ada riwayat sahih, hanya pendekatan simbolis sebagai \u201cUmm al-Kitab\u201d<\/td><td>Minoritas, pendekatan tematik<\/td><\/tr><tr><td><strong>Ayat Terakhir<\/strong><\/td><td>QS Al-M\u0101\u2019idah: 3<\/td><td>\u201cHari ini telah Kusempurnakan\u2026\u201d saat Haji Wada\u2019<\/td><td>Umar bin Khattab, At-Thabari<\/td><\/tr><tr><td><\/td><td>QS Al-Baqarah: 281<\/td><td>Turun 9 malam sebelum wafat Nabi \ufdfa, peringatan akhirat<\/td><td>Ibnu Abbas, Al-Alusi<\/td><\/tr><tr><td><\/td><td>QS Al-Baqarah: 282 (atau 278\u2013280)<\/td><td>Ayat tentang utang dan riba, turun menjelang akhir hayat Nabi \ufdfa<\/td><td>Fakhruddin Ar-Razi, Al-Qurthubi<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Kesimpulan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Pembahasan mengenai ayat pertama dan terakhir yang diturunkan bukan hanya wacana sejarah, tetapi bagian penting dalam memahami dinamika wahyu, perkembangan umat, serta struktur ajaran Islam. Mayoritas ulama klasik menetapkan bahwa QS Al-\u2018Alaq:1\u20135 adalah wahyu pertama yang membuka cakrawala kenabian, dan QS Al-Baqarah:281 atau QS Al-M\u0101\u2019idah:3 sebagai wahyu terakhir\u2014tergantung pada perspektif apakah itu hukum, spiritual, atau simbolik.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui pendekatan kitab <em>\u2018Ulum al-Qur\u2019an<\/em> seperti <em>Al-Itqan<\/em>, kita melihat bahwa turunnya wahyu adalah proses yang sangat terstruktur, baik secara spiritual maupun sosiologis. Dari sisi akademik modern, pendekatan linguistik dan historis turut memperkaya wacana, meskipun tetap harus diuji dengan standar keilmuan Islam yang berbasis sanad.<\/p>\n\n\n\n<p>Memahami kedua titik penting ini memberikan pemahaman yang menyeluruh terhadap misi Qur\u2019an: dari perintah membaca sebagai gerbang ilmu, hingga penyempurnaan hukum sosial sebagai tanda lengkapnya syariat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pendahuluan Al\u2011Qur\u2019an merupakan wahyu terakhir yang diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad \ufdfa selama kurang lebih 23 tahun. Di antara proses penurunan tersebut, ada dua momen krusial yang sering dibahas dalam ilmu \u2018ulum al\u2011Qur\u2019\u0101n, yakni wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah \ufdfa&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1077,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-1076","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-akademik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1076","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1076"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1076\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1078,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1076\/revisions\/1078"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1077"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1076"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1076"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1076"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}