{"id":300,"date":"2020-07-31T06:47:47","date_gmt":"2020-07-31T06:47:47","guid":{"rendered":"http:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/?p=300"},"modified":"2020-07-31T06:49:09","modified_gmt":"2020-07-31T06:49:09","slug":"kritik-al-syafii-terhadap-istihsan-pendekatan-sejarah-dalam-memahami-penolakan-imam-al-syafii-terhadap-metode-istihsan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/2020\/07\/31\/kritik-al-syafii-terhadap-istihsan-pendekatan-sejarah-dalam-memahami-penolakan-imam-al-syafii-terhadap-metode-istihsan\/","title":{"rendered":"Kritik al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i Terhadap Istihsan: Pendekatan Sejarah dalam Memahami Penolakan Imam al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i Terhadap Metode Istihsan"},"content":{"rendered":"\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>A.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/strong><strong>Pen<\/strong><a href=\"https:\/\/rasail.files.wordpress.com\/2012\/05\/images.jpg\"><\/a><strong>dahuluan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Telah menjadi kesepakatan ulama bahwa sumber pertama dan utama dalam Islam adalah al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an. Kitab Suci ini digunakan kaum Muslimin untuk mengabsahkan perilaku, menjastifikasi tindakan peperangan, melandasi berbagai aspirasi, memelihara berbagai harapan, dan juga memperkukuh identitas kolektif.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn1\">[1]<\/a>&nbsp;Dengan Kitab Suci ini pula, Nabi Muhammad \u00e2\u20ac\u201c ketika masih hidup \u00e2\u20ac\u201c menyelesaikan persoalan-persoalan yang muncul dalam masyarakt Islam ketika itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Berbagai persoalan yang muncul di masyarakat Islam ketika itu, nampaknya tidak semuanya dapat diselesaikan dengan wahyu. Ini bisa jadi disebabkan oleh karena keadaan al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an yang sifatnya masih global dan universal, serta tidak menjelaskan berbagai persoalan secara terperinci. Dalam keadaan yang demikian, Nabi saw menyelesaikannya dengan pemikiran dan pendapatnya sendiri, dan kadangkala bermusyawarah dengan para sahabatnya. Inilah yang kemudian disebut dengan sunnah Rasulullah saw.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Memang, tatkala Nabi Muhammad saw masih hidup segala persoalan yang dihadapi ummat, baik dalam bidang ibadat maupun muamalah, secara keseluruhan dapat diselesaikan Rasulullah, tetapi ketika beliau sudah wafat persoalan-persoalan tersebut sulit untuk dicarikan jawabannya, terutama dalam al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an dan sunnah Nabi saw. Oleh karena itu, untuk menyelesaikan persoalan tersebut para sahabat melakukan&nbsp;<em>ijtihad<\/em>. Oleh karena ijtihad ini tidak dapat diuji tentang kebenaran dan kesalahannya, maka yang dilakukan adalah mengadakan&nbsp;<em>ijma\u00e2\u20ac\u2122<\/em>&nbsp;(kesepakatan). Sebab, putusan yang diambil secara&nbsp;<em>ijma\u00e2\u20ac\u2122<\/em>&nbsp;akan lebih baik dibandingkan dengan yang dilakukan secara sendirian.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Ijma\u00e2\u20ac\u2122<\/em>&nbsp;dikalangan ulama pun nampaknya juga tidak dapat selamanya dipertahankan. Artinya, ketika wilayah Islam sudah bertambah luas, maka akibat yang ditimbulkan adalah terpencar-pencarnya ulama, sehingga&nbsp;<em>ijma\u00e2\u20ac\u2122<\/em>&nbsp;pun tidak dapat diambil secara bulat. Akibatnya, masing-masing ulama pun cenderung untuk melakukan&nbsp;<em>istinbath<\/em>&nbsp;sendiri. Dari sini, maka lahirlah apa yang disebut dengan&nbsp;<em>qiyas, istislah, \u00e2\u20ac\u02dcurf, istihsan<\/em>, dan sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<p>Metode&nbsp;<em>istinbath&nbsp;<\/em>hukum yang disebutkan terakhir, yaitu&nbsp;<em>istihsan&nbsp;<\/em>dikalangan para ulama masih menjadi perdebatan tentang keabsahannya. Ulama yang menjadikan&nbsp;<em>istihsan<\/em>&nbsp;sebagai metode&nbsp;<em>istinbath<\/em>&nbsp;hukum di antaranya adalah Imam Hanafi dan Imam Maliki. Sedangkan Imam Hanbali dan Imam Syafi\u00e2\u20ac\u2122i tidak menjadikannya sebagai salah satu metode dalam ber<em>istinbath<\/em>&nbsp;hukum. Bahkan ulama yang disebutkan terakhir \u00e2\u20ac\u201c Imam&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;\u00e2\u20ac\u201c justru menolak dengan keras penggunaan&nbsp;<em>istihsan<\/em>&nbsp;sebagai metode istinbah. Menurutnya bahwa&nbsp;<em>istihsan<\/em>&nbsp;merupakan cara&nbsp;<em>istinbath<\/em>&nbsp;hukum dengan hawa nafsu dan mencari enaknya saja. Mengenai hal ini beliau mengatakan: \u00e2\u20ac\u0153<em>Siapa yang melakukan istihsan berarti telah membuat syari\u00e2\u20ac\u2122at<\/em>\u00e2\u20ac\u009d. Masih menurut&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>, bahwa ijtihad yang dilakukan dengan metode&nbsp;<em>istihsan&nbsp;<\/em>adalah batal. Berkaitan dengan masalah ini&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;mengatakan:<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Semua ijtihad yang dilakukan para mujtahid tanpa melakukan penyandaran pada salah satu di antara Kitab (al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an), al-Sunnah, atsar,&nbsp;<em>ijma\u00e2\u20ac\u2122<\/em>, atau&nbsp;<em>qiyas<\/em>, maka ijtihad yang demikian disebut&nbsp;<em>istihsan<\/em>, sebab para mujtahid telah menetapkan hukum berdasarkan apa yang baik (<em>istihsan<\/em>) menurut mereka, dan ijtihad yang dilakukan dengan cara demikian (<em>istihsan<\/em>) adalah batal.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn2\">[2]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Berdasarken perkataan&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;di atas, penulis bermaksud untuk membahas metode tersebut menurut pandangan&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>. Apa yang melatarbelakangi penolakannya dan argumentasi penolakannya dari perspektis sejarah (<em>historis<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;<strong>B.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/strong><strong><em>Al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>: Sketsa Biografis<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Nama lengkap Imam&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;adalah&nbsp;<em>Muhammad b. Idris al-Abbas b. Utsman b. Shafi b. al-Saib b. \u00e2\u20ac\u02dcAbid b. \u00e2\u20ac\u02dcAbdi Yazid b. Hasyim b. al-Muthalib b. Abdi Manaf.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn3\"><strong>[3]<\/strong><\/a>&nbsp;<\/em>Ia dilahirkan di&nbsp;<em>Gazza,<sup>2&nbsp;<\/sup><\/em>Palestina pada tahun 150\/767, bersamaan dengan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah. Sedangkan meninggalnya di Mesir pada tahun 204\/819.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn4\">[4]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Beliau termasuk keturunan Quraysh dan nasabnya bertemu dengan Rasulullah saw. pada kakeknya,&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcAbd al-Manaf.&nbsp;<\/em>Karena itu ia menganggap dirinya kerabat Rasulullah.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn5\">[5]<\/a>&nbsp;Sedangkan ibunya bernama&nbsp;<em>Fatimah b. Abdullah b. al-Hasan b. Husain b. Ali b. Abi Thalib.&nbsp;<\/em>Maka dari garis keturunan ibunya ini, ia adalah cicit Ali b. Abi Thalib.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn6\">[6]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Kedua orang tuanya meninggalkan Mekah menuju Gazza, suatu tempat di Palestina, ketika ia masih dalam kandungan. Tiada berapa lama setelah tiba di Gazza, ayahnya jatuh sakit dan meninggal dunia. Beberapa bulan sepeninggal ayahnya, ia dilahirkan dalam keadaan yatim.&nbsp;<em>A1-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i&nbsp;<\/em>diasuh dan dibesarkan oleh ibunya sendiri dalam kehidupan yang sangat sederhana, bahkan banyak menderita kesulitan. Setelah&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>berumur dua tahun, ibunya membawanya pulang ke kampung halamannya, Mekah. Di sini&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;tumbuh dan dibesarkan.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn7\">[7]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam usia kanak-kanak \u00e2\u20ac\u201c lebih kurangh sembilan tahun \u00e2\u20ac\u201c&nbsp;&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>sudah hafal a1-Qur\u00e2\u20ac\u2122an di luar kepala. Ia juga menghafal&nbsp;<em>hadits<\/em>\u00e2\u20ac\u201c<em>hadits<\/em>Nabi dan mempelajari bahasa Arab. Bahkan dikatakan karena minatnya yang demikian besar pada bidang ini, ia lalu berkelana ke pelosok-pelosok pedesaan. Selama sepuluh tahun&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>hidup di tengah-tengah masyarakat desa&nbsp;<em>Hudhail&nbsp;<\/em>yang terkenal fasih dalam bahasa Arab. Barangkali hal inilah yang menyebabkan Syafi\u00e2\u20ac\u2122iahli di bidang puisi dan sastera Arab serta memiliki kemampuan yang tinggi dalam menyusun bahasa yang indah.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn8\">[8]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Bidang ini pula yang digumuli oleh&nbsp;<em>al-S yafi\u00e2\u20ac\u2122i&nbsp;<\/em>ketika di&nbsp;<em>Najran, Yaman,&nbsp;<\/em>dengan mendapat sambutan yang baik dari gubernurnya. Tetapi, gubernur ini juga yang kemudian hari menuduh&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;bersama sembilan orang lainnya sebagai kaum penentang pemerintah&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcAbbasiyah&nbsp;<\/em>dan pembela golongan&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcAlawiyyin.&nbsp;<\/em>Sembilan orang ini akhirnya dihukum mati, sedangkan Imam<em>&nbsp;al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i&nbsp;<\/em>sendiri mendapat pengampunan dari&nbsp;<em>Khalifah Harun al-Rasyid&nbsp;<\/em>lantaran khalifah sangat mengagumi ilmu dan ketangkasan&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;dalam berbicara.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn9\">[9]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><em>Al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>kembali ke Mekah dan belajar ilmu fiqh pada&nbsp;<em>Imam Muslim b. Khalid al-Zanji&nbsp;<\/em>(w. 180\/796), seorang ulama besar dan mufti Mekah, sampai memperoleh ijazah berhak mengajar dan memberi fatwa.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn10\">[10]<\/a>&nbsp;Selain itu&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;juga mempelajari berbagai cabang ilmu agama lainnya, seperti&nbsp;<em>ilmu hadits&nbsp;<\/em>dan ilmu&nbsp;<em>al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an.&nbsp;<\/em>Untuk ilmu&nbsp;<em>hadits,&nbsp;<\/em>ia berguru pada ulama&nbsp;<em>hadits<\/em>terkenal pada masa itu, yaitu lmam Sufyan b. \u00e2\u20ac\u02dcUyainah, sedang\u00c2\u00adkan untuk&nbsp;<em>ilmu al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an,&nbsp;<\/em>ia belajar kepada ulama besar Imam Ismail b. Qastantin.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn11\">[11]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah menghafal isi kitab&nbsp;<em>al-Muwatta\u00e2\u20ac\u2122, al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i&nbsp;<\/em>sangat berhasrat untuk menemui pengarangnya, Imam Malik, sekaligus memperdalam&nbsp;<em>ilmu fiqh&nbsp;<\/em>yang sangat diminatinya. Dengan meminta ijin gurunya di Mekah,&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;berangkat ke Madinah, tempat Imam Malik.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn12\">[12]<\/a>&nbsp;Setibanya di Madinah, ia lalu shalat di Masjid Nabi, menziarahi makam Nabi saw., baru kemudian menemui&nbsp;<em>lmam Malik.&nbsp;<\/em>Selama di Madinah,&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>tinggal di rumah gurunya, Imam Malik. Ia sangat dikasihi oleh gurunya dan kepadanya diserahi tugas untuk mendiktekan isi kitab al-\u00c2\u00ad<em>Muwatta&nbsp;<\/em>kepada murid-murid Imam Malik.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>merupakan profil ulama yang tidak pernah puas dalam menuntut ilmu. Semakin banyak ia menuntut ilmu, semakin dirasakannya banyak yang tidak diketahuinya. Ia pengi ke Baghdad pada tahuu 184\/800,<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn13\">[13]<\/a>&nbsp;ketika itu ia berumur 34 tahun. Baghdad ketika itu menjadi pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Penduduknya pun dari berbagai golongan yang sangat heterogen, baik dari kalangan Islam maupun non-Islam. Dari kalangan Islam terdapat golongan&nbsp;<em>Shi\u00e2\u20ac\u2122ah, Khawarij, Qadariyah, Murji \u00e2\u20ac\u02dcah, Mutakallimin&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah.&nbsp;<\/em>Sedangkan dari kalangan non-Islam terdapat golongan&nbsp;<em>Majusi, Kaum Zindiq, Shu\u00e2\u20ac\u2122ubiyun,&nbsp;<\/em>yang sangat membenci Islam.<\/p>\n\n\n\n<p>Di Baghdad ini,&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>bertemu dengan&nbsp;<em>Muhammad b. al-Hasan&nbsp;<\/em>dan menjadikannya sebagai \u00e2\u20ac\u0153kawan berdebat\u00e2\u20ac\u009d. Ia berusaha untuk memadukan antara&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcfiqh Hijaz\u00e2\u20ac\u009d&nbsp;<\/em>dan fiqh<em>&nbsp;Irak\u00e2\u20ac\u009d.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn14\"><strong>[14]<\/strong><\/a>&nbsp;<\/em>Dari Muhammad b. al-Hasan,&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;dapat berdiskusi banyak tentang&nbsp;<em>al-hadits&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>al-ra\u00e2\u20ac\u2122y.&nbsp;<\/em>Dengan tekun ia menulis hasil diskusi antara dia dan Muhammad b. al-Hasan, sehingga dari Baghdad, ia membawa kitab yang banyak. Dari sinilah, maka muncul tulisan\u00c2\u00ad-tulisan&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;yang&nbsp;<em>polemik&nbsp;<\/em>atau kritik-knitik tajam kepada Muhammad b. al-Hasan.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn15\">[15]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;<em>A1-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i&nbsp;<\/em>seringkali terlibat dalam perdebatan-perdebatan dengan Muhammad b. al-Hasan dalam banyak hal, sehingga ia menulis karya&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u0153AI-Radd \u00e2\u20ac\u02dcala Muhammad b. al-Hasan al-Shaybani\u00e2\u20ac\u009d.&nbsp;<\/em>Perbedaan pendapat tersebut, misalnya dapat dilihat dalam hal&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcsaksi\u00e2\u20ac\u009d&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u0153sumpah\u00e2\u20ac\u009d.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn16\"><strong>[16]<\/strong><\/a><\/em>Sikap&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;yang demikian ini karena Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang ahli fiqh dari Madinah dan salah satu murid Imam Malik.<\/p>\n\n\n\n<p>Di Irak,&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;juga berguru kepada Waki\u00e2\u20ac\u2122 b. al-Jarah al-Kufi, Abu Usamah Himad b. Usamah al-Kufi, Isma\u00e2\u20ac\u2122il b. \u00e2\u20ac\u02dcAtiyah al-Basri dan \u00e2\u20ac\u02dcAbd al\u00c2\u00adWaha b. \u00e2\u20ac\u02dcAbd al-Majid al-Basri.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>menyaksikan sendiri bahwa tingginya tingkat kebudayaan di Irak sebagai daerah perkotaan menyebabkan bermacam-macam problematika kehidupan dan segala keruwetannya. Para ahli fiqh seringkali tidak menemukan ketegasan jawaban dari al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an dan al-Sunnah. Keadaan ini mendorong mereka untuk melakukan ijtihad<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn17\">[17]<\/a><em>&nbsp;dan&nbsp;<\/em>menggunakan rasio.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn18\">[18]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Aktifitasnya di bidang pendidikan dimulai dengan mengajar di \u00c2\u00adMadinah ddan menjadi asisten Imam Malik. Sebagai ulama fiqh, nama&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;mulai dikenal. Murid-muridnya berdatangan dari berbagai penjuru wilayah Islam.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain sebagai ulama&nbsp;<em>fiqh,&nbsp;<\/em>Ia juga dikenal sebagai ulama&nbsp;<em>hadits<\/em><em>, tafsir,&nbsp;<\/em>bahasa dan kesusteraan Arab, ilmu falak, ilmu&nbsp;<em>usul al-fiqh&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>tarikh.&nbsp;<\/em>Di samping itu,&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;memiliki kemampuan khusus dalam ilmu&nbsp;<em>qiraah.&nbsp;<\/em>Ia sangat mahir dalam melagukan ayat-ayat al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn19\">[19]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><em>Al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>kemudian pindah ke Yaman atas undangan&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcAbdullah b. Hasan,&nbsp;<\/em>wali negeri Yaman. Di sana ia diangkat sebagai penasehat khusus dalam urusan hukum, di samping tetap melanjutkan kariernya sebagai guru. Sama seperti di Madinah, di sini pun&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;mempunyai murid banyak.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh wali negeri Yaman, a1-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i dinikahkan dengan seorang puteri bangsawan yang bernama&nbsp;<em>Hamidah binti Nafi\u00e2\u20ac\u2122<\/em>cicit \u00e2\u20ac\u02dcUthman b. \u00e2\u20ac\u02dcAffan. Perkawinannya ini dianugerahi tiga orang anak, yaitu \u00e2\u20ac\u02dcAbdullah, Fatimah dan Zainab.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada tahun 181\/797,&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>kembali mengajar ke Mekkah. Selama 17 tahundi Mekkah,&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;mengajarkan berbagai macam ilmu agama, terutama kepada para jamaah haji yang datang dari berbagai penjuru dunia Islam. Pada saat inilah&nbsp;<em>Ahmad b. Hanbal&nbsp;<\/em>(w. 24&nbsp;<em>1\/855)&nbsp;<\/em>bertemu dengan&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;bersama-sama ulama besar lainnya.Disamping mengajar, ia juga banyak menulis, terutama berkenaan dengan masalah fiqh.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn20\">[20]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Pada tahun 195\/810,&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;datang ke Baghdad untuk kedua kalinya. Ia membawa&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u0153metode baru\u00e2\u20ac\u009d&nbsp;<\/em>dalam masalah fiqh. Ia tidak lagi mengajarkan masalah-masalah cabang&nbsp;<em>(furu\u00e2\u20ac\u2122)&nbsp;<\/em>dan memberi fatwa tentang masalah-masalah yang mendetail, tetapi Ia mulai mengajarkan kaidah-kaidah umum, prinsip-prinsip dasar, di mana masalah-masalah cabang dapat ditetapkan melalui prinsip ini.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn21\">[21]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Pada tahun 198 \/813,&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>pergi lagi ke Baghdad, yaitu pada masa pemerintahan&nbsp;<em>Khalifah al-Ma\u00e2\u20ac\u2122mun&nbsp;<\/em>(198-218\/813-833). Sesampainya di sana, ia disambut oleh ulama dan pemuka Baghdad yang telah lama merindukan kedatangannya.&nbsp;<em>Al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>diberi tempat mengajar di Masjid Baghdad.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn22\">[22]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Belum cukup setahun mengajar di Baghdad,&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>diminta oleh wali negeri Mesir,&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcAbbas b. \u00e2\u20ac\u02dcAbdullah b. \u00e2\u20ac\u02dcAbbas&nbsp;<\/em>b.&nbsp;<em>Musa,&nbsp;<\/em>untuk pindah ke Mesir. Di Mesir,&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;mengajarkan ilmunya di Masjid \u00e2\u20ac\u02dcAmr bin \u00e2\u20ac\u02dcAs, dengan jumlah murid yang tidak kalah banyaknya dari tempat lain. Ia biasa mengajar mulai pagi hari sampai Zuhur. Selesai salat Zuhur, baru ia pulang ke rumah. Sedangkan pada waktu sore dan malam hari, Ia memberi pelajaran di rumah.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn23\">[23]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Di Mesir sampai meninggalnya,&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>mempergunakan sebagian besar waktunya untuk menulis buku-buku, terutama yang berkaitan dengan masalah fiqh. Bahkan ia juga merevisi buku-buku yang pernah ditulisnya. Di&nbsp;negara ini pula, ia meletakkan dasar-dasar&nbsp;<em>madzhab&nbsp;<\/em>barunya&nbsp;<em>(qaul al-jadid).&nbsp;<\/em>Masyarakat Mesir telah memberikan anugerah pertama dan pengaruh yang besar ke arah&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcposisi tengah\u00e2\u20ac\u009d&nbsp;<\/em>fiqh Syafi\u00e2\u20ac\u2122i di antara fiqh Maliki dan fiqh Hanafi.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Fiqh al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i&nbsp;<\/em>telah menjadi&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u0153madzhab baru\u00e2\u20ac\u009d&nbsp;<\/em>yang merupakan&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcsintesa\u00e2\u20ac\u009d&nbsp;<\/em>antara fiqh&nbsp;<em>ahli hadits&nbsp;<\/em>dan fiqh&nbsp;<em>ahli ra\u00e2\u20ac\u2122y,&nbsp;<\/em>yang benar-benar orisinil. Namun demikian, yang paling menentukan dalam orisinalitas&nbsp;<em>madhhab al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;ini adalah kehidupan empat tahunnya di Mesir.&nbsp;<em>Al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;meninggal di Mesir pada suatu malam di bulan Rajab tahun 204\/819, dalam usia&nbsp;<em>54&nbsp;<\/em>tahun.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn24\">[24]<\/a><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li><strong>C.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/strong><strong><em>Istihsan<\/em><\/strong><strong>: Perspektif Ulama Fiqh<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Sebagaimana telah disinggung dalam tulisan sebelumnya bahwa ulama yang menggunakan metode&nbsp;<em>istinbath<\/em>&nbsp;hukum dengan&nbsp;<em>istihsan<\/em>adalah Imam Malik dan Imam Hanafi. Artinya mazhab Malikiyah dan Hanafilah yang melakukan&nbsp;<em>istinbath<\/em>hukum dengan&nbsp;<em>istihsan<\/em><em>.&nbsp;<\/em>OIeh sebab itu, di sini akan dibahas&nbsp;<em>istihsan<\/em>&nbsp;dalam Ushul Fiqh kedua mazhab tersebut. Selanjutnya membandingkannya dengan pemahaman dan sikap&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;terhadap&nbsp;<em>istihsan<\/em><em>,&nbsp;<\/em>dimana ia merupakan salah seorang ulama yang sangat keras mengritik metode&nbsp;<em>istinbath<\/em>&nbsp;hukum tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>1.&nbsp;<em>Istihsan&nbsp;<\/em>Dalam&nbsp;<em>Ushul Fiqh&nbsp;<\/em>Maliki<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>a. Pengertian&nbsp;<em>Istihsan<\/em>: Perspektif Malikiyah<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum membahas lebih jauh tentang&nbsp;<em>istihsan<\/em>&nbsp;dalam ushul fiqh Imam Maliki, berikut ini akan dikemukakan beberapa definisi yang dikemukakan oleh ulama Maliki.<\/p>\n\n\n\n<p>Ibn al-\u00e2\u20ac\u02dcArabi \u00e2\u20ac\u201c salah seorang yang bermadzhab Maliki \u00e2\u20ac\u201c mendefiniskan&nbsp;<em>istihsan<\/em><em>&nbsp;dengan \u00e2\u20ac\u02dc<\/em>meninggalkan kehen\u00c2\u00addak dalil dengan cara pengecualian atau memberikan&nbsp;<em>rukhshah&nbsp;<\/em>karena berbeda hukumnya dalam beberapa hal\u00e2\u20ac\u2122.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn25\">[25]<\/a>&nbsp;Sedangkan da\u00c2\u00adlam kitab&nbsp;<em>Ahkam al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an,&nbsp;<\/em>Ibn al-\u00e2\u20ac\u2122Arabi menulis,&nbsp;<em>istihsan<\/em>menu\u00c2\u00adrutkami (golongan Malikiyah) dan menurut golongan Hanafiyah adalah beramal dengan salah satu dari dua dalil yang paling kuat; berpegang kepada dalil umum apabila dalil itu bisa terus berlaku dan berpegang kepada&nbsp;<em>qiyas<\/em>&nbsp;apabila&nbsp;<em>qiyas<\/em>&nbsp;itu berlaku umum. Imam Malik dan Abu Hanifah, kata Ibn al-\u00e2\u20ac\u02dcArabi, berpendapat bahwa dalil umum bisa&nbsp;<em>ditakhshish&nbsp;<\/em>(dikhususkan) dengan dalil apapun baik dengan dalil yang lahir maupun dengan makna. Malik melakukan&nbsp;<em>istihsan<\/em>dengan cara&nbsp;<em>mentakhshishkan&nbsp;<\/em>dalil umum dengan masla\u00c2\u00adhat.Sedangkan Abu Hanifah melakukan&nbsp;<em>istilhsan&nbsp;<\/em>dengan men\u00c2\u00ad<em>takhshishkan&nbsp;<\/em>dalil umum dengan pendapat salah seorang sahabat yang bertentangan dengan&nbsp;<em>qiyas<\/em>. Imam Malik dan Abu Hanifah sama-sama berpendapat boleh&nbsp;<em>mentakhshishkan&nbsp;<\/em>dan menggugur\u00c2\u00adkan \u00e2\u20ac\u02dcillat. Sedangkan menurut&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>, illat syarak apabila sudah jelas tidak boleh&nbsp;<em>ditakhshishkan.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn26\"><strong>[26]<\/strong><\/a><\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Menumt Ibn Rusyd,&nbsp;<em>istihsan<\/em>berarti meninggalkan&nbsp;<em>qiyas<\/em>&nbsp;da\u00c2\u00adlam menetapkan suatu hukum karena&nbsp;<em>qiyas<\/em>&nbsp;itu menimbulkan ke\u00c2\u00adadaan yang berlebih-lebihan dalam hukum. Pada beberapa masa\u00c2\u00adlah, penetapan hukum tidak dilakukan dengan&nbsp;<em>qiyas<\/em>, akan tetapi dialihkan dari padanya karena ada pengertian yang mempengaruhi dalam penetapan hukum yang mengkhususkan masalah tersebut.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn27\">[27]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Dari beberapa definisi di atas, maka&nbsp;<em>istihsan<\/em>&nbsp;menurut madzhab Malikiyah berarti berpegang kepada kemaslahatan khusus dalam berhadapan dengan dalil umum&nbsp;<em>(kulli).&nbsp;<\/em>Atau dengan kata lain bahwa dalam&nbsp;<em>istihsan<\/em>&nbsp;berusaha mendahulukan rnaslahat daripada&nbsp;<em>qiyas<\/em>. Dengan demikian&nbsp;<em>istihsan<\/em>bukanlah berarti menetapkan hukum sesuai dengan keinginan dan hawa nafsu semata, tetapi&nbsp;<em>istitihsan&nbsp;<\/em>merupakan cara menetapkan hukum sesuai dengan kehendak syarak yang diketahui secara utuh dalam contoh-contoh ketetapan syarak. Seperti masalah-rnasalah yang oleh&nbsp;<em>qiyas<\/em>&nbsp;dikehendaki suatu hukum, akan tetapi bila masalah itu ditetapkan hukumnya dengan&nbsp;<em>qiyas<\/em>&nbsp;akan mengakibatkan lenyapnya maslahat dari sudut lain atau mengakibatkan tirnbulnya kerusakan.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;<strong>b. Macam-macam&nbsp;<em>Istihsan<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dari definisi yang dikemukakan di atas terlihat bahwa Ibn al\u00c2\u00ad-\u00e2\u20ac\u02dcArabi memberikan pengertian yang lebih luas terhadap&nbsp;<em>istihsan<\/em>dengan memasukkan ke dalamnya berpegang kepada dalil apapun yang bertentangan dengan umum&nbsp;<em>nash<\/em>&nbsp;atau&nbsp;<em>qiyas<\/em>&nbsp;yang umum. Se\u00c2\u00adsuai dengan pengertian itu ia membagi&nbsp;<em>istihsan<\/em>kepada empat macam, yaitu:<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn28\">[28]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><em>Pertama,<\/em>&nbsp;<em>istihsan<\/em>dengan&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcurf.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn29\"><strong>[29]<\/strong><\/a>&nbsp;<\/em>Sebagaimana diakui oleh Imam Malik sendiri bahwa mazhabnya meninggaikan dalil umum karena adanya<em>\u00e2\u20ac\u02dcurf.&nbsp;&nbsp;<\/em>Atas dasar ini, maka Ia menolak sumpah karena&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcurf.&nbsp;<\/em>Kalau seseorang bersumpah tidak akan memasuki rumah, maka&nbsp;<em>qiyas<\/em>&nbsp;<em>lafzhi&nbsp;<\/em>\u00e2\u20ac\u201c&nbsp; menurut bahasa \u00e2\u20ac\u201c&nbsp; memasuki setiap tempat yang bernama rumah seperti Mesjid berarti melanggar sum\u00c2\u00adpah. Akan tetapi Malik melakukan&nbsp;<em>istihsan<\/em>dengan mentakhshishkan keumumuman lafazh dengan&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcurf&nbsp;<\/em>dan kebiasaan dalam praktek. Oleh karena itu, menurut Imam Malik, masuk Masjid tidaklah melanggar sumpah karena masjid tidak dinamakan rumah dalam \u00e2\u20ac\u02dc<em>urf&nbsp;<\/em>pembicaraan.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Kedua, istihsan&nbsp;<\/em>dengan maslahat. Meninggalkan dalil umum karena maslahat dicontohkan dengan jaminan buruh yang berserikat. Buruh yang berserikat itu pada asalnya orang yang terpercaya. Dan orang yang terpercaya tidak perlu dijamin kecuali karena telah tampak kecurangannya. Akan tetapi Malik menetapkan hukum lain dengan&nbsp;<em>istihsan<\/em>dan meninggalkan kaidah asal ini karena kurangnya tanggung jawab dan seringnya terjadi keterlaluan dan khianat pada para bunuh. Kebiasaanlah yang menyebab\u00c2\u00adkan Malik menempatkan buruh pada posisi penggugat yang tidak diterima gugatannya \u00e2\u20ac\u201d tentang adanya suatu kerusak\u00c2\u00adan&nbsp; tanpa keterangan, padahal pada asalnya pekerja adalah terdakwa (tergugat) karena lahir&nbsp;<em>nash<\/em>&nbsp;menunjukkan demikian. Dan perkataannya tentang rusak atau hilangnya suatu barang dapat diterima tanpa perlu pembuktian. Dengan demikian Malik mengharuskan adanya jaminan bagi pekerja yang berserikat telah mengecualikan kaidah asal \u00e2\u20ac\u201d dalam masalah itu \u00e2\u20ac\u201d dengan maslahat.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Ketiga, istihsan<\/em>dengan&nbsp;<em>ijma\u00e2\u20ac\u2122<\/em>. Kasus yang ketiga ini sebagaimana dicontohkan dengan kewajiban orang yang me\u00c2\u00admotong ekor keledai tunggangan&nbsp;<em>(baghlat al-qadhi)&nbsp;<\/em>untuk membayar seluruh harga keledai itu. Hukum itu dianggap pengecualian dari kaidah umum, karena kaidah umum mene\u00c2\u00adtapkan Kewajiban membayar kerugian sebesar harga yang berkurang dari benda yang rusak yang disebabkan oleh per\u00c2\u00adbuatannya. Kalau seseorang memukul binatang sampai pin\u00c2\u00adcang, kaidah umum hanya menetapkan kewajiban membayar suatu harga yang berkurang akibat pukulannya itu. Segi&nbsp;<em>istihsan<\/em>yang sandarannya&nbsp;<em>ijma\u00e2\u20ac\u2122<\/em>&nbsp;\u00e2\u20ac\u201d dari ketentuan yang mewajibkan atas orang yang memotong ekor keledai tung\u00c2\u00adgangan untuk membayar seluruh harga keledai itu adalah bahwa keledai tunggangan itu digunakan untuk kendaraan, bukan untuk kepentingan lain. Maka dengan terpotongnya ekor keledai itu akan hilanglah seluruh kemaslahatannya ditinjau dari segi penggunaan khusus ini, karena bila dihu\u00c2\u00adbungkan dengan kegunaannya, keledai itu seperti tidak ada sama sekali; terpotongnya ekor keledai itu seperti hilangnya keledai itu sendiri. Dan pembayaran kerugian merupakan satu-satunya pilihan, karena terpotongnya ekor keledai tersebut telah mengakibatkan pemiliknya teraniaya. Kemelaratan yang menimpa pemilik keledai karena terpotongnya ekor keledainya itu harus dibayar dengan harga keledai selumh\u00c2\u00adnya.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Keempat, Istihsan<\/em>dengan kaidah&nbsp;<em>raf\u00e2\u20ac\u2122 al-harj wa al-masyaqqat&nbsp;<\/em>(menolak kesukaran dan kesulitan) merupakan kaidah yang&nbsp;<em>qath\u00e2\u20ac\u2122i&nbsp;<\/em>dalam agama. Contohnya adalah meninggalkan kehendak dalil pada masa\u00c2\u00adlab kecil untuk menghilangkan kesukaran dan memberikan kelapangan kepada masyarakat. Golongan Malikiyah mem\u00c2\u00adbolehkan pemakaian kamar mandi umum tanpa ketentuan jumlah sewa, lamanya masa pemakaian, dan jumlah air yang digunakan, padahal pada asalnya yang demikian dilarang, sebab mengandung&nbsp;<em>al-gharar&nbsp;<\/em>(ketidakpastian). Dan ketidak\u00c2\u00adpastian biasanya dapat menimbulkan pertentangan. Akan tetapi mereka mengatakan, semua ini jika tidak ditentukan dengan&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcurf&nbsp;<\/em>akan mengakibatkan kemudaratan. Padahal ada kaidah fikih yang mengatakan tidak mungkin menghilangkan&nbsp;<em>al-gharar&nbsp;<\/em>secara keseluruhan, karena berarti menyempitkan lapangan muamalat. Yang mungkin dituntut adalah penyem\u00c2\u00adpumaan dan menjauhkan hal-hal yang dapat menimbulkan pertentangan, dan hal itu berarti pelengkap&nbsp;<em>(tahsiniyyat).&nbsp;<\/em>Apabila mengutamakan pelengkap itu dapat membawa kepa\u00c2\u00adda batalnya kemaslahatan yang pokok&nbsp;<em>(daruriyyat)&nbsp;<\/em>maka pelengkap ini harus digugurkan seiuruhnya.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;<strong>c. Kehujjahan&nbsp;<em>Istihsan<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebagaimana telah dijelaskan, fikih Maliki merupakan fikih yang sangat memperhatikan kaidab-kaidah umum&nbsp;<em>(al-qawaid al-ammat)&nbsp;<\/em>dan dasar-dasar yang universal&nbsp;<em>(al-ushul al-<\/em>kulliyat) karena kaidah-kaidah itu bersifat&nbsp;<em>qath\u00e2\u20ac\u2122i&nbsp;<\/em>(tegas, pasti). Dan karena dalil-dalil&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcaqli&nbsp;<\/em>(dalil-dalil yang dihasillcan oleb akal manusia) \u00e2\u20ac\u201c yang memberi faedah&nbsp;<em>qath\u00e2\u20ac\u2122i&nbsp;<\/em>\u00e2\u20ac\u201d tidak&nbsp;<em>qath\u00e2\u20ac\u2122i&nbsp;<\/em>dengan sendirinya, maka cara sampai kepada&nbsp;<em>qath\u00e2\u20ac\u2122i&nbsp;<\/em>adalah mela\u00c2\u00adlui induksi.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan demikian maka kaidah&nbsp;<em>istihsan<\/em>dalam hubungannya dengan dalil fikih merupakan suatu kaidah yang&nbsp;<em>qath\u00e2\u20ac\u2122i&nbsp;<\/em>yang diambil pengertiannya dan sejumlah dalil&nbsp;<em>nash<\/em>&nbsp;yang saling dukung mendukung kepada suatu pengertian yang memberi faedah&nbsp;<em>qath\u00e2\u20ac\u2122i.&nbsp;<\/em>Oleh karena itu kaidah&nbsp;<em>istihsan<\/em>itu merupakan kaidah umum yang ditarik secara induksi pada tingkat umum yang ditarik dali lafazh itu, diterapkan kepada setiap peristiwa yang ada relevansinya dan ditetapkan hukumnya dengan memasukkannya ke dalani kategori obyek yang umuni itu, jika peristiwa itu merupakan masalah khusus.<\/p>\n\n\n\n<p>Al-Syatibi telah mengungkapkan dalil-dalil syarak yang secara kolektif memberi faedah&nbsp;<em>qath\u00e2\u20ac\u2122i&nbsp;<\/em>yang dijadikan sebagai kaidah&nbsp;<em>istijhsan&nbsp;<\/em>yang dibenarkan oleh&nbsp;<em>a1-Syari\u00e2\u20ac\u2122.&nbsp;<\/em>&nbsp;Contoh-contoh serupa itu, menurut al-Syatibi, banyak terdapat di dalam Islam. Seperti berutang (meminjam uang), pada dasamya adalah riba, karena utang itu adalah menukar uang dengan uang sampai&nbsp;<em>ajal&nbsp;<\/em>(suatu tempo) yang disepakati bersama. Akan tetapi pinjaman itu dibo\u00c2\u00adlehkan karena bermanfaat dan dapat membantu orang yang membutuhkan. Kalau pinjam-meminjam itu tetap dilarang sesuai dengan hukum dasamya, hal itu menyusahkan umat manusia dan menghalangi asas tolong-menolong dengan cara mi.<\/p>\n\n\n\n<p>Termasuk dalam kategoni itu juga masalah melihat aurat untuk kepentingan pengobatan, masaiah&nbsp;<em>qirad&nbsp;<\/em>(membeni modal kepada orang lain untuk diperdagangkan dengan perjanjian bagi hasil),&nbsp;<em>musiaqat&nbsp;<\/em>(sistem bagi hasil berkebun), dan&nbsp;<em>salm&nbsp;<\/em>(jual-beli pesanan).<\/p>\n\n\n\n<p>Semua itu menurut al-Syatibi menjadi semacam dalil yang menunjukkan keabsahan berpendapat dengan kaidah ini, dan dasar itulali yang dijadikan pegangan oleh Malik dan sahabat\u00c2\u00adsahabatnya<\/p>\n\n\n\n<p>Dalil itu, menurut al-Syatibi, diambil dan&nbsp;<em>nash<\/em>\u00e2\u20ac\u201c<em>nash<\/em>&nbsp;al-Quran dan sunnah yang secara kolektif memberi kesimpulan bahwa al-Syari\u00e2\u20ac\u2122 membenarkan pemakaian kaidah&nbsp;<em>istihsan<\/em>dan cabang hukum-\u00c2\u00adhukum yang didasarkan pada kaidah itu. Pada dalil-dalil yang terdahulu didapati bahwa dalam pinjam meminjam,&nbsp;<em>qirad,&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>musaqat&nbsp;<\/em>ada&nbsp;<em>takhshish&nbsp;<\/em>(pengkhususan) terhadap dalil umum yang menghalangi tercapainya maslahat&nbsp;<em>juz\u00e2\u20ac\u2122i,&nbsp;<\/em>yaitu menghilangkan kesukaran dan kesulitan. Tegasnya pada hal-hal di atas, dalil umum&nbsp;<em>ditakhshishkan&nbsp;<\/em>untuk mencapai maslahat juz\u00e2\u20ac\u2122i, yaitu meng\u00c2\u00adhilangkan kesukaran dan kesulitan, artinya untuk menghilangkan kesukaran dan kesulitan yang merupakan maslahat&nbsp;<em>juz\u00e2\u20ac\u2122i&nbsp;<\/em>maka perbuatan-perbuatan itu dibolehkan dengan mentakhshishkan dalil umum.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn30\">[30]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Dengan demikian, maslahat itu merupakan kaidah&nbsp;<em>istihsan<\/em>yang dihasilkan secara induktif yang dari segi kekuatan&nbsp;<em>istidal&nbsp;<\/em>(pembuktian) dengannya dapat mengganti kedudukan dalil umum yang diambil dari suatu lafazh. Dalil umum yang dihasilkan secara induktif itu diterapkan kepada setiap masalah cabang yang tidak dijelaskan hukumnya oleh&nbsp;<em>nash<\/em>, karena dalil umum itu dapat me\u00c2\u00adrealisasi kemaslahatan umum. Dalam hal ini al-Syatibi berkata:<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Apabila mujtahid menarik kesimpulan secara induksi dari dalil-\u00c2\u00addalil khusus dan menggeneralisasinya, maka setelah itu ia tidak membutuhkan lagi dalil khusus terhadap suatu penistiwa, akan tetapi kesimpulan itu dapat diterapkan kepadanya jika peristiwa itu secara khusus masuk dalam pengertian umum hasil induksi tanpa perlu pembenaran dengan&nbsp;<em>qiyas<\/em>&nbsp;atau dalil lainnya. Karena induksi dari umum makna sama dengan daiil yang di<em>nash<\/em>kan dengan lafazh yang umum. Kalau sudah demikian, maka untuk apa lagi mencari lafazh yang khusus.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn31\">[31]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Dengan demikian jelaslah bahwa beramal dengan kaidah&nbsp;<em>istihsan<\/em>itu berarti beramal dengan&nbsp;<em>nash<\/em>\u00e2\u20ac\u201c<em>nash<\/em>&nbsp;syarak yang dihasilkan secara induktif. Dan seorang mujtahid apabila&nbsp;<em>mentakhshishkan&nbsp;<\/em>umum&nbsp;<em>nash<\/em>&nbsp;dengan maslahat atau mengutamakan maslahat atas&nbsp;<em>qiyas<\/em>, itu tidak lain daripada menerapkan&nbsp;<em>nash<\/em>\u00e2\u20ac\u201c<em>nash<\/em>&nbsp;syaniat yang menjadikan&nbsp;<em>takhshish&nbsp;<\/em>atau pengutamaan itu sebagai suatu kaidah yang dibenarkan oleh&nbsp;<em>al-syari\u00e2\u20ac\u2122&nbsp;<\/em>dan menetapkan hukum-hukum cabang sesuai dengan kaidah itu dan menjadikan pegangan dalam pembuatan perundang-undangan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>2.&nbsp;<em>Istihsan&nbsp;<\/em>Dalam&nbsp;<em>Ushul Fiqh&nbsp;<\/em>Hanafi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>a. Pengertian&nbsp;<em>Istihsan<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><em>Istihsan<\/em>&nbsp;yang merupakan metode&nbsp;<em>istinbath<\/em>&nbsp;hukum yang ditawarkan oleh Imam Abu Hanifah, nampaknya juga tidak banyak dijelaskan oleh Abu Hanifah sendiri. Oleh karena itu, tidak mengeherankan jika akhirnya Imam&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;mengkritik habis-habisan terhadap metode ini. Metode ini, oleh banyak orang dikatakan sebagai cara menetapkan hukum menurut keinginannya saja tanpa memakai metode. Asal sudah dipandang baik sudah bisa menjadi dasar penetapan hukum, karena demikianlah arti yang ditunjukkan oleh kata&nbsp;<em>istihsan&nbsp;<\/em>itu. Banyak fuqaha yang tidak mengetahui hakikat&nbsp;<em>istihsan<\/em>yang dipraktekkan oleh Abu Hanifah, dan karena itu, menurut Husain Hamid Hassan, berpegangnya Abu Hanifah kepada&nbsp;<em>istihsan<\/em>menjadi sumber kritikan terhadapnya, bahkan sampai kepada mencelanya sebagai orang yang tidak mengerti fikih dan meragukan kewarakannya.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn32\">[32]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Dari beberapa kritikan yang muncul, lalu para sahabat dan juga murid-muridnya berusaha menjelaskan pengertian dan rumusan&nbsp;<em>istihsan<\/em>yang banyak dilakukan oleh Imam mereka. Mereka berusaha menjelaskan bahwa sesungguhnya&nbsp;<em>istihsan<\/em>itu tidak keluar dari dalil-dalil syarak.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut al-Karkhi \u00e2\u20ac\u201c seorang ulama Hanafi terkemuka \u00e2\u20ac\u201c bahwa yang dimaksud dengan&nbsp;<em>istihsan<\/em>adalah berpalingnya seorang mujtahid dari suatu hukum pada suatu masalah dari yang sebandingnya kepada hukum yang lain, karena ada suatu pertimbangan yang lebih utama yang menghendaki perpaiingan.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn33\">[33]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Abu Zahrah<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn34\">[34]<\/a>&nbsp;bahwa pengertian yang dikemukakan oleh al-Karkhi di atas sebagai suatu definisi yang paling jelas menggambarkan hakikat&nbsp;<em>istihsan<\/em>golongan Hanafiah. Karena definisi ini mencakup semua jenis&nbsp;<em>istihsan<\/em>dan menunjukkan kepada asas serta isinya, sebab asas&nbsp;<em>istihsan<\/em>itu adalah penetapan hukum yang berbeda dengan kaidah umum, karena ada sesuatu yang menjadikan keluar dari kaidah umum itu dapat menghasilkan ketentuan hukum yang lebih sesuai dengan kehendak syarak daripada tetap berpegang kepada kaidah itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Maka berpegang pada&nbsp;<em>istihsan<\/em>merupakan cara penetapan hukum yang lebih kuat dalam masalah tersebut dari pada berpegang kepada&nbsp;<em>qiyas<\/em>. Definisi al-Karkhi itu juga meng\u00c2\u00adgambarkan bahwa&nbsp;<em>istihsan<\/em>itu bagaimanapun bentuk dan macam\u00c2\u00adnya secara relatif merupakan cara beramal dengan masalah&nbsp;<em>juz\u00e2\u20ac\u2122 iyyat&nbsp;<\/em>dalam berhadapan dengan kaidah&nbsp;<em>kulliyyat.<\/em>Maka seorang fakih menempuh cara&nbsp;<em>istihsan<\/em>dalam masalab j<em>uz\u00e2\u20ac\u2122iyyat&nbsp;<\/em>ini supaya tidak tenggelam dalam ketentuan&nbsp;<em>qiyas<\/em>&nbsp;yang pada satu kali menghasilkan ketentuan hukum yang kurang sesuai dengan jiwa dan&nbsp;<em>maqashid syari\u00e2\u20ac\u2122at.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>b. Macam-Macam&nbsp;<em>Istihsan<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Menumt al-Taftazani bahwa&nbsp;&nbsp;<em>istihsan<\/em>dalam fikih Hanafi dibagi kepada empat macam, yaitu (1)&nbsp;<em>istihsan<\/em>dengan&nbsp;<em>nash<\/em>, (2)&nbsp;<em>istihsan<\/em>dengan&nbsp;<em>ijma\u00e2\u20ac\u2122<\/em>, (3)&nbsp;<em>istihsan<\/em>dengan darurat, dan (4)&nbsp;<em>istihsan<\/em>dengan&nbsp;<em>qiyas<\/em>&nbsp;<em>khafi.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn35\"><strong>[35]<\/strong><\/a>&nbsp;<\/em>Sementara itu, Muham\u00c2\u00admad al-Said Ali Abd. Rabuh<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn36\">[36]<\/a>&nbsp;menjelaskan bahwa&nbsp;<em>istihsan<\/em><em>&nbsp;dalam madzhab Hanafi&nbsp;<\/em>dibagi kepada lima macam, (1)&nbsp;<em>istihsan<\/em>&nbsp;dengan nash; (2)&nbsp;<em>istihsan<\/em>&nbsp;dengan&nbsp;<em>ijma\u00e2\u20ac\u2122<\/em>, (3)&nbsp;<em>istihsan<\/em>&nbsp;dengan darurat dan hajat; (4)&nbsp;<em>istihsan<\/em>&nbsp;dengan urf, dan (5)&nbsp;<em>istihsan<\/em>&nbsp;dengan qiyas khafi. Adapun penjelasannya sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<p><em>Pertama<\/em>,&nbsp;<em>istihsan<\/em>&nbsp;dengan<em>&nbsp;Nash.&nbsp;<\/em>Yang dimaksud dengan&nbsp;<em>istihsan<\/em>jenis ini ialah penyimpangan suatu ketentuan hukum berdasarkan ketetapan&nbsp;<em>qiyas&nbsp;<\/em>kepada ketentuan hukum yang berlawanan dengan yang ditetapkan bendasarkan nash al-Kitab dan Sunnah.&nbsp;<em>Istihsan<\/em>jenis mi, sering ditemui dalam beberapa masalah yang bersum\u00c2\u00adber dari nash yang sudah pasti berlawanan dengan ketentuan hukum yang umum atau kaidah yang sudah berlaku.<\/p>\n\n\n\n<p>Contoh yang sering dirujuk untuk&nbsp;<em>istihsan<\/em>jenis ini ialah, tentang jual-beli&nbsp;saham.Dalam&nbsp;jual-beli saham untuk kegiatannya adalah barang atau benda yang dijual-belikan itu sebetulnya belum ada, tetapi harganya sudah ditetapkan dan dibayar lebih dahulu sesuai dengan perjanjian antara pihak pemesan (pembeli) dengan penjual (pembuat barang). Jual-beli seperti ini sering juga disebut dengan istilah&nbsp;<em>bai\u00e2\u20ac\u2122 al-ma\u00e2\u20ac\u2122dum<\/em>. Jika dilihat dari ketentuan jual-beli tidak memenuhi persyaratan, karena salah satu syarat sahnya jual-beli ialah benda yang dipesan (diperjual-belikan) harus ada. Karena dalam satu&nbsp;<em>Hadits<\/em>&nbsp;ada larangan jual-beli benda atau barang yang sebetulnya wujudnya belum&nbsp;ada.Akan&nbsp;tetapi, larangan tensebut dikecualikan berdasarkan&nbsp;<em>istihsan<\/em><em>,&nbsp;<\/em>karena ada nash khusus yang membolehkannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Diriwayatkan bahwa ketika Nabi datang ke Madinah, beliau melihat penduduk Madinah biasa melakukan jual-beli buah-buahan yang belum jelas wujudnya, satu tahun sampai dua tahun. Melihat jual-beli seperti ini Nabi mengatakan \u00e2\u20ac\u0153barangsiapa yang melakukan jual-beli seperti ini lakukanlah dengan ketentuan yang sudah diketahui dan masa yang sudah diketahui pula\u00e2\u20ac\u009d.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Kedua, istihsan<\/em>dengan&nbsp;<em>ijma\u00e2\u20ac\u2122<\/em><em>.&nbsp;<\/em>Yang dimaksud dengan&nbsp;<em>istihsan<\/em>jenis ini ialah meninggalkan keharusan menggunakan&nbsp;<em>qiyas&nbsp;<\/em>pada suatu persoalan karena ada&nbsp;<em>ijma\u00e2\u20ac\u2122<\/em><em>.&nbsp;<\/em>Hal ini terjadi karena adanya fatwa mujtahid atas suatu penistiwa yang berlawanan dengan pokok atau kaidah umum yang telah ditetapkan, atau para mujta\u00c2\u00adhid bersikap diam dan tidak menolak apa yang dilakukan oleh manusia (masyarakat), yang sebetulnya berlawanan dengan dasar-dasar pokok yang telah ditetapkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai contoh&nbsp;<em>istihsan<\/em>jenis ini ialah pesanan seseorang kepada orang lain untuk dibuatkan sesuatu barang. Transaksi seperti ini disebut dengan&nbsp;<em>aqd al-istishna.&nbsp;<\/em>Transaksi seperti ini ialah seseorang meminta kepada seseorang tukang untuk dibuatkan sesuatu barang tertentu, dengan syarat-syarat tertentu&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u201c&nbsp;<\/em>yang sebetulnya tidak boleh dilakukan, karena ketika berlangsungnya transaksi tersebut, barang pesanan itu belum ada wujudnya&nbsp;<em>(ma\u00e2\u20ac\u02dcdum),&nbsp;<\/em>sementara transaksi atas barang yang belum ada wujudnya tidak dibolehkan. Akan tetapi, ber\u00c2\u00addasarkan&nbsp;<em>istihsan<\/em><em>,&nbsp;<\/em>transaksi (akad) seperti ini dibolehkan meskipun berlawanan dengan ketentuan&nbsp;<em>qiyas,&nbsp;<\/em>karena hal seperti ini dalam praktik (muamalah) masyarakat telah berjalan tanpa ada penolakannya dari ahli ijtihad (<em>mujtahid<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p><em>Ketiga, istihsan&nbsp;<\/em>dengan&nbsp;<em>darurat&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>hajat.&nbsp;<\/em>Yang dimaksud dengan&nbsp;<em>istihsan<\/em>jenis ini ialah seorang mujtahid mening\u00c2\u00adgalkan keharusan pemberlakuan&nbsp;<em>qiyas&nbsp;<\/em>atas sesuatu masalah karena her\u00c2\u00adhadapan dengan kondisi darurat, dan mujtahid berpegang kepada ketentuan yang mengharuskan untuk memenuhi hajat atau menolak terjadinya kemudaratan.Dengan kata lain, karena adanya persoalan yang bersifat darurat dan menjadi hajat orang banyak, maka penetapan yang semestinya didasarkan pada&nbsp;<em>qiyas&nbsp;<\/em>terpaksa ditinggalkan. Sebagai contoh, air sumber atau kolam yang terkena najis. Berdasankan kaidah umum bahwa sumur atau kolam yang terkena najis itu tidak boleh digunakan. Akan tetapi, karena kondisi darurat yang menghendakinya dan air itu sangat dibutuhkan, maka dalam kondisi seperti ini dibolehkan, meskipun berlawanan dengan kaidah umum atau adanya dalih yang melarangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut kalangan Mazhab Hanafi<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn37\">[37]<\/a>untuk menghi\u00c2\u00adlangkan najis itu cukup dengan memasukkan beberapa galon air ke dalam kolam atau sumur tersebut \u00e2\u20ac\u201c karena kondisi darurat yang dihadapi \u00e2\u20ac\u201c agar orang tidak menemukan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan terhadap air.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Keempat, istihsan&nbsp;<\/em>dengan&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcurf&nbsp;<\/em>dan adat. Yang dimaksud dengan&nbsp;<em>istihsan<\/em>jenis ini ialah penyimpangan atau pe\u00c2\u00admalingan penetapan hukum yang berlainan (berlawanan) dengan keten\u00c2\u00adtuan&nbsp;<em>qiyas,&nbsp;<\/em>karena adanya&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcurf&nbsp;<\/em>yang sudah biasa dipraktikkan dan sudah dikenal dalam kehidupan masyarakat.&nbsp;<em>Istihsan<\/em>jenis ini sangat banyak digunakan dalam berbagai tasaruf masyarakat yang menyalahi ketentuan&nbsp;<em>qiyas&nbsp;<\/em>atau kaidah umum yang berlaku. Sebagai contoh dapat dike\u00c2\u00admukakan tentang menyewa wanita untuk menyusukan bayi dengan men\u00c2\u00adjamin kebutuhan makan-minum dan pakaiannya. Menurut Imam Abu Hanifah,menyewa atau mengupah wanita untuk menyusukan bayi dengan upah yang sudah diketahui adalah boleh berdasarkan kesepakatan dan membolehkan pemenuhan kebutuhan makan minum dan pakaian tersebut, mempakan&nbsp;<em>istihsan<\/em>menurut pandangan Abu Hanifah.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Kelima, istihsan<\/em>dengan&nbsp;<em>qiyas Khafi.&nbsp;<\/em>Yang dimaksud dengan&nbsp;<em>istihsan<\/em>jenis ini ialah memalingkan suatu masalah dari ketentuan hukum&nbsp;<em>qiyas&nbsp;<\/em>yang jelas kepada ketentuan hukum&nbsp;<em>qiyas&nbsp;<\/em>yang sama-samar dan tidak jelas, tetapi keberadaannya lebih kuat dan lebih tepat untuk diamalkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai contoh ialah tentang aurat wanita. Sesungguhnya aurat wanita itu ialah mulai dari ujung kepala sampai kepada kedua ujung kakinya, kemudian dibolehkan bagian tubuh\u00c2\u00adnya sekedar dibutuhkan; seperti melihat kebaikannya. Hal seperti ini terdapat perlawanan antara dua&nbsp;<em>qiyas; pertama&nbsp;<\/em>ditetapkan ber\u00c2\u00addasarkan kaidah yang jelas tentang keadaan wanita melihatnya bisa menimbulkan fitnah;&nbsp;<em>kedua&nbsp;<\/em>adanya suatu keadaan yang menim\u00c2\u00adbulkan&nbsp;<em>masyaqqah&nbsp;<\/em>(keadaan yang mendesak) dalam beberapa keadaan seperti pengobatan ketika tidak ada wanita yang khusus untuk itu, maka digunakanlah&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcillat&nbsp;<\/em>(alasan) yang membawa kepada kemudaratan pada bagian ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Berdasarkan pandangan yang berkembang dalam mazhab Hanafi, bahwa kasus yang disebut terakinr ini menunjukkan justru lebih penting&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u201c&nbsp;<\/em>meskipun keadaannya samar- samar dan berlawanan dengan&nbsp;<em>qiyas zahir,&nbsp;<\/em>tetapi&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcillatnya&nbsp;<\/em>lebih kuat dan lebih besar pengaruhnya -karena kebutuhan yang tidak bisa dielakkan.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;<strong>c. Kehujjahan&nbsp;<em>Istihsan<\/em><\/strong><strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Menurut golongan Hanafiah,&nbsp;<em>istihsan<\/em>itu bisa menjadi dalil syarak.&nbsp;<em>Istihsan<\/em>dapat menetapkan hukum yang berbeda dengan hukum yang ditetapkan oleh&nbsp;<em>qiyas<\/em>&nbsp;atau umum nash. Tegasnya menurut mereka,&nbsp;<em>istihsain&nbsp;<\/em>dapat dijadikan dalil&nbsp;<em>(hujjah).<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn38\"><strong>[38]<\/strong><\/a><\/em>Al-Taftazani mengatakan bahwa&nbsp;<em>istihsan<\/em>adalah salah satu dari dalil-\u00c2\u00addalil yang disepakati oleh para ulama, karena&nbsp;<em>istihsan<\/em>didasarkan kepada&nbsp;<em>nash<\/em>, atau kepada&nbsp;<em>ijma\u00e2\u20ac\u2122<\/em>, atau kepada darurat, atau kepada&nbsp;<em>qiyas<\/em>&nbsp;<em>khafi.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn39\"><strong>[39]<\/strong><\/a><\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Untuk mendukung kehujjahan&nbsp;<em>istihsan<\/em><em>,&nbsp;<\/em>golongan Hanafiah mengemukakan alasan atau dalil dari al-Quran, sunnah, dan&nbsp;<em>ijma\u00e2\u20ac\u2122<\/em>. Dalil dari al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an yang mereka kemukakan adalah:<\/p>\n\n\n\n<p>1. Surat al-Zumar (39): 18 yang berbunyi:<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Surat al-Zumar (39):&nbsp;<em>55&nbsp;<\/em>yang berbunyi:<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya<\/p>\n\n\n\n<p>Ayat&nbsp;<em>pertama,&nbsp;<\/em>menurut mereka, memuji orang-orang yang mengikuti pendapat yang paling baik. Sedangkan ayat&nbsp;<em>kedua&nbsp;<\/em>memerintahkan untuk mengikuti yang paling baik dari apa yang diturunkan Allah.<\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan sunnah yang mereka jadikan dalil adalah hadits Rasulullah yang berbunyi:&nbsp; \u00e2\u20ac\u0153<em>Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, maka hal itu juga baik di sisi Allah<\/em>.\u00e2\u20ac\u009d (Ahmad ibn Hanbal)<\/p>\n\n\n\n<p>Adapun&nbsp;<em>ijma\u00e2\u20ac\u2122<\/em>&nbsp;yang mereka jadikan alasan adalah&nbsp;<em>ijma\u00e2\u20ac\u2122<\/em>&nbsp;ulama terhadap masalah pemakaian kamar mandi umum tanpa disebutkan lamanya masa pemakaian dan banyaknya air yang digunakan.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn40\">[40]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Husain Hamid Hassan<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn41\">[41]<\/a>&nbsp;ketika mengomentari tentang boleh dan tidaknya metode&nbsp;<em>istihsan<\/em>&nbsp;sebagai&nbsp;<em>istinbath<\/em>&nbsp;hukum, maka&nbsp;<em>istihsan<\/em>golongan Hanafiah \u00e2\u20ac\u201c demikian juga&nbsp;<em>istihsan<\/em>golongan Malikiah \u00e2\u20ac\u201c bukanlah merupakan pendapat yang didasarkan pada&nbsp;<em>ra\u00e2\u20ac\u2122y&nbsp;<\/em>atau membuat syari\u00e2\u20ac\u2122at berdasarkan hawa nafsu. Menurutnya, orang yang menetapkan hukum dengan&nbsp;<em>istihsan<\/em><em>&nbsp;(mustahsin)&nbsp;<\/em>tidak hanya mendasarkan&nbsp;<em>istihsan<\/em><em>nnya&nbsp;<\/em>kepa\u00c2\u00adda perasaan dan hawa nafsunya atau membuat syari\u00e2\u20ac\u2122at yang sesuai dengan keinginannya, tetapi&nbsp;<em>mustahsin&nbsp;<\/em>hanyalah mening\u00c2\u00adgalkan kaidah umum atau&nbsp;<em>qiyas<\/em>, karena \u00e2\u20ac\u02dcillat kaidah itu atau illat&nbsp;<em>qiyas<\/em>&nbsp;itu tidak terwujud dalam masalah tersebut. Cara berdalil yang demikian diterima oleh semua pihak dan tidak ada yang mempen\u00c2\u00adtentangkannya. Demikian juga tidak ada yang mempertentang\u00c2\u00adkannya dalam hal&nbsp;<em>istihsan<\/em>itu keluar dari kaidah umum atau&nbsp;<em>qiyas<\/em>&nbsp;yang berhaku umum.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan demikian, menurutnya lebih lanjut, jika&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;kemudian menentang dengan keras metode&nbsp;<em>istihsan<\/em><em>,&nbsp;<\/em>yang menurutnya sebagai metode&nbsp;<em>istinbath<\/em>&nbsp;untuk mencari enaknya saja dan menetapkan hukum secara sembarangan tanpa&nbsp;<em>nash<\/em>&nbsp;atau tanpa dasar yang bisa dipertanggungkan kepada&nbsp;<em>nash<\/em>, maka dapat dipastikan bahwa&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;tidak mencela&nbsp;<em>istihsan<\/em>Abu Hanifah selama&nbsp;<em>istihsan<\/em>itu berdasarkan kepada&nbsp;<em>nash<\/em>&nbsp;atau&nbsp;<em>ijma\u00e2\u20ac\u2122<\/em>&nbsp;atau&nbsp;<em>qiyas<\/em>&nbsp;yang paling kuat atau kemaslahatan yang pokok yang mencapai tingkat darurat. Yang dicela&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;adalah praktek ahli Irak pada masa itu yang dengan seenaknya saja menetapkan hukum dengan menggunakan kedok&nbsp;<em>istihsan<\/em><em>.&nbsp;<\/em>Sebagaimana dike\u00c2\u00adtahui,&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;membatasi dalil-dalil syarak kepada&nbsp;<em>nash<\/em>,&nbsp;<em>ijma\u00e2\u20ac\u2122<\/em>, dan&nbsp;<em>qiyas<\/em>&nbsp;serta ia memasukkan kemaslahatan-kemaslahatan umum dalam bab&nbsp;<em>qiyas<\/em>, yang oleh salah seorang pengikutnya kemudian dinamakan dengan&nbsp;<em>qiyas<\/em>&nbsp;makna.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi jelaslah bahwa&nbsp;<em>istihsan<\/em>dapat dijadikan sebagai dalil syarak, karena&nbsp;<em>istihsan<\/em>&nbsp;bukan menetapkan hukum dengan&nbsp;<em>ra\u00e2\u20ac\u2122y&nbsp;<\/em>semata, tetapi&nbsp;<em>istihsan<\/em>&nbsp;mempakan suatu cara&nbsp;<em>istinbath<\/em>hukum yang dapat dipetanggungjawabkan karena didasarkan kepada sandaran&nbsp;<em>(sanad)&nbsp;<\/em>yang kuat.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;<strong>3.&nbsp;<em>Istihsan<\/em>&nbsp;dalam Ushul Fiqh&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa Imam&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;merupakan salah seorang ulama yang menetang dengan keras&nbsp;<em>istihsan<\/em>&nbsp;sebagai metode dalam ber<em>istinbath<\/em>&nbsp;hukum. Penolakannya itu tercermin dari perkataanya \u00e2\u20ac\u02dc<em>man istahsana faqad syara\u00e2\u20ac\u2122a<\/em>\u00e2\u20ac\u2122 (barang siapa yang menggunakan&nbsp;<em>istihsan<\/em>&nbsp;maka sesungguhnya ia telah membuat hukum).<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn42\">[42]<\/a>&nbsp;Bahkan dalam kitab \u00e2\u20ac\u02dc<em>Risalah<\/em>\u00e2\u20ac\u2122-nya, beliau menyatakan dengan tegas sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Tidak seorang pun berhak selain Rasulullah menetapkan sesuatu hukutn tanpa alasan (dalil) dan tidak seorang pun pantas menetapkan ber\u00c2\u00addasarkan apa yang dianggap baik (<em>istihsan<\/em>). Sesungguhnya menetapkan hukum dengan&nbsp;<em>istihsan<\/em>adalah membuat ketentuan baru yang tidak mempedo\u00c2\u00admani ketentuan yang telah digariskan sebelumnya.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn43\">[43]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Dari perkataan&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;di atas, dapat disimpul\u00c2\u00adkan bahwa yang dimaksud dengan&nbsp;<em>istihsan<\/em>&nbsp;adalah pendapat yang tidak bersandarkan kepada keterangan&nbsp;<em>(al-khabar)&nbsp;<\/em>dari salah satu empat dalil syarak, yaitu al-Quran, sunnah,&nbsp;<em>ijma\u00e2\u20ac\u2122<\/em>, dan qiyas. Apabila seorang mujtahid memfatwakan suatu hukum dan hukum itu tidak diambil dari&nbsp;<em>al-khabar&nbsp;<\/em>itu secara lafal dan juga tidak diambil dari logikanya secara&nbsp;<em>qiyas<\/em>, serta tidak ada&nbsp;<em>ijma\u00e2\u20ac\u2122<\/em>&nbsp;pada hukum tersebut, maka fatwa itu dinamakan&nbsp;<em>istihsan<\/em><em>,&nbsp;<\/em>karena tidak bersandarkan kepada&nbsp;<em>al-khabar&nbsp;<\/em>baik secara (langsung kepada)&nbsp;<em>nash<\/em>&nbsp;maupun secara&nbsp;<em>istinbizth.&nbsp;<\/em>Fatwa itu hanya dianggap baik oleh mujtahid itu dengan akalnya dan dengan kecenderungan perasaannya, tanpa berdalil kepada suatu&nbsp;<em>aI-khabar&nbsp;<\/em>dan tanpa mempertanggungkan kepada&nbsp;<em>al-khabar&nbsp;<\/em>itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>,<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn44\">[44]<\/a>&nbsp;haram bagi seseorang yang berpendapat dengan&nbsp;<em>istihsan<\/em><em>,&nbsp;<\/em>apabila&nbsp;<em>istihsan<\/em>itu bertentangan dengan&nbsp;<em>al-\u00c2\u00adkhabar.&nbsp;<\/em>Sedang,&nbsp;<em>al-khabar \u00e2\u20ac\u201c&nbsp;<\/em>yang terdiri atas Kitab dan sunnah \u00e2\u20ac\u201c adalah sesuatu yang berharga yang diteliti maknanya oleh mujta\u00c2\u00adhid untuk memperoleh pengertiannya yang benar. Mujtahid itu bisa memahami&nbsp;<em>al-khabar&nbsp;<\/em>dengan&nbsp;<em>qiyas<\/em>&nbsp;dan seorang pun tidak boleh mengemukakan pendapat kecuali&nbsp;<em>dari<\/em>&nbsp;segi ijtihad. Dan ijtihad adalab upaya mencari kebenaran. Maka dengan demikian tidak boleh seseorang mengatakan, aku menganggap baik, tanpa melakukan&nbsp;<em>qiyas<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Seandainya, qiyas boleh diingkari, maka boleh juga bagi orang yang bukan ahli ilmu berpendapat dengan sesuatu yang tidak ada&nbsp;<em>nash<\/em>&nbsp;dengan&nbsp;<em>istihsan<\/em>yang mereka gunakan. Pada\u00c2\u00adhal sebenarnya pendapat yang tidak berdasarkan kepada&nbsp;<em>al-kha\u00c2\u00adbar&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>qiyas<\/em>&nbsp;tidak sah karena tidak bersumber kepada al-Quran, sunnab, dan&nbsp;<em>qiyas<\/em>. Banyak&nbsp;<em>nash<\/em>, baik a1-Quran maupun hadits yang melarang berpen\u00c2\u00addapat yang tidak disandarkan kepada&nbsp;<em>al-khabar.&nbsp;<\/em>Karena sesung\u00c2\u00adguhnya apabila Nabi SAW menyuruh melakukan ijtihad, maka ijtihad selalu berdasarkan suatu tuntutan. Dan menuntut sesuatu harus berdasarkan dalil-dalil, sedangkan dalil-dalil itu adalah&nbsp;<em>qiyas<\/em>. Sedangkan dalam&nbsp;<em>istihsan<\/em>tidak terdapat&nbsp;<em>qiyas<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Selanjutnya&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>memberikan contoh dengan mengatakan, bahwa seseorang yang tidak mengerti masalah harga seorang budak, maka tidak boleh dimintakan menetapkan harga seorang budak laki-laki atau harga seorang budak perempuan. Demikian juga kepada orang yang tidak mengerti masalah upah pekerja tidak boleh dimintakan menetapkan upah pekerja. Sebab, apabila ia menetapkan harga budak tidak sesuai dengan&nbsp;<em>dalalat&nbsp;<\/em>(petunjuk) harganya atau menetapkan upah pekerja tidak sesuai dengan&nbsp;<em>dalalat&nbsp;<\/em>upahnya, berarti ia bentindak sembarangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, menurutnya lebih lanjut, menyimpulkan hal-hal yang kecil seperti itu saja tidak boleh dilakukan dengan sembarangan, apalagi masalah halal dan haram \u00e2\u20ac\u201c&nbsp; yang merupakan ketentuan Allah \u00e2\u20ac\u201c maka tidak boleh ditetapkan secara sembarangan dan secara&nbsp;<em>istihsan<\/em><em>.&nbsp;<\/em>Yang demikian, tidak lain daripada mencari enaknya saja&nbsp;<em>(talazzuz).<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Dengan demikian, maka selain Rasulullah tidak ada seorang pun yang berhak mengemukakan pendapat kecuali berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan di atas. Orang tidak boleh berpendapat dengan \u00e2\u20ac\u0153apa yang dianggapnya baik\u00e2\u20ac\u009d, karena pendapat dengan apa yang dianggapnya baik\u00e2\u20ac\u009d adalah sesuatu yang dibuat-buatnya bukan berdasarkan tradisi atau contoh yang telah ada.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn45\">[45]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Dari uraian di atas jelaslah bahwa&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;menghubungkan&nbsp;<em>istihsan<\/em>dengan semua fatwa yang tidak disandarkan kepada&nbsp;<em>al-khabar,&nbsp;<\/em>baik secara langsung kepada&nbsp;<em>nash<\/em>&nbsp;maupun dengan cara menghubungkan kepada&nbsp;<em>nash<\/em>&nbsp;dengan cara&nbsp;<em>qiyas<\/em>. Atau denagn kata lain bahwa&nbsp;<em>istihsan<\/em>&nbsp;merupakan metode&nbsp;<em>istinbath<\/em>&nbsp;hukum yang tidak berdasarkan kepada al-Quran atau sunnah atau&nbsp;<em>ijma\u00e2\u20ac\u2122<\/em>&nbsp;atauatau&nbsp;<em>qiyas<\/em>. Dengan demikian, maka tidak mengherankan kalau&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;menolak&nbsp;<em>istihsan<\/em>sebagai dalil syarak dan Ia mengeritik keras&nbsp;<em>istihsan<\/em>tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Berkaitan dengan penolaknnya terhadap&nbsp;<em>istihsan<\/em>&nbsp;ini, beliau mengemukakan beberapa dalil (argumen), sebagaimana tercermin dalam kitabnya&nbsp;<em>al-Risalah&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>al-Umm<\/em>. Ia mengemukakan dalil-dalil dari al-Quran dan hadits, di antaranya:<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn46\">[46]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>a. Surat al-Maidah (5): 3 yang berbunyi:<\/p>\n\n\n\n<p>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.<\/p>\n\n\n\n<p>b. Surat al-Qiyamah (75): 36 yang berbunyi:<\/p>\n\n\n\n<p>Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?<\/p>\n\n\n\n<p>c. Surat al-Nahl (16): 89 yang berbunyi:<\/p>\n\n\n\n<p>Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta nahmat.<\/p>\n\n\n\n<p>d. Surat al-An\u00e2\u20ac\u2122am (6): 38 yang berbunyi:<\/p>\n\n\n\n<p>Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam al-Kitab.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;e. Surat al-Nahl (16): 44 yang berbunyi:<\/p>\n\n\n\n<p>Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an, agar kamu mene\u00c2\u00adrangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Sedangkan hadits yang dijadikan dalil (argumen) adalah sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Aku tidak membiarkan sesuatu yang diperintahkan kamu oleh Allah kecuali aku juga sungguh-sungguh memerintahkan kamu dengannya, demikian juga aku tidak membiarkan sesuatu pun yang dilarang kamu oleh Allah \u00e2\u20ac\u201c mengerjakannya \u00e2\u20ac\u201c kecuali aku pun melarangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Menurut al-Syafi<sup>t<\/sup>i, semua&nbsp;<em>nash<\/em>&nbsp;di atas menunjukkan bahwa Allah tidak membiarkan manusia begitu saja, tanpa pertanggung\u00c2\u00adjawaban. Allah telah menyempurnakan agama dan nikmat-Nya serta menjadikan al-Quran sebagai pemberi penjelasan terhadap segala sesuatu. Sekiranya seseorang dibolehkan mengemukakan pendapat tanpa berpedoman kepada al-Quran atau sunnah, atau&nbsp;<em>ijma\u00e2\u20ac\u2122<\/em>, atau&nbsp;<em>qiyas<\/em>, maka berarti boleh mengeluarkan pendapat yangbertentangan dengan khabar-Nya.<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li><strong>D.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/strong><strong>&nbsp;Penolakannya&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;terhadap&nbsp;<em>Istihsan:&nbsp;<\/em>Analisis Kesejarahan (Historis)<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<p><em>1mam al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;hidup pada mesa awal Bani \u00e2\u20ac\u02dcAbbasiyah, di mana ketika itu merupakan masa yang cerah bagi kajian-kajian hukum Islam secara sistematis.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn47\">[47]<\/a>&nbsp;Pada waktu itu, terdapat tiga pembagian geografls yang besar dalam dunia Islam, di mana kegiatan-kegiatan hukum yang bebas tenjadi, yaitu lrak,&nbsp;<em>Hijaz&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>Syria.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn48\"><strong>[48]<\/strong><\/a>&nbsp;<\/em>Irak memiliki dua&nbsp;<em>madhhab,&nbsp;<\/em>yaitu&nbsp;<em>madhhab Basrah&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>Kufah,&nbsp;<\/em>di mana perkembangan hukum di Kufah lebih baik daripada di Basrah. Begitujuga di&nbsp;<em>Hijaz&nbsp;<\/em>juga memiliki dua pusat kegiatan hukum, yaitu&nbsp;<em>Madinah&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>Makkah.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Dari kedua tempat tersebut,&nbsp;<em>Madinah&nbsp;<\/em>lebih menonjol den menjadi pemimpin dalam perkembangan hukum di&nbsp;<em>Hijaz.&nbsp;<\/em>Sedangkan madhhab&nbsp;<em>Syria,&nbsp;<\/em>jarang tercatat dalam buku-buku teks awal. Meskipun demikian, kecenderungan hukum dan&nbsp;<em>madhhab&nbsp;<\/em>ini dapat diketahui dari tulisan-tulisan Abu Yusuf (w. 799 M).<\/p>\n\n\n\n<p><em>Madhhab Mesir&nbsp;<\/em>juga tidak begitu terkenal dalam peta-peta&nbsp;<em>madhhab&nbsp;<\/em>hukum awal, karena ia tidak mengembangkan pemikirannya sendiri. Sebagian ahli hukum Mesir mengikuti&nbsp;<em>doktrin Irak&nbsp;<\/em>dan sebagian lagi mengikuti doktrin Madinah. Nama&nbsp;<em>al-Layth bin Sa\u00e2\u20ac\u02dcd (w.<\/em>175 H) nampaknya merupakan figur menonjol di kalangan ahli hukum Mesir, ia memiliki penbedaan-perbedaan tertentu dengan&nbsp;<em>Malik.&nbsp;<\/em>Karena pada saat itu banyak bermunculan&nbsp;<em>madhhab-madhhab&nbsp;<\/em>hukum di propinsi-propinsi Islam, maka di sini penulis akan menguraikan lebih lanjut tentang&nbsp;<em>madhhab Madinah&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>Kufah,&nbsp;<\/em>sebab kedua&nbsp;<em>madhhab&nbsp;<\/em>ini merupakan&nbsp;<em>madhhab&nbsp;<\/em>yang terpenting dan sanggup bertahan lama di antana&nbsp;<em>madhhab-madhhab&nbsp;<\/em>yang lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Ditinjau dan runtut waktu, pemikiran hukum di Kufah umumnya lebih dini daripada di Madinah. Hal ini disebabkan&nbsp;<em>madhhab Kufah&nbsp;<\/em>dalam beberapa hal, secara resmi disponsori oleh pemerintah pusat&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcAbbasiyah.&nbsp;<\/em>Meskipun demikian, keduanya mempunyai metode dan garis perkembangan yang sama.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada awal pemerintahan Abbasiyah, terdapat dua kecenderungan metode yurisprudensi.&nbsp;<em>Pertama,&nbsp;<\/em>dalam rangka memantapkan dan memadukan doktrin hukum, pemikiran menjadi sistemalis, dan keberadaan&nbsp;<em>ra\u00e2\u20ac\u2122y&nbsp;<\/em>(pendapat murni) melahirkan metode&nbsp;<em>deduksi-analogis (analogical deduction),&nbsp;<\/em>yang disebut&nbsp;<em>qiyas.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Namun demikian, pertimbangan praktis seringkali mengharuskan orang meninggalkan cara berpikir analogis yang kaku. Kemudian, ditemukanlah metode berpikir baru yang lebih longgar, yang sebenannya merupakan pengembangan dari metode&nbsp;<em>qayas.&nbsp;<\/em>Metode ini disebut&nbsp;<em>istihsan<\/em>(menganggap baik).&nbsp;<em>Istihsan&nbsp;<\/em>merupakan penyimpangan dari analogi dengan pertimbangan kepentingan publik, menguntungkan atau pertimbangan lauinya yang sejenis.<sup>71&nbsp;<\/sup>Delam metode ini, orang menerapkan suatu kriteria lain terhadap suatu kasus dan meninggalkan&nbsp;<em>qiyas.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Kecenderungan&nbsp;<em>kedua&nbsp;<\/em>delam yurisprudensi awal ialah makin diperkokohnya konsep tentang&nbsp;<em>sunnah.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn49\"><strong>[49]<\/strong><\/a>&nbsp;<\/em>Kini orang cenderung untuk mengklaim generasi pendahulu sebagai sumber dalam rangka mengokohkan suatu tradisi. Digambarkan bahwa doktrin yang dikedepankannya mempunyai akar yang merentangkan balik ke masa silam. Pada mulanya sumber ini tanpa nama, akan tetapi kemudian kecenderungan&nbsp;<em>formalizme&nbsp;<\/em>semakin meningkat, sehingga tidak cukup hanya menyebut bahwa ajaran tersebut mempunyai sumber, tanpa menyebut nama.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn50\">[50]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Imam Malik misalnya, ketika membahas suatu masalah hukum, ia memulai diskusinya dengan mengutip&nbsp;<em>hadits<\/em>&nbsp;Nabi atau ajaran sahabat yang relevan, seperti masalah jual-beli hamba sahaya<em>.&nbsp;<\/em>Dokrin&nbsp;<em>Madinah,&nbsp;<\/em>yang berasal dari Imam Malik menetapkan bahwa hak milik atas harta hamba tetap berada di tangan budak, bukan di tangan majikannya. Atas dasar ini, apabila si hamba dijual, maka hartanya ikut berpindah ke tangan pembeli bersama dirinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan&nbsp;<em>doktrin Kufah,&nbsp;<\/em>mengajarkan bahwa seorang hamba, \u00e2\u20ac\u0153tidak berhak\u00e2\u20ac\u009d memiliki hartanya. Oleh karena itu, diri dan hartanya merupakan dua barang yang terpisah \u00e2\u20ac\u201c&nbsp; keduanya dimiliki oleh majikannya. Maka tidaklah sahperpindahan dua barang itu sekaligus dengan satu harga, tanpa ditentukan nilainya masig-masing.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika proses&nbsp;<em>kristalisasi&nbsp;<\/em>pendapat hukum dalam berbagai&nbsp;<em>madhhab&nbsp;<\/em>berjalan, muncullah Imam&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>.Ia mempelajari kerya-karya para-a pendahulunya, dengan mengadakan perjalanan panjang darii satu kota ke kota lain dan dari satu negeri ke negeni lain untuk mempelajari&nbsp;<em>hadits<\/em>&nbsp;dari sejumlah ahli hukum&nbsp;<em>Irak&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>Madinah,<\/em>dan Ia berbeda pendapat dengan mereka dalam sejumlah pensoalan.<\/p>\n\n\n\n<p>Delam masalah sistem hukum yang dipakai para pendahulunya,&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;menemukan sejumlah hal yang menyebabkan&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u0153ketidak-konsistenan\u00e2\u20ac\u009d&nbsp;<\/em>mereka dalam penalanannya. Dengan kata lain, ia melihat bahwa walaupun tradisi dari Rasulullah, para ahli hukum awal kadang-kadang lebih mengutamakan pendapat para sahabat atau mengabaikan tradisi jika ternyata berlawanan dengan praktek-praktek setempat.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam masalah ini dapat dilihat pendapat imam Maliktentang sebuah&nbsp;<em>hadits<\/em>mengenai&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u0153khiyar majelis\u00e2\u20ac\u009d. Hadits&nbsp;<\/em>ini memberikan pada pihak-pihak yang torlibat dalam suatu kontak dagang, hak untuk memilih sebelum berpisah. Setelah menceriterakan hal ini, Malik berkata:&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u0153Kita tidak mempunyai batas (waktu) tertentu atau pun praktek yang mapan dalam masalah ini.<\/em>&nbsp;Akan tetapi, dalam banyak kasus lain, Malik mengutip&nbsp;<em>hadits<\/em>dari Rasulullah dan mengikutinya.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>tanpa mengenal kompromi menyanggah pandangan bahwa pendapat seorang sahabat atau seorang tabi\u00e2\u20ac\u2122in dapat lebih diutamakan daripada sebuah tradisi dari Rasulullah, jika keotentikan tradisi tersebut dapat dibuktikan. Ditunjukkan kepada&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;bahwa beberapa kesalahan mungkin sekali dapat terjadi dalam perjalanan penyampaian&nbsp;<em>hadits<\/em><em>,&nbsp;<\/em>dan karena itu tak akan pernah dapat dipastikan keotentikannya secara sempurna.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;berargumen bahwa sebuah&nbsp;<em>hadits<\/em>dari Rasulullah diriwayatkan oleh para sahabat, sedangkan pendapat para sahabat diriwayatkan oleh para tabi\u00e2\u20ac\u2122in. Oleh karena itu, ia bertanya mengapa riwayat dari sumber yang lebih tinggi (para sahabat) harus dianggap memiliki bobot yang lebih rendah daripada riwayat dari sumber yang lebih rendah (yakni para tabi\u00e2\u20ac\u2122in). Maka, ia berpendapat bahwa kemenangan final&nbsp;<em>(hujjah)&nbsp;<\/em>adalah pada tradisi Rasulullah, dan bukan pada yang lain.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn51\">[51]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Ia berpendapat bahwa tradisi Rasulullah adalah mencukupi sendiri dan tidak membutuhkan penguatan obeh&nbsp;<em>praktek,&nbsp;<\/em>sebagaimana pendapat&nbsp;<em>madhhab-.madhhab&nbsp;<\/em>awal. Ia menuduh mereka (madhhab-madhhab awal) telah mempelajari pengetahuan dan sumber yang bebih rendah, sedangkan ia memilih untuk mengaambil dari sumber yang lebih tinggi (yakni tradisi dari Nabi).<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn52\">[52]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><em>Al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;merumuskan aturan-aturan yang terperinci untuk menimbang keabsahan tradisi-tradisi yang terisolir dan terputus&nbsp;<em>(munqati\u00e2\u20ac\u2122),&nbsp;<\/em>karena hal itu merupakan usaha yang pertama-tama untuk meninggalkan praktek-praktek yang telah berjalan lama, yang tidak menerima tradisi-tradisi tersebut.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftn53\">[53]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Dengan demikian,&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;berusaha untuk merombak standar penilaian yang terdahulu mengenai keotontikan&nbsp;<em>hadits<\/em><em>.&nbsp;<\/em>Dengan diterimanya secara bebas tradisi-tradisi yang terisolir&nbsp;<em>(khabar al\u00c2\u00ad-khassah)&nbsp;<\/em>dalam hukum oleh&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>, maka dengan gigih ia menyerang penggunaan&nbsp;<em>ra\u00e2\u20ac\u02dcy&nbsp;<\/em>yang tidak dibatasi, di mana sebelum dia muncul,&nbsp;<em>ra\u00e2\u20ac\u02dcy&nbsp;<\/em>merupakan alat sederhana dan alamiah untuk menyelesaikan persoalan. Sikap&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;yang demikian ini juga berlaku pada penerapan&nbsp;<em>istihsan<\/em>oleh madhhab-madhhab awal, karena ia beranggapan bahwa&nbsp;<em>istihsan<\/em>merupakan penggunaan&nbsp;<em>ra\u00e2\u20ac\u02dcy&nbsp;<\/em>secara bebas dan semau-maunya.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;<strong>E.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/strong><strong>Penutup<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dari beberapa paparan sebagaimana telah dijelaskan, maka uraian tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<p><em>Pertama,&nbsp;<\/em>Imam&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;merupakan seorang tokoh besar yang telah berhasil menciptakan prinsip-prinsip dasar dalam ilmu&nbsp;<em>ushul al-fiqh<\/em>. Sehingga tidak mengherankan jika kemudian ia dijuluki sebagai \u00e2\u20ac\u0153<em>master architect<\/em>\u00e2\u20ac\u009d dibidang hukum Islam. Dalam hal metode ber<em>istinbath<\/em>&nbsp;hukum, beliau menggunakan empat prinsip dasar, yaitu al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an, sunnah,&nbsp;<em>ijma\u00e2\u20ac\u2122<\/em>, dan qiyas.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Kedua,&nbsp;<\/em>sebagai konsekuensi logis dari empat prinsip di atas, maka&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;meletakkan nalar (<em>ra\u00e2\u20ac\u2122y<\/em>) dalam posisi yang lebih rendah daripada wahyu Tuhan. Dimana, qiyas dilakukan dengan cara tetap berpegang pada al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an, sunnah, dan&nbsp;<em>ijma\u00e2\u20ac\u2122<\/em>&nbsp;para ulama. Atas dasar inilah, kemudian beliau menolak keberadaan&nbsp;<em>istihsan<\/em>&nbsp;sebagai metode dalam ber<em>istinbath<\/em>&nbsp;hukum, yang oleh para pendahulunya dijadikan sebagai salah satu alat dalam ber<em>istinbath<\/em>&nbsp;hukum.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Ketiga,&nbsp;<\/em>penolakan&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;terhadap&nbsp;<em>istihsan<\/em>&nbsp;lebih didasarkan pada anggapan bahwa metode ini hanyalah menggunakan pendapat semau-maunya dan keputusan yang sifatnya subyektif. Bahkan, metode ini dianggapnya sebagai suatu tindakan \u00e2\u20ac\u0153<em>taladzudz<\/em>\u00e2\u20ac\u009d (mengikuti kesenagan sendiri).<\/p>\n\n\n\n<p><em>Keempat,&nbsp;<\/em>penolakan&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;terhadap&nbsp;<em>istihsan<\/em>, baik dari segi argumen normatif maupun historis, nampaknya perlu dikaji ulang. Sebab, pernyataan&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;yang menyatakan bahwa dalam metode&nbsp;<em>istihsan<\/em>&nbsp;tidak dilandasi oleh&nbsp;<em>nash<\/em>&nbsp;al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an maupun sunnah, bisa jadi kurang tepat. Karena, pendapat tersebut lebih didasarkan pada anggapan subyektif pula, atau bahkan ada semacam kesalahpahaman yang dilakukan&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;ketika mengktritik&nbsp;<em>istihsan<\/em>nya Imam Malik maupun Imam Hanafi.&nbsp;<em>Wa\u00e2\u20ac\u2122llahu a\u00e2\u20ac\u2122lam bi al-shawab<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>\u00e2\u20ac\u02dc<\/strong>Abd al\u00c2\u00ad-Halim aal-Jundi,&nbsp;<em>Al-Imam al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i: Nasir al-Sunnah wa Wadi\u00e2\u20ac\u2122 al-Ushul,&nbsp;<\/em>Beirut: Dar al-Qalam, 1966<\/p>\n\n\n\n<p>Abi al-Faraj Muhammad b. Abi Ya\u00e2\u20ac\u2122qub Ishaq al-Nadim, Al<em>-Fihris,&nbsp;<\/em>Beirut: Dar al-Kutub aI-\u00e2\u20ac\u2122llmiyyah, 1996<\/p>\n\n\n\n<p>Ahmad al-Shirbasi,&nbsp;<em>Al-Aimmah al-Arbaah,&nbsp;<\/em>Kairo: Dar al-Jeil, t.t<\/p>\n\n\n\n<p>Al-Imam Muhammad b. Ali b. Muhammad al-Shaukani,&nbsp;<em>Irsyad al-Fuhul ila Tahqiq al-haqq min Ilm al-Ushul,&nbsp;<\/em>Beirut : Dar al-\u00c2\u00adKutub al-\u00e2\u20ac\u2122Iimiyyah, 1994<\/p>\n\n\n\n<p><em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>,&nbsp;<em>al-Risalah,&nbsp;<\/em>Mesir: Matba\u00e2\u20ac\u2122ah Musthafa al-Babi al-Halabi, 1940\/1358 H<\/p>\n\n\n\n<p><em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>,&nbsp;<em>al-Umm,&nbsp;<\/em>Juz. VII, Beirut: Dar al-Fikr, t.th.<\/p>\n\n\n\n<p>al-Taftazani,&nbsp;<em>Syarh al-Talwih ala Taudhih,&nbsp;<\/em>Juz. II, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyat, t.th.<\/p>\n\n\n\n<p>Dr. Iskandar Usman,&nbsp;<em>Istihsan dan Pembaharuan Hukum Islam,&nbsp;<\/em>Jakarta: Rajawali Pers, 1994<\/p>\n\n\n\n<p>Farouq Abu Zaid,&nbsp;<em>Syifii:<\/em>&nbsp;I<em>mam kaum Moderat&nbsp;<\/em>dalam&nbsp;<em>Hukum Islam: Antata Tradisionalis dan Modernis,&nbsp;<\/em>Jakazta: P3M, 1986<\/p>\n\n\n\n<p>Fazlur Rahman,&nbsp;<em>Islamic Methodology in History,<\/em>Karachi: Central Institute of Islamic Research, 1965<\/p>\n\n\n\n<p>Hasbi Al-Shiddieqy,&nbsp;<em>Falsafah Hukum Islam,&nbsp;<\/em>Jakarta: Bulan Bintang, 1988<\/p>\n\n\n\n<p>Hugh Kennedy,&nbsp;<em>The Prophet and the Age of the Caflphates,&nbsp;<\/em>New York : Longman, 1986<\/p>\n\n\n\n<p>Husain Hamid Hassan,&nbsp;<em>Nadhariyat al-Maslahat fi al-Fiqh al-Islamiy,&nbsp;<\/em>Beirut: Dar al-Nahdhat al-\u00e2\u20ac\u02dcArabiyah, t.th.<\/p>\n\n\n\n<p>Lihat E. J.<em>.&nbsp;<\/em>Brill\u00e2\u20ac\u2122s,&nbsp;<em>First Encyclopedia of Islam 1913-1936,&nbsp;<\/em>New York : E. J<em>.&nbsp;<\/em>Brill\u00e2\u20ac\u2122s, 1987<\/p>\n\n\n\n<p>Mohammad Arkoun,&nbsp;<em>Berbagai Pembacaan al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an<\/em>, terj. Machasin, Jakarta: INIS, 1997<\/p>\n\n\n\n<p>Muhammad Abu Zahrah,&nbsp;<em>Ushul al-Fiqh,&nbsp;<\/em>Beirut: Dar al-Fikr al-\u00e2\u20ac\u02dcArabi, 1958<\/p>\n\n\n\n<p>Muhammad Abu Zahrah,&nbsp;<em>Ushul al-Fiqh,&nbsp;<\/em>Beirut: Dar al-Fikr al-\u00e2\u20ac\u02dcArabi, t.th.<\/p>\n\n\n\n<p>Muhammad al-Said Ali Abdul Rabuh,&nbsp;<em>Buhus fi al-Adillah al-Mukhtalaf fiha inda al-Ushulliyin,&nbsp;<\/em>Mesir: Matba\u00e2\u20ac\u2122ah al-Sa\u00e2\u20ac\u2122adah, 1980<\/p>\n\n\n\n<p>Mulammad Abu Zahrah,&nbsp;<em>Al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i: Hayatuhu wa Asruhu wa Arauhu wa Fiqhuhu,&nbsp;<\/em>Beirut: Dar al-Fikr al-\u00e2\u20ac\u2122Arabi, 1943<\/p>\n\n\n\n<p>Nasrun Harun,&nbsp;<em>Ushul Fiqh,&nbsp;<\/em>Jakarta: Logos, 1996<\/p>\n\n\n\n<p>Tim Ensiklopedi Islam, Ensi<em>klopedi Islam,&nbsp;<\/em>Jakarta : Ichtiar Baru Van Haeve, 1993<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref1\">[1]<\/a>Mohammad Arkoun,&nbsp;<em>Berbagai Pembacaan al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an<\/em>, terj. Machasin (Jakarta: INIS, 1997), h. 9<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref2\">[2]<\/a>Muhammad Abu Zahrah,&nbsp;<em>Ushul al-Fiqh&nbsp;<\/em>(Beirut: Dar al-Fikr al-\u00e2\u20ac\u02dcArabi, 1958), h. 262<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref3\">[3]<\/a>Lihat Abi al-Faraj Muhammad b. Abi Ya\u00e2\u20ac\u2122qub Ishaq al-Nadim, Al<em>-Fihris&nbsp;<\/em>(Beirut: Dar al-Kutub aI-\u00e2\u20ac\u2122llmiyyah, 1996<em>),&nbsp;<\/em>h.. 352.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref4\">[4]<\/a>Para sejarawan berbeda pendapat tentang tempat lahir Imam&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>. Sebagian mengatakan bahwa ia dilahirkan di&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcAsqalan<\/em>, daerah yang berjarak tiga farsakh dari&nbsp;<em>Gazza<\/em><em>,&nbsp;<\/em>sebagian lagi mengatakan ia lahir di&nbsp;<em>Yaman,&nbsp;<\/em>masa pcrtumbuhannya di Asqalan dan Gazza. Lebih lanjut tentang hal ini, lihat Mulammad Abu Zahrah,&nbsp;<em>Al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i: Hayatuhu wa Asruhu wa Arauhu wa Fiqhuhu&nbsp;<\/em><em>(<\/em>Beirut: Dar al-Fikr al-\u00e2\u20ac\u2122Arabi, 1943), h. 14.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref5\">[5]<\/a>Farouq Abu Zaid, Syifii: Imam kaum Moderat dalam Hukum Islam: Antata Tradisionalis dan Modernis (Jakazta: P3M, 1986), h. 28.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref6\">[6]<\/a>Tim Ensiklopedi Islam, Ensi<em>klopedi Islam (<\/em>Jakarta : Ichtiar Baru Van Haeve, 1993), Jilid IV, h. 327. Pendapat yang mengatakan bahwa ibunya berasal dan Quraysh ini merupakan pendapat yang&nbsp;<em>shadh&nbsp;<\/em>(cacat). Pendapat inidiriwayatkan oleh&nbsp;<em>al-Hakim Abu Abdillah al-Hafizh,&nbsp;<\/em>sedangkan pendapat yang&nbsp;<em>mashhur mengatakan<\/em>&nbsp;bahwa ibunya berasal dari&nbsp;<em>al-Azd.&nbsp;<\/em>Lebih lanjut tentang hal ini, lihat Imam al-Nawawi,&nbsp;<em>Tahdhlb al-Asma\u00e2\u20ac\u2122 wa al-Lughat&nbsp;<\/em>dimuat dalam&nbsp;<em>Mumad al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i,&nbsp;<\/em>(Beirut : Dar al-Fikr, t.th), h.&nbsp;<em>9.&nbsp;<\/em>Lihat juga Muhammad Abu Zahrah,&nbsp;<em>op. cit.&nbsp;<\/em>h. 16<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; [7]Lihat E. J.<em>.&nbsp;<\/em>Brill\u00e2\u20ac\u2122s,&nbsp;<em>First Encyclopedia of Islam 1913-1936 (<\/em>New York : E. J<em>.&nbsp;<\/em>Brill\u00e2\u20ac\u2122s, 1987), Vol. VII, h. 253<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref8\">[8]<\/a>Keahlian&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;di bidang sastera Arab ini terbukti bahwa Ia hafal&nbsp;<em>sair-\u00c2\u00adsair&nbsp;<\/em>dan sastera-sastera&nbsp;<em>Hudhail&nbsp;<\/em>dengan fasih, sampai&nbsp;<em>al-Asmai&nbsp;<\/em>berkata bahwa \u00e2\u20ac\u0153syair-syair&nbsp;<em>Hudhail&nbsp;<\/em>telah dihafal oleh seorang pemuda dan keturunan Quraysh, namanya&nbsp;<em>Muhammad b. Idris,&nbsp;<\/em>yakni&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em><em>.\u00e2\u20ac\u009d&nbsp;<\/em>Lihat Ahmad al-Shirbasi,&nbsp;<em>Al-Aimmah al-Arbaah&nbsp;<\/em>(Kairo: Dar al-Jeil, t.t), h. 123. Lihat juga Farouq Abu Zaid,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 29.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref9\">[9]<\/a>Ketangkasan&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>dalam berbicara dan kepandaiannya dalam berbagai ilmu agama Islam, khususnya ilmnu al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an,&nbsp;<em>hadits<\/em>&nbsp;dan fiqh ini dapat dilihat pada dialog antara&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>dan<em>&nbsp;Khalifah Harun al-rasyid.&nbsp;<\/em>Lihat Ahmad al-Shurbasi,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 125-127. Lihat juga Farouq Abu Zaid,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 29<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref10\">[10]<\/a>Sebagian riwayat mengatakan bahwa karena kemahirannya di bidang ilmu fiqh inilah, maka&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>diberi ijini oleh&nbsp;<em>Muslim Khalid al-Zanji untuk&nbsp;<\/em>memberi fatwa di masjid al-Haram selama lima belas tahun. Lebih lanjut tentang hal ini, lihat \u00e2\u20ac\u02dcAbd al\u00c2\u00ad-Halim al-Jundi,&nbsp;<em>Al-Imam al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i: Nasir al-Sunnah wa Wadi\u00e2\u20ac\u2122 al-Ushul&nbsp;<\/em>(Beirut: Dar a-Qalam, 1966), h. 31<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; [11]Kesungguhan&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>dalam mempelajari ilmu&nbsp;<em>hadits<\/em><em>&nbsp;ini<\/em>&nbsp;tanpa kenal lelah. Meskipun ia dalam kondisi miskin dan tidak mampu, tetapi ia dengan tekun mencatat pelajarannya di atas kertas-kertas bekas dan kantor-kantor pemenintah dan tulang-tulang. Pada usia sepuluh tahun, ia sudah membaca seluruh isi kitab&nbsp;<em>al-Muwatta\u00e2\u20ac\u2122&nbsp;<\/em>karya&nbsp;<em>Imam Malik&nbsp;<\/em>dan pada usia lima belas tahun, ia telah menduduki kursi mufti di Mekah. (Lihat Tim Ensiklopedi Islam,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 327)<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref12\">[12]<\/a>Diceriterakan bahwa dalam perjalanan antara Mekah dan Madinah yang ditempuhnya selama delapan hari,&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;sempat mengkhatamkan al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an sebanyak enam belas kali. Lihat&nbsp;<em>ibid.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref13\">[13]<\/a>Sebagian riwayat mengatakan bahwa&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;datang ke Baghdad pada tahun 195\/810 dan menetap di sana selarna dua tahun. Lihat \u00e2\u20ac\u02dcAbd al-Hakim al-Jundi,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 176.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref14\">[14]<\/a>Yang dimaksud dengan&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u0153fiqh Hijaz\u00e2\u20ac\u009d&nbsp;<\/em>adalah fiqh yang lebih banyak menguta-makan dalil-dalil&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u0153naql\u00e2\u20ac\u2122&nbsp;<\/em>yang berkembang di Hijaz<em>,&nbsp;<\/em>sedangkan&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u0153fiqh Iraq\u00e2\u20ac\u009d&nbsp;<\/em>adalah fiqh yang lebih banyak menggunakan dalil-dalil&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u0153\u00e2\u20ac\u02dcaql\u00e2\u20ac\u009d,&nbsp;<\/em>yang berkembang di&nbsp;<em>lrak.&nbsp;<\/em>Lebih lanjut tentang hal ini, lihat Muhammad Abu Zahrah,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 25-26.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref15\">[15]<\/a>Lihat Ahmad al-Shurbasi,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>hi. 128<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref16\">[16]<\/a>Perbedaan pendapat dalam masalah&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u0153saksi\u00e2\u20ac\u009d&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u0153sumpah\u00e2\u20ac\u009d&nbsp;<\/em>merupakan perbedaan yang masyhur di antara&nbsp;<em>Hanafiyah, Syafi\u00e2\u20ac\u2122iyah&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>Malikiyah. Hanafiyah&nbsp;<\/em>memandang bahwa bukti&nbsp;<em>(al-bayyinah)&nbsp;<\/em>harus ada bagi orang yang menuntut&nbsp;<em>(al-muddai<\/em>)<em>,&nbsp;<\/em>sedangkan \u00e2\u20ac\u02dcsumpah\u00e2\u20ac\u2122&nbsp;<em>(al-yamin)&nbsp;<\/em>wajib bagi orang yang mengingkari. Maka tidak berlaku sumpah&nbsp;<em>(al-yamin)&nbsp;<\/em>bagi orang yang menuntut. Sedangkan&nbsp;<em>Syafi\u00e2\u20ac\u2122iyah&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>Malikiyah&nbsp;<\/em>berpendapat bahwa jika penuntut hanya dapat menghadirkan seorang saksi dan ia berani bersumpah, maka keputusan tentang hal ini harus ditetapkan, sebab sumpah orang tersebut sudah menggantikan saksi yang kedua. Hal ini hanya berlaku pada masalah harta saja dan tidak berlaku pada yang lain. Lebih lanjut tentang hal ini, lihat Muhammiad Abu Zahrah,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 26-27.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref17\">[17]<\/a>Yang dimaksud&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcijtihad&nbsp;<\/em>di sini adalah mencurahkan segala daya dan upaya dalam mencari&nbsp;<em>dalil dhanni dari&nbsp;<\/em>hukum-hukum&nbsp;<em>shari\u00e2\u20ac\u2122at,&nbsp;<\/em>di mana seseorang tidak mampu untuk menambahinya. (Lihat A1-Amidi, Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, (Beirut: Dar al\u00c2\u00adFikr, t.t.), Jiiid II, Juz IV, h. 141. Lihat juga A1-Imam Muhammad b. Ali b. Muhammad al-Shaukani,&nbsp;<em>Irsyad al-Fuhul ila Tahqiq al-haqq min Ilm al-Ushul&nbsp;<\/em>(Beirut : Dar al-\u00c2\u00adKutub al-\u00e2\u20ac\u2122Iimiyyah, 1994), h. 370.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref18\">[18]<\/a>Lihat Farouq Abu Zaid,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 30.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref19\">[19]<\/a>Lihat Tim Ensiklopedi Islam,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 328.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref20\">[20]<\/a><em>Ibid.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref21\">[21]<\/a>Disebutkan bahwa pada saat&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>datang ke Baghdad yang kedua kalinya ini, ia telah menyusun kitab&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u0153Al-Risalah\u00e2\u20ac\u009d<\/em>, yang mencakup prinsip-prinsip dasar dalam iimu&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u0153ushul al-Fiqh\u00e2\u20ac\u009d.&nbsp;<\/em>Lihat Muhammad bin Abu zahrah,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 29.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref22\">[22]<\/a>Pada mulanya di tempat ini terdapat dua puluh&nbsp;<em>halaqah&nbsp;<\/em>(kelompok belajar),<\/p>\n\n\n\n<p>tetapi setelah Iimam al-Syaf\u00e2\u20ac\u2122i datang, hanya tinggal tiga&nbsp;<em>halaqah,&nbsp;<\/em>yang lainnya menggabungkan diri ke dalam&nbsp;<em>halaqah Imam al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>. Lihat Tim Ensiklopedi Islam,&nbsp;<em>op. cit.,h.&nbsp;<\/em>328.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref23\">[23]<\/a>Singkatnya&nbsp;<em>Imam al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i&nbsp;<\/em>tinggal di Baghdad pada periode akhir ini, karena dua hal, yaitu: (1) Pada masa&nbsp;<em>al-Ma\u00e2\u20ac\u2122mun,&nbsp;<\/em>pemerintahan lebih banyak didominasi oleh orang-\u00c2\u00adorang Persia, yang dipimpin langsung oleh al-Ma\u00e2\u20ac\u2122mun setelah mengalahkan orang-orang Arab, yang dipimpin oieh&nbsp;<em>Al-Amin,&nbsp;<\/em>sementara Imam Syafi\u00e2\u20ac\u2122i berasal dari Quraish, Arab (2) Al-Ma\u00e2\u20ac\u2122mun termasuk salah satu tokoh filsafat&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u0153Mutakalllmin\u00e2\u20ac\u009d&nbsp;<\/em>yang lebih dekat kepada&nbsp;<em>Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah,&nbsp;<\/em>sehingga posisi-posisi penting lebih banyak dipegang oleh orang-orang&nbsp;<em>Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah,&nbsp;<\/em>sedangkan&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;tidak cocok dengan Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah. Lebih lanjut tentang hal ini<em>,&nbsp;<\/em>lihat Muhammad Abu Zahrah,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 30-31. Lihat juga Farouq Abu Zaid,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 31.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref24\">[24]<\/a>Lihat Muhammad Abu Zahrah,&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>\u00e2\u20ac\u00a6,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 31<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref25\">[25]<\/a>Dikutip dari Dr. Iskandar Usman,&nbsp;<em>Istihsan dan Pembaharuan Hukum Islam&nbsp;<\/em>(Jakarta: Rajawali Pers, 1994), h. 24-25<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref26\">[26]<\/a><em>Ibid.,&nbsp;<\/em>25<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref27\">[27]<\/a><em>Ibid.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref28\">[28]<\/a>&nbsp;Lihat Husain Hamid Hassan,&nbsp;<em>Nadhariyat al-Maslahat fi al-Fiqh al-Islamiy&nbsp;<\/em>(Beirut: Dar al-Nahdhat al-\u00e2\u20ac\u02dcArabiyah, t.th.), h. 250-252<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref29\">[29]<\/a><em>Urf ialah&nbsp;<\/em>sesuatu yang telah berkembang dan terkenal dalam masyaralcat tidak dipandang jijik dan buruk. Lihat Hasbi Al-Shiddieqy,&nbsp;<em>Falsafah Hukum Islam&nbsp;<\/em>(Jakarta: Bulan Bintang, 1988), h. 87.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref30\">[30]<\/a>Lihat Dr. Iskandar Usman,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 31-33<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref31\">[31]<\/a>Dikuti dari&nbsp;<em>ibid.,&nbsp;<\/em>h. 34<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref32\">[32]<\/a>Lihat Husain Hamid Hassan,&nbsp;<em>op .c it.,&nbsp;<\/em>h. 585<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref33\">[33]<\/a><em>Ibid.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref34\">[34]<\/a>Muhammad Abu Zahrah,&nbsp;<em>Ushul al-Fiqh&nbsp;<\/em>(Beirut: Dar al-Fikr al-\u00e2\u20ac\u02dcArabi, t.th.). h. 262<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref35\">[35]<\/a>Lihat al-Taftazani,&nbsp;<em>Syarh al-Talwih ala Taudhih,&nbsp;<\/em>Juz. II (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyat, t.th.), h. 82<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref36\">[36]<\/a>Lihat Muhammad al-Said Ali Abdul Rabuh,&nbsp;<em>Buhus fi al-Adillah al-Mukhtalaf fiha inda al-Ushulliyin&nbsp;<\/em>(Mesir: Matba\u00e2\u20ac\u2122ah al-Sa\u00e2\u20ac\u2122adah, 1980), h. 68-77<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref37\">[37]<\/a>Dikutip dari Nasrun Harun,&nbsp;<em>Ushul Fiqh&nbsp;<\/em>(Jakarta: Logos, 1996), h. 107-108<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref38\">[38]<\/a>Husain Hamid Hassan,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 594<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref39\">[39]<\/a>Al-Taftazani,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 82<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref40\">[40]<\/a>Lihat al-Amidi,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 394.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref41\">[41]<\/a>Husain Hamid Hassan,&nbsp;<em>op.cit.,&nbsp;<\/em>h. 597-599<em>.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref42\">[42]<\/a>Lihat zakiy al-Din Sya\u00e2\u20ac\u2122ban,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 167<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref43\">[43]<\/a>Imam&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>,&nbsp;<em>al-Risalah&nbsp;<\/em>(Mesir: Matba\u00e2\u20ac\u2122ah Musthafa al-Babi al-Halabi, 1940\/1358 H), h. 25<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref44\">[44]<\/a>Lihat&nbsp;<em>ibid.,&nbsp;<\/em>h. 503-505<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref45\">[45]<\/a><em>Ibid.,&nbsp;<\/em>h. 21<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref46\">[46]<\/a>Lihat&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>,&nbsp;<em>al-Umm,&nbsp;<\/em>Juz. VII (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), h. 314<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref47\">[47]<\/a>Imam&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>&nbsp;lahirpada tahun 150 H, di mana pemerintahan Islam ketika itu berada dibawah kekuasaan Bani \u00e2\u20ac\u02dcAbbisiyah. Pada tahun 145-193 H\/763-809 M, Bani \u00e2\u20ac\u02dcAbbasiyah mencapai masa keemasan di bawah&nbsp;<em>Khalifah Harun al-Rasyid,&nbsp;<\/em>yang terkenal dengan istilah&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u0153The Golden Age of the Abbasid Caliphate\u00e2\u20ac\u009d.&nbsp;<\/em>Lebih lanjut, lihat Hugh Kennedy,&nbsp;<em>The Prophet and the Age of the Caflphates&nbsp;<\/em>(New York : Longman, 1986), h. 133-135.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref48\">[48]<\/a>Lihat Ahmad Hasan,&nbsp;<em>The Early \u00e2\u20ac\u00a6, h. 18<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref49\">[49]<\/a>Su<em>nnah&nbsp;<\/em>adalah sebuah konsep perilaku, baik yang diterapkan kepada aksi-aksi fisik maupun kepada aksi-aksi mental. Selanjutnya&nbsp;<em>sunnah&nbsp;<\/em>ini tidak hanya tertuju kepada sebuah aksi sebagaimana adanya, tetapi selama aksi itu secara aktual berulang atau mungkin sekali dapat berulang kembali. Dengen perkataan lain, sebuah sunnahadalah sebuah hukum tingkah laku, baik yang terjadi sekali saja maupun yang terjadi berulangkali. Lebih lanjut, lihat Fazlur Rahman,&nbsp;<em>Islamic Methodology in History<\/em>(Karachi: Central Institute of Islamic Research, 1965), h. 1-2<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref50\">[50]<\/a><em>Umar&nbsp;<\/em>misalnya acapkali digambarkan sebagai sumber asal sunnahdi Madinah, sedangkan&nbsp;<em>Ibnu Mas\u00e2\u20ac\u2122ud&nbsp;<\/em>memegang posisi serupa di Kufah. Dan akhirnya tak pelak lagi, sampailah&nbsp; orang pada tahap mengklaim Nabi Muhammad sebagai sumber ajarannya.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref51\">[51]<\/a>Lihat&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>, al-Umm, Juz. VII,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 179<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref52\">[52]<\/a><em>Ibid.,&nbsp;<\/em>h. 246<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/157\/#_ftnref53\">[53]<\/a>Lihat&nbsp;<em>al-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i<\/em>, al-Risalah,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 63-64<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>A.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Pendahuluan Telah menjadi kesepakatan ulama bahwa sumber pertama dan utama dalam Islam adalah al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an. Kitab Suci ini digunakan kaum Muslimin untuk mengabsahkan perilaku, menjastifikasi tindakan peperangan, melandasi berbagai aspirasi, memelihara berbagai harapan, dan juga memperkukuh identitas kolektif.[1]&nbsp;Dengan Kitab Suci ini pula, Nabi&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":302,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-300","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-akademik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/300","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=300"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/300\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":301,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/300\/revisions\/301"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/302"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=300"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=300"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=300"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}