{"id":304,"date":"2020-07-31T06:56:01","date_gmt":"2020-07-31T06:56:01","guid":{"rendered":"http:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/?p=304"},"modified":"2020-07-31T06:58:21","modified_gmt":"2020-07-31T06:58:21","slug":"theologi-ahl-al-sunnah-wa-al-jamaah-refleksi-atas-gagasan-sentral-imam-abu-hasan-al-asyari","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/2020\/07\/31\/theologi-ahl-al-sunnah-wa-al-jamaah-refleksi-atas-gagasan-sentral-imam-abu-hasan-al-asyari\/","title":{"rendered":"Theologi Ahl al-Sunnah wa al-Jama\u00e2\u20ac\u2122ah: Refleksi Atas Gagasan Sentral Imam Abu Hasan al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari"},"content":{"rendered":"\n<p>Mohammad Nor Ichwan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar istilah&nbsp;<em>ahl al-sunnah wa al-jama\u00e2\u20ac\u2122ah,&nbsp;<\/em>suatu faham yang paling banyak dianut oleh umat Islam, termasuk di Indonesia. Namun demikian, kebanyakan umat Islam tidak tahu persis, kelompok manakah yang dimaksud sebagai&nbsp;<em>ahl al-sunnah&nbsp;<\/em>tersebut. Hal ini lebih disebabkan oleh banyaknya golongan (<em>firqah<\/em>)yang berkembang di kalangan umat Islam dan kesemuanya mengklaim sebagai kelompok&nbsp;<em>ahl al-sunnah wa al-jama\u00e2\u20ac\u2122ah<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Munculnya berbagai&nbsp;<em>firqah&nbsp;<\/em>tersebut, bukanlah suatu yang mengherankan dalam sejarah umat Islam. Sebab, Nabi sendiri dalam beberapa hadisnya telah meramalkan bahwa umat Islam nantinya akan terpecah menjadi 73 golongan seperti halnya orang-orang Yahudi dan Nashrani. Nabi saw. bersabda:<\/p>\n\n\n\n<p>Rasulullah saw bersabda: \u00e2\u20ac\u0153Orang-orang Yahudi telah terpecah (ber<em>firqah-firqah<\/em>) menjadi 71 golongan, demikian juga orang-orang Nashrani. Dan Ummatku pun juga akan terpecah menjadi 73 golongan. (HR. Turmudzi dari Abu Hurairah)<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam hadis yang lain Rasulullah saw. juga menyatakan hal yang sama, bahwa umat Islam natinya akan terpecah menjadi 73 golongan, dan kesemuanya akan masuk neraka kecuali satu, yaitu golongan yang tetap berpegang (ber-<em>i\u00e2\u20ac\u2122tiqad<\/em>) pada sunnah Nabi dan sahabat-sahabatnya (<em>ma ana \u00e2\u20ac\u02dcalaihi wa ashhabi<\/em>).<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn1\">[1]<\/a>&nbsp;Dalam hadis riwayat Thabrani disebutkan bahwa golongan dimaksud adalah&nbsp;<em>ahl al-sunnah wa al-jama\u00e2\u20ac\u2122ah<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Bahwasannya Bani Israil telah berfirqah-firqah sebanyak 72 golongan (<em>millah<\/em>), dan akan berfirqah umatku sebanyak 73 golongan (<em>firqah<\/em>), semuanya masuk neraka kecuali satu. Para sahabat bertanya: \u00e2\u20ac\u0153Siapakah yang satu itu wahai Rasulullah?\u00e2\u20ac\u009d. Nabi menjawab: \u00e2\u20ac\u0153yang satu itu adalah orang yang berpegang padaku dan sahabat-sahabatku. (HR. Turmudzi)<\/p>\n\n\n\n<p>Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad di tangan-Nya, akan berfirqah umatku sebanyak 73 golongan, yang satu masuk sorga dan yang 72 masuk neraka. Para sahabat bertanya: \u00e2\u20ac\u0153siapakah golongan yang tidak masuk neraka itu wahai Rasulullah?\u00e2\u20ac\u009d. Rasulullah menjawab: \u00e2\u20ac\u0153<em>Ahl al-sunnah wa al-jama\u00e2\u20ac\u2122ah<\/em>. (HR. Thabrani).<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn2\">[2]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Nampaknya, ramalan Rasulullah saw sebagaimana tertuang dalam hadis tersebut telah menjadi kenyataan. Ini dapat dilihat dari banyaknya golongan (<em>firqah<\/em>) yang berkembang di kalangan umat Islam. Dalam sejarah perkembangan teologi Islam kita mengenal beberapa faham seperti Syi\u00e2\u20ac\u2122ah, Khawarij, Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah, Murji\u00e2\u20ac\u2122ah. Najariyah, Jabariyah, Musyabbihah, dan sebagainya. Lalu yang menjadi pertanyaan kita sekarang adalah siapakah yang dimaksud kelompok&nbsp;<em>ahl al-sunnah wa al-jama\u00e2\u20ac\u2122ah itu?<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>B.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/strong><strong><em>Ahl al-Sunnah wa al-Jama\u00e2\u20ac\u2122ah:&nbsp;<\/em><\/strong><strong>Perspektif Etimologis dan Terminologis<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Bertolak dari hadis di atas, secara sederhana istilah&nbsp;<em>ahl al-sunnah wa al-jama\u00e2\u20ac\u2122ah<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn3\"><strong>[3]<\/strong><\/a>&nbsp;<\/em>dapat didefinisikan sebagai penganut sunnah Nabi dan petunjuk sahabat-sahabatnya. Menurut Dr. Jalal Muhammad Musa dalam&nbsp;<em>Nasy\u00e2\u20ac\u2122ah al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ariyah wa Tathawwuriha \u00e2\u20ac\u201c&nbsp;<\/em>sebagaimana dikutip Dr. KH. Noer Iskandar al-Barsyaniy, MA \u00e2\u20ac\u201c menjelaskan bahwa istilah&nbsp;<em>ahl al-sunnah wa al-jama\u00e2\u20ac\u2122ah&nbsp;<\/em>mengandung dua makna,&nbsp;&nbsp;<em>pertama,&nbsp;<\/em>makna umum (<em>\u00e2\u20ac\u02dcam<\/em>) dan&nbsp;<em>kedua,&nbsp;<\/em>makna khusus (<em>khash<\/em>).<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn4\">[4]<\/a>&nbsp;Untuk makna yang disebutkan pertama,&nbsp;<em>ahl al-sunnah&nbsp;<\/em>sebagai pembanding Syi\u00e2\u20ac\u2122ah, yaitu kelompok Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah, yang di dalamnya termasuk kelompok Asy\u00e2\u20ac\u2122ariyah. Sedangkan makna yang disebutkan terakhir lebih merujuk kepada kelompok Asy\u00e2\u20ac\u2122ariyah, yaitu pengikut madzhab Imam Abu Hasan al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Sementara itu, Abu al-Fadl ibn al-Syaikh abd. Syakur al-Sanuri dalam&nbsp;<em>al-Kawakib al-Lamma\u00e2\u20ac\u2122ah fi Tahqiq al-Musamma bi Ahl al-Sunnah wa al-Jama\u00e2\u20ac\u2122ah&nbsp;<\/em>menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kelompok&nbsp;<em>ahl al-sunnah wa al-jama\u00e2\u20ac\u2122ah&nbsp;<\/em>adalah kelompok atau golongan yang senantiasa&nbsp;<em>commited&nbsp;<\/em>mengikuti sunnah Nabi saw dan&nbsp;<em>thariqah&nbsp;<\/em>atau petunjuk para sahabatnya dalam hal akidah, amaliah fisik (<em>fiqh<\/em>) dan akhlak batin (<em>tasawwuf<\/em>).<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn5\">[5]<\/a>&nbsp;Berdasarkan definisi ini, maka yang termasuk&nbsp;<em>ahl al-sunnah&nbsp;<\/em>adalah ulama kalam (<em>mutakallimin<\/em>), ahli fiqh (<em>fuqaha<\/em>), ahli hadis (<em>muhaddisin<\/em>), dan ulama tasawuf (<em>sufiyah<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam tulisan ini yang dimaksud dengan golongan&nbsp;<em>ahl al-sunnah wa al-jama\u00e2\u20ac\u2122ah&nbsp;<\/em>lebih merujuk kepada makna khasnya, yaitu pengikut madzhab Imam Abu Hasan al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi. Pengertian ini disamping didasarkan pada ucapan Imam Muhammad bin Muhammad al-Husni al-Zabidi<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn6\">[6]<\/a>&nbsp;juga didasarkan pada aspek historisitasnya, sebagaimana akan dijelaskan berikut ini.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>C. Historisitas&nbsp;<em>Ahl al-Sunnah wa al-Jama\u00e2\u20ac\u2122ah<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Secara historis, term&nbsp;<em>ahl al-sunnah wa al-jama\u00e2\u20ac\u2122ah&nbsp;<\/em>telah muncul jauh sebelum faham Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah ada, bahkan pada masa Nabi Muhammad masih hidup pun istilah ini sudah dikenal, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis sebelumnya.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn7\">[7]<\/a>&nbsp;Namun, terminologi ini menjadi menonjol setelah lahirnya faham Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn8\">[8]<\/a>&nbsp;pada abad ke 11 H. Artinya bahwa term ini muncul lebih disebabkan sebagai reaksi terhadap faham golongan Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah yang rasionalis oleh golongan Asy\u00e2\u20ac\u2122ariyah dan Maturidiyah yang bercorak tradisionalis.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam, terdapat berbagai aliran pemikiran kalam. Peristiwa ini diawali oleh pertentangan politik antara Ali bin Abi Thalib di Kufah dan Mu\u00e2\u20ac\u2122awiyah bin Abi Sufyan di Damaskus, yang kemudian berujung pada peristiwa&nbsp;<em>tahkim&nbsp;<\/em>(arbitrase),<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn9\">[9]<\/a>&nbsp; yang menjadi pemicu timbulnya pertentangan-pertentangan teologis di kalangan umat Islam. Peristiwa&nbsp;<em>tahkim&nbsp;<\/em>ini kemudian memunculkan aliran Khawarij.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn10\">[10]<\/a>&nbsp;Menurutnya,&nbsp;<em>tahkim&nbsp;<\/em>bukanlah cara yang terbaik dalam menyelesaikan sengketa, seperti yang ditetapkan Allah dalam al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn11\">[11]<\/a>&nbsp;Oleh karenanya, orang-orang yang menerima&nbsp;<em>tahkim&nbsp;<\/em>dianggap sebagai pembuat dosa besar dan karenanya dihukumi sebagai kafir.<\/p>\n\n\n\n<p>Faham kaum Khawarij yang demikian, mendapatkan tanggapan yang serius dari para pemikir Islam, di antaranya adalah kaum Murji\u00e2\u20ac\u2122ah, suatu aliran tertua sesudah Khawarij. Menurutnya, bahwa orang mukmin yang berbuat dosa besar tidaklah dihukumi sebagai kafir, tetapi tetap mukmin.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn12\">[12]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Dari kedua paham yang saling kontradiktif tersebut, maka muncullah aliran Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah yang mengambil posisi tengah. Menurutnya, bahwa orang yang melakukan perbuatan dosa besar berada di antara keduanya, bukan kafir dan juga bukan mukmin, tetapi sebagai seorang yang&nbsp;<em>fasiq.<\/em>&nbsp;Paham ini kemudian dikenal dengan istilah&nbsp;<em>al-manzilah baina al-manzilatain.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam perkembangannya, faham Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah yang rasionalis itu,<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn13\">[13]<\/a>&nbsp;mendapatkan pengaruh yang sangat besar. Ini dapat dilihat dari banyaknya penganut Wasil di daerah Tahart, suatu tempat di dekat Tilimsan di Marokko, mencapai 30 ribu pengikut. Kemudian, pengaruh Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah ini, mencapai puncaknya pada zaman Khlaifah-khalifah Bani Abbas al-Ma\u00e2\u20ac\u2122mun, al-Mu\u00e2\u20ac\u2122tashim dan al-Wasiq (813-847M), bahkan pada masa kekhalifahan al-Ma\u00e2\u20ac\u2122mun faham Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah dijadikan sebagai madzhab resmi negara.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn14\">[14]<\/a>&nbsp;Kerena telah menjadi aliran resmi negara, kaum Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah mulai menyiarkan ajaran-ajarannya secara paksa dengan cara mengadakan ujian (<em>mihnah<\/em>) bagi para pemuka pemerintahan dan masyarakat, terutama faham mereka bahwa al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an bersifat&nbsp;<em>makhluk<\/em>&nbsp;dalam arti diciptakan dan bukan bersifat&nbsp;<em>qadim<\/em>&nbsp;dalam arti kekal dan tidak diciptakan.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn15\">[15]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Faham Mu\u00e2\u20ac\u2122tazili yang bercorak rasional ini, mendapat tantangan yang keras dari golongan tradisional Islam, terutama pengikut aliran&nbsp;<em>hadits&nbsp;<\/em>dan yurisprudensi (<em>fuqaha<\/em>) yang sangat keras, seperti pengikut Ahmad Ibn Hanbal. Politik menyiarkan aliran Mu\u00e2\u20ac\u2122tazliah secara kekerasan berkurang setelah al-Ma\u00e2\u20ac\u2122mun meninggal dunia pada tahun 833 M, dan akhirnya aliran Mu\u00e2\u20ac\u2122tazliah sebagai madzhab resmi dari negara dibatalkan oleh Khalifah al-Mutawakkil pada tahun 856 M. Dengan demikian kaum Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah kembali kepada kedudukan mereka semula, tetapi kini mereka telah mempunyai lawan yang tidak sedikit di kalngan umat Islam.<\/p>\n\n\n\n<p>Perlawan ini kemudian mengambil bentuk aliran teologi tradisional yang disusun oleh Abu al-Hasan al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari (935 M), yang sebelumnya merupakan salah seorang penganut aliran Mu\u00e2\u20ac\u2122tazliah. Selama masih muda, ia menjadi murid al-Jubba\u00e2\u20ac\u2122i, seorang Mu\u00e2\u20ac\u2122tazili dari Basra yang sangat mashur, tetapi ketika berusia 40 tahun, mungkin karena hasil mimpinya bertemu dengan Rasulullah,<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn16\">[16]<\/a>&nbsp;ia berbalik melawan ajaran-ajaran Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah dan mencoba kembali kepada ajaran-ajaran al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an secara murni. Ia pergi ke masjid Basra dan kemudian menyatakan:<\/p>\n\n\n\n<p>Siapa yang mengatahui saya, mengetahui siapa saya, dan siapa yang tidak mengetahui saya, kemudian mengatahui bahwa saya adalah Abu al-Hasan \u00e2\u20ac\u02dcAli al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari, yang dahulu mempertahankan bahwa al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an diciptakan, mata manusia tidak akan dapat melihat Tuhan, dan menyatakan bahwa makhluk menciptakan aktifitas gerak mereka sendiri. Oh! Saya menyesal bahwa saya telah menjadi seorang Mu\u00e2\u20ac\u2122tazlili. Saya meninggalkan aliran ini dan saya berjanji untuk menolak aliran Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah dan mengekspose pertumbuhan dan kejahatan mereka\u00e2\u20ac\u009d.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn17\">[17]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Menurut keterangan Harun Nasution yang ia kutip dari kitab&nbsp;<em>Dzuhr al-Islam&nbsp;<\/em>bahwa sebab lain keluarnya al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari dari kelompok Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah adalah sikap ragu-ragu (<em>syak<\/em>)<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn18\">[18]<\/a>&nbsp;dan tidak puas lagi terhadap aliran Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah yang selama ini dianutnya. Hal ini diperkuat oleh riwayat yang mengatakan bahwa al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari mengasingkan diri di rumah selama lema belas hari untuk memikirkan ajaran-ajaran Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah. Setelah itu ia keluar dan pergi ke masjid, naik mimbar seraya mengatakan:<\/p>\n\n\n\n<p>Hadirin sekalian, sya selama ini mengasingkan diri untuk berfikir tentang keterangan-keterangan dan dalil-dalil yang diberikan masing-masing golongan. Dalil-dalil yang diajukan, dalam penelitian saya, sama kuatnya. Oleh karena itu saya meminta petunjuk dari Allah dan atas petunjuk-Nya saya sekarang meninggalkan keyakinan-keyakinan lama dan menganut keyakinan-keyakinan baru yang saya tulis dalam buku-buku ini. Keyakinan-keyakinan lama saya lemparkan sebagaimana saya melemparkan baju ini\u00e2\u20ac\u009d.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn19\">[19]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Selain alasan-alasan yang telah dikemukakan di atas, baik yang dikemukakan oleh para teolog Muslim, dan juga para orientalis tentang keluarnya al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari dari aliran Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah, belum dapat memberikan jawaban yang memuaskan. Terlepas dari itu semua, yang jelas bahwa dalam lapangan teologi Islam aliran Asy\u00e2\u20ac\u2122ariyah dan Maturidi merupakan refleksi dari aliran&nbsp;<em>ahl al-sunnah wa al-jama\u00e2\u20ac\u2122ah<\/em>.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn20\">[20]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Meskipun yang dimaksud dengan faham&nbsp;<em>ahl al-sunnah wa al-jama\u00e2\u20ac\u2122ah<\/em>&nbsp;itu mencakup Asy\u00e2\u20ac\u2122ari dan Maturidi, namun dalam tulisan ini hanya akan dikemukakan pemikiran-pemikiran teologi al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari saja.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>D. Gagasan Sentral Pemikiran Teologi&nbsp;<em>Ahl al-Sunnah wa al-Jama\u00e2\u20ac\u2122ah<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Gagasan-gagasan teologi Imam al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari \u00e2\u20ac\u201c sebagaimana dikatakannya sendiri \u00e2\u20ac\u201c dapat dijumpai dalam beberapa karyanya, di antaranya&nbsp;<em>Kitab al-Luma\u00e2\u20ac\u2122 fi al-Rad \u00e2\u20ac\u02dcala ahl al-Ziyagh wa al-Bida\u00e2\u20ac\u2122&nbsp;<\/em>yang berisi tentang penolakan terhadap penganut penyimpangan teratur dan sistematis dengan memberikan sorotan yang tajam dan bantahan-bantahan terhadap lawan-lawannya dengan argumentasi yang cukup rasional dengan menonjolkan fungsi akal. Kitab lain adalah &nbsp;<em>al-Ibanah \u00e2\u20ac\u02dcan Ushul al-diyanah&nbsp;<\/em>yang berisi tentang kepercayaan ahl al-sunnah, di mana al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari mencoba melukiskan pada pihaknya yang tradisionalis ekstrim yang melawan pada kebutuhan dialektika dalam masalah-masalah agama. Pada kitab ini peranan naql lebih tinggi daripada akal, karena memang kitab ini membahas tentang pokok-pokok pikiran yang menjadi dasar bagi aliran teologi yang kemudian berkembang menjadi dasar bagi aliran&nbsp;<em>ahl al-sunnah wa al-jama\u00e2\u20ac\u2122ah<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Perbedaan kandungan yang terdapat pada keduanya adalah bahwa di dalam al-<em>Ibanah<\/em>, peranan&nbsp;<em>naql&nbsp;<\/em>lebih tinggi ketimbang akal, sedangkan dalam&nbsp;<em>al-Luma\u00e2\u20ac\u2122&nbsp;<\/em>peranan akal lebih tinggi dalam memahami nash-nash. Ini wajar karena al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari mencoba menempuh jalan tengan antara dua ekstremitas, yakni para rasionalis Mu\u00e2\u20ac\u2122tazili, yang membuat wahyu dibawah penalaran dan para eksternalis yang berbeda pendekatannya, yang menolak peranan nalar dan kembali bersandar pada makna&nbsp;<em>zhahir&nbsp;<\/em>ayat-ayat al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an dan&nbsp;<em>hadis&nbsp;<\/em>secara murni. Tidak mengherankan jika ulama Asy\u00e2\u20ac\u2122ariyah seperti al-Juwaini menyakatan bahwa dalam kenyataannya al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari tidaklah sungguh-sungguh seorang teolog (<em>mutakallim<\/em>) tetapi seorang pendamai terhadap dua pandangan ekstrem yang merata di masyarakat pada waktu itu.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn21\">[21]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Di bawah ini akan dikemukakan beberapa gagasan sentral pemikiran Imam al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari tentang persoalan-persoalan teologis yang secara umum sebagai sintesa terhadap pemikiran-pemikiran yang berkembang sebelumnya dan menjadi perdebatan pada waktu itu.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/strong><strong>Konsep Iman<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sejarah pemikiran Islam, diskursus tentang iman ini telah menjadi bahan perdebatan yang serius, khususnya di kalangan teolog (<em>mutakallim<\/em>). Pembicaraannya berkutat di sekitar apakah iman itu hanya&nbsp;<em>tashdiq&nbsp;<\/em>(pembenaran tentang apa yang didengar) ataukah meningkat sampai kepada&nbsp;<em>ma\u00e2\u20ac\u2122rifah&nbsp;<\/em>(mengetahui benar apa yang diyakini), serta&nbsp;<em>amal&nbsp;<\/em>(termanifestasi dalam perbuatan).<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Harun Nasution bahwa pembahasan tentang iman ini erat sekali hubungannya dengan akal dan wahyu.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn22\">[22]<\/a>&nbsp;Artinya bahwa iman yang didasarkan pada wahyu disebut&nbsp;<em>tashdiq,&nbsp;<\/em>sedangkan yang didasarkan pada akal disebut&nbsp;<em>ma\u00e2\u20ac\u2122rifah.&nbsp;<\/em>Oleh karenanya, bagi kaum rasionalis yang memberikan daya lebih pada akal,<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn23\">[23]<\/a>&nbsp;iman bukan hanya sekedar&nbsp;<em>tashdiq<\/em>, tetapi juga&nbsp;<em>ma\u00e2\u20ac\u2122rifah&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcamal.&nbsp;<\/em>Al-Qadhi Abdul jabbar,<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn24\">[24]<\/a>&nbsp;salah seorang tokoh Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah, menolak pengertian iman yang hanya terbatas pada pengetahuan dengan akal budi (<em>al-ma\u00e2\u20ac\u2122rifah bi al-qalb<\/em>) atau hanya bersifat pengakuan lisan (<em>al-iqrar bi al-lisan<\/em>), dan juga ia menolak pengertian iman yang hanya berbentuk pembenaran dengan hati (<em>al-tashdiq bi al-qalb<\/em>). Karena iman baginya bukan sekedar itu, tetapi harus meningkat menjadi&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcamal&nbsp;<\/em>(perbuatan), yaitu menjalankan perintah-perintah Allah, baik yang wajib maupun yang sunnat, serta menjahui perbuatan-perbuatan yang tercela. Pendapatnya ini ia dasarkan pada QS. al-Anfal\/8: 2.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn25\">[25]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan bagi kaum tradisionalis karena memberikan daya yang kecil pada akal, maka iman hanya sebatas&nbsp;<em>tashdiq<\/em>. Dengan demikian, yang dinamakan iman menurut al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari adalah&nbsp;<em>al-tashdiq bi Allah<\/em>, yaitu menerima sebagai benar kabar tentang adanya Tuhan. Oleh karenanya, iman tidak bisa merupakan&nbsp;<em>ma\u00e2\u20ac\u2122rifah&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcamal.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn26\"><strong>[26]<\/strong><\/a>&nbsp;<\/em>Pendapat al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari ini sebenarnya lebih sebagai sintesa dari dua pendapat yang berbeda, yaitu antara kelompok Karamiyah yang memasukkan \u00e2\u20ac\u02dcpengakuan dengan lidah\u00e2\u20ac\u2122 (<em>iqrar bi al-lisan<\/em>) sebagai bagian (<em>juz\u00e2\u20ac\u2122<\/em>) dari iman dan kelompok Khawarij dan Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah yang memasukkan unsur perbuatan (<em>\u00e2\u20ac\u02dcamal<\/em>) juga sebagai bagian dari iman. Lebih lanjut ia berpendapat bahwa&nbsp;<em>iqrar bi lisan&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u02dcamal&nbsp;<\/em>bukan merupakan&nbsp;<em>tashdiq<\/em>.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn27\">[27]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Untuk memperkuat argumentasinya itu, Iman al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari menukil beberasa nash al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an, seperti:<\/p>\n\n\n\n<p>Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa qaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (QS. Ibrahim\/14: 4)<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan bahasa Arab yang jelas. (QS. al-Syu\u00e2\u20ac\u2122ara\/26: 195)<\/p>\n\n\n\n<p>Dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar. (QS. Yusuf\/12: 7)<\/p>\n\n\n\n<p>Bebarapa ayat di atas, sebagaimana dipahami al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari lebih menunjukkan bahwa informasi tentang agama yang harus diimani itu, disampaikan lewat bahasa kaum tempat rasul itu di utus serta dalam bahasa Arab yang jelas. Oleh sebab itu, iman berarti&nbsp;<em>tashdiq&nbsp;<\/em>(pembenaran dalam hati) atas apa yang diturunkan oleh Allah swt. Sementara itu, QS. Yusuf\/12: 17, oleh al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari dipahami sebagai adanya hubungan antara&nbsp;<em>mu\u00e2\u20ac\u2122min&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>sadiqin.&nbsp;<\/em>Oleh sebab itu, iman adalah&nbsp;<em>al-tashdiq bi al-qalb&nbsp;<\/em>(pembenaran dengan hati atas berita yang dibawa oleh Nabi dan Rasul).<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn28\">[28]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><strong>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/strong><strong>&nbsp;Teori&nbsp;<em>al-Kasb&nbsp;<\/em>(<em>acquisition<\/em>, perolehan)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sejarah pemikiran teologi Islam, perbuatan manusia merupakan salah satu isu krusial, karena ia menyangkut persoalan sejauh manakah kehendak manusia berpengaruh terhadap perbuatannya. Menanggapi masalah ini, sedikitnya telah melahirkan dua aliran kalam yang berbeda secara diametral.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Pertama<\/em>, Qadariyah, yang berpendapat bahwa manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri dalam mewujudkan perbuatannya. Sedangkan Allah sama sekali tidak menentukan perbuatan tersebut sebelumnya.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn29\">[29]<\/a>&nbsp;Aliran Qadariyah ini pertama kali diserukan oleh Ma\u00e2\u20ac\u2122bad al-Juhany (w. 80 H) yang lahir di Bashrah, kemudian mengembara ke berbagai kota seperti Damaskus dan Madinah. Ia pernah berguru kepada Hasan Al-Bashri dan tokoh Qadariyah yang lain yaitu Ghilan al-Dimasyqy, (w. 105 H) teman dari Ma\u00e2\u20ac\u2122bad al-Juhani.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn30\">[30]<\/a>&nbsp;Paham Qadariyah ini sepaham dengan pandangan Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Kedua,&nbsp;<\/em>Jabariyah<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn31\">[31]<\/a>&nbsp;yang berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk menentukan perbuatan dan tidak dapat mewujudkan kemauan-Nya.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn32\">[32]<\/a>&nbsp;Istilah untuk kedua term di atas dikenal dengan sebutan&nbsp;<em>free will<\/em>&nbsp;dan&nbsp;<em>predestination,<\/em>&nbsp;yakni paham kebebasan manusia dan fatalisme.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam hal ini, pendapat al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ariy tentang perbuatan manusia lebih dekat kepada faham Jabariyah daripada faham Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah. Ini karena al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari memandang lemah manusia, dan karenanya banyak tergantung pada kehendak dan kekuasaan Tuhan. Untuk menggambarkan hubungan perbuatan manusia dengan kemauan dan kekuasaan mutlak Tuhan, al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari memakai istilah&nbsp;<em>al-kasb&nbsp;<\/em>(<em>acquisition<\/em>, perolehan). Menurutnya, bahwa perbuatan manusia itu diciptakan oleh Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p>Pendapatnya ini, didasarkan pada QS. al-Saffat\/37: 96: \u00e2\u20ac\u0153<em>Wa Allah Khalaqakum wa ma ta\u00e2\u20ac\u2122malun<\/em>\u00e2\u20ac\u009d.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn33\">[33]<\/a>&nbsp;Lafazh \u00e2\u20ac\u02dc<em>wa ma ta\u00e2\u20ac\u2122malun<\/em>\u00e2\u20ac\u2122 pada ayat tersebut diartikan sebagai \u00e2\u20ac\u0153apa yang kamu nperbuat\u00e2\u20ac\u009d, bukan \u00e2\u20ac\u0153apa yang kamu buat\u00e2\u20ac\u009d. Ini artinya bahwa Allah menciptakan kamu dan perbuatan-perbuatan kamu. Dengan demikian, menurut faham al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari bahwa perbuatan-perbuatan manusia itu diciptakan oleh Tuhan. Atau dengan kata lain, bahwa yang mewujudkan&nbsp;<em>kasb&nbsp;<\/em>atau perbuatan manusia adalah Tuhan sendiri.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn34\">[34]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Berdasarkan pandangan al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari di atas, tampaknya manusia tidak memiliki pilihan di dalam perbuatannya, karena semua yang dilakukan manusia berdasarkan ketentuan Tuhan. Pandangan yang demikian, mendapatkan banyak kritik, terutama oleh kaum Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah yang mengatakan jika Tuhan menciptakan perbuatan manusia, maka perbuatan manusia bukan merupakan perbuatan baginya. Oleh karena itu batallah taklif, janji dan ancaman Allah.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn35\">[35]<\/a>&nbsp;Dan bagaimana Tuhan akan menghisab hamba-hamba-Nya di akhirat atau akan memberi pahala dan siksa, jika manusia tidak memiliki andil dalam menciptakan perbuatannya. Demikian pula Allah menjadi sia-sia dengan pengutusan rasul-Nya karena manusia tidak bebas untuk mengikuti petunjuk-Nya.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn36\">[36]<\/a>&nbsp;Di sisi lain, di dalam perbuatan manusia ada kekafiran dan kebohongan dan kezaliman. Maka jika Tuhan yang menciptakan perbuatan manusia, maka perbuatan tersebut adalah perbuatan Tuhan karena perbuatan itu disandarkan kepada Tuhan. Padahal Tuhan Maha Suci dari perbuatan-perbuatan nista dan zalim seperti itu.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn37\">[37]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Kritikan senada juga datang dari Ibnu Taimiyah, menurutnya bahwa al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ariy telah gagal dengan konsep&nbsp;<em>kasb<\/em>nya yang hendak menengahi antara Qadariyah dengan Jabariyah, sebab menurut Ibnu Taimiyah, kasbnya al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ariy itu telah membawa para pengikutnya berfaham Jabariyah murni, yang mengingkari sama sekali adanya kemampuan pada manusia untuk berbuat.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn38\">[38]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Penilain senada juga datang dari Yusuf Musa.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn39\">[39]<\/a>&nbsp;Demikian juga Ibn Rusyd memperkuat penilaian tersebut dengan menganggapnya sebagai jabariyah murni.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn40\">[40]<\/a>&nbsp;Agaknya itulah sebabnya mengapa para pengembang ajaran al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ariy yang kemudian, al-Juwaini dan al-Baqilani misalnya, berusaha memahami kembali teori&nbsp;<em>kasb<\/em>&nbsp;yang diciptakan al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ariy dan kemudian memunculkan teori yang lebih rasional dari pada yang dikemukakan oleh al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ariy.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn41\">[41]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><strong>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/strong><strong>Hakikat al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebagaimana telah disinggung pada pembahasan terdahulu, bahwa pembicaraan tentang al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an dalam teologi Islam berkisar pada masalah apakah al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an itu&nbsp;<em>qadim<\/em>, ataukah&nbsp;<em>hadits&nbsp;<\/em>(baharu)?. Diskursus tentang masalah ini pada zaman pemerintahan al-Ma\u00e2\u20ac\u2122mun \u00e2\u20ac\u201c karena mengakui faham Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah yang menganggap bahwa al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an itu hadits sebagai faham resmi negara \u00e2\u20ac\u201c telah menimbulkan&nbsp;<em>mihnah&nbsp;<\/em>(ujian keimanan) di kalangan umat Islam.<\/p>\n\n\n\n<p>Al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an adalah&nbsp;<em>kalam<\/em>&nbsp;Allah. Dimana kalam Allah ini sangat berbeda dengan kalam manusia. Di dalam kalam manusia (<em>kalam al-insan<\/em>) terkandung dua makna, (1)<em>&nbsp;al-makna al-masdari<\/em>, yaitu&nbsp;<em>takallum&nbsp;<\/em>(keadaan berbicara);&nbsp; dan&nbsp; (2)&nbsp;&nbsp;<em>al-makna&nbsp; al-hasil&nbsp; bi&nbsp; al-masdari<\/em>, yaitu&nbsp;<em>al-mutakallim bihi&nbsp;<\/em>(apa yang dibicarakan). Kedua makna kalam tersebut bisa berupa&nbsp;<em>kalam lafdzi<\/em>&nbsp;dan bisa berupa&nbsp;<em>kalam nafsi.<\/em>&nbsp;Oleh karena itu, kalam manusia memiliki beberapa aspek, yaitu (a)<em>&nbsp;kalam lafdzi bi al-ma\u00e2\u20ac\u2122na al-masdariy<\/em>, yaitu bergeraknya lidah dan mulut manusia ketika berbicara, (b)&nbsp;<em>kalam lafdzi bi al-ma\u00e2\u20ac\u2122na al-hasil bi al-masdar<\/em>, yaitu kata-kata atau kalimat yang diucapkan oleh pembicara, (c)&nbsp;<em>kalam nafsi bi al-ma\u00e2\u20ac\u2122na al-masdariy<\/em>, yaitu upaya melahirkan konsep-konsep pembicaraan yang ada dalam pikiran pembicara, dan (d)&nbsp;<em>kalam nafsi bi al-ma\u00e2\u20ac\u2122na al-hasil bi al-masdar<\/em>, yaitu kata-kata atau kalimat yang lahir dari konsep pembicara sebelum diucapkan.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn42\">[42]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Kaitannya dengan wahyu al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an sebagai kalam Allah, bisa diartikan sebagai&nbsp;<em>kalam lafdzi<\/em><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn43\">[43]<\/a>&nbsp;dan juga bisa diartikan sebagai&nbsp;<em>kalam nafsi<\/em>.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn44\">[44]<\/a>&nbsp; Sehubungan&nbsp; dengan&nbsp; hakikat al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an, Imam Shihabuddin al-Qasthalani menyatakan :<\/p>\n\n\n\n<p>\u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u201a\u00d8\u00b1\u00d8\u00a3\u00d9\u2020 \u00d9\u2021\u00d9\u02c6 \u00d9\u0192\u00d9\u201e\u00d8\u00a7\u00d9\u2026 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u201e\u00d9\u2021 \u00d8\u00aa\u00d8\u00b9\u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2030 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u201a\u00d8\u00a7\u00d8\u00a6\u00d9\u2026 \u00d8\u00a8\u00d8\u00b0\u00d8\u00a7\u00d8\u00aa\u00d9\u2021 \u00d8\u00ba\u00d9\u0160\u00d8\u00b1 \u00d9\u2026\u00d8\u00ae\u00d9\u201e\u00d9\u02c6\u00d9\u201a \u00d9\u02c6\u00d9\u201e\u00d8\u00a7 \u00d8\u00ad\u00d8\u00a7\u00d9\u201e \u00d9\u0081\u00d9\u2030 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d8\u00b5\u00d8\u00a7\u00d8\u00ad\u00d9\u0081 \u00d9\u02c6\u00d9\u201e\u00d8\u00a7 \u00d9\u0081\u00d9\u2030 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u201a\u00d9\u201e\u00d9\u02c6\u00d8\u00a8 \u00d9\u02c6\u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00a3\u00d9\u201e\u00d8\u00b3\u00d9\u2020\u00d8\u00a9 \u00d9\u02c6\u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00a3\u00d8\u00b0\u00d8\u00a7\u00d9\u2020 \u00d8\u00a8\u00d9\u201e \u00d9\u2026\u00d8\u00b9\u00d9\u2020 \u00d9\u201a\u00d8\u00af\u00d9\u0160\u00d9\u2026 \u00d9\u201a\u00d8\u00a7\u00d8\u00a6\u00d9\u2026 \u00d8\u00a8\u00d8\u00b0\u00d8\u00a7\u00d8\u00aa \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u201e\u00d9\u2021 \u00d8\u00aa\u00d8\u00b9\u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2030 \u00d9\u2026\u00d9\u0192\u00d8\u00aa\u00d9\u02c6\u00d8\u00a8 \u00d9\u0081\u00d9\u2030 \u00d9\u2026\u00d8\u00b5\u00d8\u00a7\u00d8\u00ad\u00d9\u0081\u00d9\u2020\u00d8\u00a7 \u00d8\u00a8\u00d9\u2020\u00d9\u201a\u00d9\u02c6\u00d8\u00b4 \u00d9\u02c6\u00d8\u00b5\u00d9\u02c6\u00d8\u00b1 \u00d9\u02c6\u00d8\u00a7\u00d8\u00b4\u00d9\u0192\u00d8\u00a7\u00d9\u201e \u00d9\u2026\u00d9\u02c6\u00d8\u00b5\u00d9\u02c6\u00d8\u00b9\u00d8\u00a9 \u00d9\u201e\u00d9\u201e\u00d8\u00ad\u00d8\u00b1\u00d9\u02c6\u00d9\u0081 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00af\u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00a9 \u00d8\u00b9\u00d9\u201e\u00d9\u0160\u00d9\u2021<\/p>\n\n\n\n<p>Al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an adalah Kalam Allah SWT yang ada dalam dzat-Nya, bukan makhluk dan tidak memerlukan tempat baik dalam mushaf, kalbu, lidah maupun telinga. Ia merupakan makna yang qadim yang berada dalam dzat Allah SWT., ditulis dalam mushaf dengan warna, rupa dan bentuk dalam wujud huruf-huruf yang menunjukkan kalam tersebut\u00e2\u20ac\u009d.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn45\">[45]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Lebih lanjut al-Qusthalani mengatakan berkaitan dengan&nbsp;<strong>\u00e2\u20ac\u0153<\/strong>adanya sesuatu\u00e2\u20ac\u009d bahwa :<\/p>\n\n\n\n<p>\u00d8\u00a5\u00d9\u2020 \u00d9\u201e\u00d9\u201e\u00d8\u00b4\u00d8\u00a6 \u00d9\u02c6\u00d8\u00ac\u00d9\u02c6\u00d8\u00af\u00d8\u00a7 \u00d9\u0081\u00d9\u2030 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00a3\u00d8\u00b9\u00d9\u0160\u00d8\u00a7\u00d9\u2020 \u00d9\u02c6\u00d9\u02c6\u00d8\u00ac\u00d9\u02c6\u00d8\u00af\u00d8\u00a7 \u00d9\u0081\u00d9\u2030 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00a3\u00d8\u00b0\u00d9\u2021\u00d8\u00a7\u00d9\u2020 \u00d9\u02c6\u00d9\u02c6\u00d8\u00ac\u00d9\u02c6\u00d8\u00af\u00d8\u00a7 \u00d9\u0081\u00d9\u2030 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00b9\u00d8\u00a8\u00d8\u00a7\u00d8\u00b1\u00d8\u00a9 \u00d9\u02c6\u00d9\u02c6\u00d8\u00ac\u00d9\u02c6\u00d8\u00af\u00d8\u00a7 \u00d9\u0081\u00d9\u2030 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u0192\u00d8\u00aa\u00d8\u00a7\u00d8\u00a8\u00d8\u00a9 \u00d9\u0081\u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u0192\u00d8\u00aa\u00d8\u00a7\u00d8\u00a8\u00d8\u00a9 \u00d8\u00aa\u00d8\u00af\u00d9\u201e \u00d8\u00b9\u00d9\u201e\u00d9\u2030 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00b9\u00d8\u00a8\u00d8\u00a7\u00d8\u00b1\u00d8\u00a9 \u00d9\u02c6\u00d9\u2021\u00d9\u0160 \u00d8\u00b9\u00d9\u201e\u00d9\u2030 \u00d9\u2026\u00d8\u00a7 \u00d9\u0081\u00d9\u2030 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00a3\u00d8\u00b0\u00d9\u2021\u00d8\u00a7\u00d9\u2020 \u00d9\u02c6\u00d9\u2021\u00d9\u02c6 \u00d8\u00b9\u00d9\u201e\u00d9\u2030 \u00d9\u2026\u00d8\u00a7 \u00d9\u0081\u00d9\u2030 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00a3\u00d8\u00b9\u00d9\u0160\u00d8\u00a7\u00d9\u2020<\/p>\n\n\n\n<p>Adanya sesuatu bisa berarti: ada dalam wujud apa adanya, ada dalam pikiran, ada dalam bentuk ungkapan, dan ada dalam bentuk tulisan. Wujud dalam bentuk tulisan menunjukkan adanya wujud ungkapan; wujud ungkapan menunjukkan apa yang ada dalam pikiran; dan wujud dalam pikiran menunjukkan apa yang ada dalam wujud apa adanya (hakikat).<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn46\">[46]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Dari ungkapan di atas dapat dipahami bahwa al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an pada hakikatnya adalah kalam Allah yang azali sehingga bersifat&nbsp;<em>qadim.<\/em>&nbsp;Pendapat senada juga dianut oleh&nbsp; ulama sunni, termasuk empat Imam madzhab<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn47\">[47]<\/a>&nbsp;sependapat mengatakan al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an adalah kalam Allah yang azali, bukan makhluk, dan dengan sendirinya qadim. Jumhur ulama berpendapat bahwa al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an adalah kalam Allah yang ada bersama Zat-Nya, berada di luar alam nyata, bukan makhluk, dan tidak memerlukan tempat. Bentuk lafal dalam mushaf adalah simbol akan keberadaan sifat kalam Allah, dan sifat kalam itu adalah&nbsp;<em>qadim<\/em>&nbsp;sebagaimana&nbsp;<em>qadim<\/em>nya Allah. Jika dikatakan al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an adalah baru, yang dimaksud adalah lafal-lafal yang dicetak dalam mushaf, yang diucapkan, didengar, dan yang demikian itu tidak&nbsp;<em>qadim<\/em>. Mengenai hal ini Abu Hasan al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari mengatakan :<\/p>\n\n\n\n<p>Al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an adalah kalam Allah yang berada dalam dzat-Nya; jika diungkapkan (diturunkan) dengan bahasa Arab, waka wujudnya adalah al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an; jika diungkapkan (diturunkan) dalam bahasa Ibrani, maka wujudnya adalah Tawrat; dan jika diungkapkan (diturunkan) dalam bahasa Suryani, maka wujudnya adalah Injil\u00e2\u20ac\u009d.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn48\">[48]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Senada dengan pendapat di atas Dr. Ahmad al-Syirbashi, yang mengatakan sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<p>Kalimat-kalimat al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an yang kita baca dalam mushaf dan senantiasa kita ulang-ulang membacanya dengan lidah kita, adalah bentuk lafadz yang menunjukkan atas adanya sifat kalam bagi Allah SWT. Sifat kalam Allah adalah qadim sebagaimana qadimnya Allah SWT. Kalam Allah tidaklah berupa lafadz atau pun huruf seperti yang kita kenal. Apabila al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an diartikan sebagai kalam Allah seperti ini, maka tidak bisa dikatakan bahwa al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an itu makhluk, karena kalau al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an itu makhluk berarti ia bersifat hadis (baru); apabila al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an sebagai kalam Allah itu bersifat hadis (baru) maka hal ini berlawanan dengan kalam-Nya Allah yang bersifat qadim. Adapun lembaran-lembaran al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an dalam mushaf berupa kalimat-kalimat&nbsp; yang ditulis atau dicetak didalamnya, semua itu adalah makhluk dan bersifat baru, tidak bersifat qadim\u00e2\u20ac\u009d.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn49\">[49]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan&nbsp; menurut golongan mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah, berpendapat&nbsp; bahwa&nbsp; hakikat&nbsp; al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an adalah huruf-huruf dan suara yang diciptakan Allah SWT yang setelah berwujud lalu hilang dan lenyap. Dengan demikian, maka kaum mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah memandang al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an sebagai makhluk (ciptaan) Allah SWT. Oleh karena itu al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an bersifat baru, dan tidak qadim.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn50\">[50]<\/a>&nbsp;Mereka berargumentasi bahwa kalau kalam itu&nbsp;<em>qadim<\/em>&nbsp;berarti&nbsp; ada&nbsp; sesuatu&nbsp; yang&nbsp; qadim&nbsp; selain&nbsp; Allah&nbsp; (<em>ta\u00e2\u20ac\u2122addud al-qudama\u00e2\u20ac\u2122)<\/em>, dan hal ini berarti menduakan Allah. Sedangkan menduakan Allah adalah syirk, dan perbuatan syirik termasuk dosa besar dan tak dapat diampuni.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn51\">[51]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Pendapat Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah di atas dibantah oleh al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari dengan mengatakan bahwa jika al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an diciptakan (makhluk), hal ini tidak sesuai dengan Q.S. al-Nahl\/16: 40 :<\/p>\n\n\n\n<p>\u00d8\u00a5\u00d9\u0090\u00d9\u2020\u00d9\u017d\u00d9\u2018\u00d9\u2026\u00d9\u017d\u00d8\u00a7 \u00d9\u201a\u00d9\u017d\u00d9\u02c6\u00d9\u2019\u00d9\u201e\u00d9\u008f\u00d9\u2020\u00d9\u017d\u00d8\u00a7 \u00d9\u201e\u00d9\u0090\u00d8\u00b4\u00d9\u017d\u00d9\u0160\u00d9\u2019\u00d8\u00a1\u00d9\u008d \u00d8\u00a5\u00d9\u0090\u00d8\u00b0\u00d9\u017d\u00d8\u00a7 \u00d8\u00a3\u00d9\u017d\u00d8\u00b1\u00d9\u017d\u00d8\u00af\u00d9\u2019\u00d9\u2020\u00d9\u017d\u00d8\u00a7\u00d9\u2021\u00d9\u008f \u00d8\u00a3\u00d9\u017d\u00d9\u2020\u00d9\u2019 \u00d9\u2020\u00d9\u017d\u00d9\u201a\u00d9\u008f\u00d9\u02c6\u00d9\u201e\u00d9\u017d \u00d9\u201e\u00d9\u017d\u00d9\u2021\u00d9\u008f \u00d9\u0192\u00d9\u008f\u00d9\u2020\u00d9\u2019 \u00d9\u0081\u00d9\u017d\u00d9\u0160\u00d9\u017d\u00d9\u0192\u00d9\u008f\u00d9\u02c6\u00d9\u2020\u00d9\u008f ( \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2020\u00d8\u00ad\u00d9\u201e\/16: 40)<\/p>\n\n\n\n<p>Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, maka Kami hanya mengatakan kepada;&nbsp;<em>Kun<\/em>&nbsp;(jadilah) maka jadilah ia\u00e2\u20ac\u009d (Q.S. al-Nahl\/16; 40).<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya \u00e2\u20ac\u201c berdasarkan ayat di atas \u00e2\u20ac\u201c untuk sebuah penciptaan perlu kata&nbsp;<em>kun<\/em>&nbsp;(jadilah), dan untuk terciptanya&nbsp;<em>kun<\/em>&nbsp;perlu kata&nbsp;<em>kun<\/em>&nbsp;yang lain, dan seterusnya. Karena itu al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an tidak bisa dikatakan sebagai makhluk.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftn52\">[52]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>E. Penutup<\/p>\n\n\n\n<p>Dari serangkaian pemaparan yang telah disajikan di muka, maka dapat ditarik butir-butir kesimpulan sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<p><em>Pertama, a<\/em>liran a<em>hl al-Sunnah wa al-jama\u00e2\u20ac\u2122ah&nbsp;<\/em>atau yang biasa disebut sebagai faham sunni, yang merupakan&nbsp; faham yang paling banyak di anut oleh umat Islam, termasuk di Indonesia muncul lebih sebagai reaksi dari faham-faham sebelumnya, khususnya adalah faham Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah. Faham&nbsp;<em>ahl al-Sunnah&nbsp;<\/em>ini pada perkembangan selanjutnya lebih diidentikkan dengan faham Asy\u00e2\u20ac\u2122ariyah dan Maturidiyah.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Kedua, a<\/em>jaran-ajaran Sunni, atau faham teologi yang dikembangkan oleh Imam al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari lebih sebagai sintesa terhadap&nbsp; dua ekstrimis yang saling bertentangan, baik dari kelompok Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah yang rasionalis maupun kelompok eksternalis yang berlawan dengannya. Demikian juga, sebagai sintesa terhadap faham Qadariyah dan Jabariyah. Artinya, secara umum dapat dikatakan bahwa al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari mencoba menciptakan suatu posisi moderat dalam hampir semua isu teologis yang menjadi perdebatan pada waktu itu.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>\u00e2\u20ac\u02dcAbd al-Jabbar,&nbsp;<em>Mutasyabih al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an,&nbsp;<\/em>(ed) Adnan Muhammad Zarzawar, Kairo: Dar al-Turas, 1969<\/p>\n\n\n\n<p>Abu al-Hasan Ibn Isma\u00e2\u20ac\u2122il al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari,&nbsp;<em>Kitab al-Luma\u00e2\u20ac\u2122 fi al-Radd \u00e2\u20ac\u02dcala al-Zaigh wa al-Bida\u00e2\u20ac\u2122,&nbsp;<\/em>Kairo: Syarikah Musahamah al-Mishriyah, 1955<\/p>\n\n\n\n<p>Abu Zahrah,&nbsp;<em>Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah,&nbsp;<\/em>Kairo: Dar al-Fikr, t.th.<\/p>\n\n\n\n<p>Ahmad Mahmud Subhi,&nbsp;<em>Al-falsafah al-Akhlaqiyah fi Fikr al-Islami,&nbsp;<\/em>Kairo: Dar al-Ma\u00e2\u20ac\u2122arif, 1969<\/p>\n\n\n\n<p>Al-Sahrastani,&nbsp;<em>al-Milal wa al-Nihal,&nbsp;<\/em>Beirut: Dar al-Fikr, 1967<\/p>\n\n\n\n<p>Dr. Hasan Zaini, MA,&nbsp;<em>Tafsir Tematik Ayat-Ayat Kalam; Tafsir al-Maraghi<\/em>, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya,&nbsp; 1997<\/p>\n\n\n\n<p>Dr. KH. Noer Iskandar al-Barsyaniy, MA,&nbsp;<em>Aktualisasi Ahlussunah Waljamaah,&nbsp;<\/em>Purwokerto: Program Pascasarjana UNISMA- Pondok Pesantren al-Hidayah, 1999<\/p>\n\n\n\n<p>Drs. H. Ibrahim Lubis,&nbsp;<em>Agama Islam Suatu Pengantar,&nbsp;<\/em>Jakarta: Ghalia Indonesia, 1984<\/p>\n\n\n\n<p><em>Ensiklopedi Islam<\/em>, Jilid 4, PT. Ichtiar Baru Van Houve, Jakarta, 1994<\/p>\n\n\n\n<p>Hamudah Ghurabah,&nbsp;<em>Abu al-Hasan al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari,&nbsp;<\/em>Kairo: Matnu\u00e2\u20ac\u2122at Majma\u00e2\u20ac\u2122 al-Buhus al-Islamiyah, 1993 H\/1973 M<\/p>\n\n\n\n<p>Harun Nasution,&nbsp;<em>Teologi Islam, Aliran-aliran, Sejarah, Analisa perbandingan,&nbsp;<\/em>Jakarta: UI Press, 1986<\/p>\n\n\n\n<p>Hasanuddin AF,&nbsp;<em>Perbedaan Qira\u00e2\u20ac\u2122at dan pengaruhnya Terhadap Istinbath Hukum Dalam al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an,&nbsp;<\/em>Jakarta: Rajawali Press, 1995<\/p>\n\n\n\n<p>Ibrahim Mazkur,&nbsp;<em>Fi Falsafat al-Islamiyyah Manhaj wa Tathbiqah,&nbsp;<\/em>Juz. II., Mesir: Dar al- Ma\u00e2\u20ac\u2122arif, tth.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Jalal Musa,&nbsp;<em>Nasyat al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ariyyat wa Tathawwuruha,&nbsp;<\/em>Beirut: Dar al-Kitab al-Lubnan, 1975<\/p>\n\n\n\n<p>KH. Sirajuddin Abbas,&nbsp;<em>I\u00e2\u20ac\u2122tiqad Ahlussunnah Wal-jama\u00e2\u20ac\u2122ah,&nbsp;<\/em>Jakarta: Pustaka Tarbiyah, 1977<\/p>\n\n\n\n<p>M. Yusuf Musa,&nbsp;<em>Al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an wa al-Falsafah,<\/em>&nbsp;Kairo: Dar al-Ma\u00e2\u20ac\u2122arif, 1966<\/p>\n\n\n\n<p>Muhammad Abd al-Azhim al-Zarqani,&nbsp;<em>manahil al-Urfan fi \u00e2\u20ac\u02dcUlum al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an,&nbsp;<\/em>Jilid I, Beirut: Dar al-Fikr, t.th.<\/p>\n\n\n\n<p>Mukhtar Rasyidi,&nbsp;<em>Doktrin Ahlussunnah Wal Jama\u00e2\u20ac\u2122ah,&nbsp;<\/em>Yogyakarta: Yayasan Kesejahteraan Mahasiswa, t.th.<\/p>\n\n\n\n<p>Seyyed Hossein Nasr,&nbsp;<em>Intelektual Islam: Teologi, Filsafat, dan Gnosis,&nbsp;<\/em>terj.Suharsono daan Djamaluddin MZ, Yogyakarta: Pustaka pelajar, 1996<\/p>\n\n\n\n<p>Yusuf Musa,&nbsp;<em>Falsafat al-Akhlak al-Islam,&nbsp;<\/em>Kairo: Muassasah al-Khanji, 1963<\/p>\n\n\n\n<p>Zuhdi Jar Allah,&nbsp;<em>Al-Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilat,&nbsp;<\/em>Beirut: Al-Ahliyah li al-Nashr wa al-Tauzi\u00e2\u20ac\u2122, 1874<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref1\">[1]<\/a>Menurut Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bi Husain bin Umar dalam&nbsp;<em>Kitab Bugyatul Mustarsyidin<\/em>bahwa 72 golongan yang sesat dan akan masuk neraka itu bermuara pada tujuh golongan, yaitu Syi\u00e2\u20ac\u2122ah, Khawarij, Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah, Murji\u00e2\u20ac\u2122ah. Najariyah, Jabariyah, Musyabbihah. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa Syi\u00e2\u20ac\u2122ah terpecah menjadi 22 aliran; Khawarij terpecah menjadi 20 aliran; Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah terpecah menjadi 20 aliran; Murji\u00e2\u20ac\u2122ah terpecah menjadi 5 aliran; Najariyah terpecah menjadi 3 aliran; Jabariyah dan Musyabbihah masing-masing 1 aliran. Sehingga kesemuanya berjumlah 72 aliran. (Dikutip dari KH. Sirajuddin Abbas,&nbsp;<em>I\u00e2\u20ac\u2122tiqad Ahlussunnah Wal-jama\u00e2\u20ac\u2122ah&nbsp;<\/em>(Jakarta: Pustaka Tarbiyah, 1977), h. 23-24<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref2\">[2]<\/a>Teks hadis yang senada \u00e2\u20ac\u201c&nbsp;<em>iftiraq al-ummah&nbsp;<\/em>\u00e2\u20ac\u201c &nbsp;sanadnya sangat banyak sekali. Sehingga, dikalangan para ulama terdapat perbedaan pendapat tentang sahnya hadis-hadis tersebut. Sebagian ulama, seperti Abu Muhammad bin Hazm pengarang&nbsp;<em>al-Fashl fi al-Milal wa al-Nihal&nbsp;<\/em>menilainya sebagai hadis-hadis yang tidak dapat dijadikan sebagai dalil. Namun sebagian besar ulama menerima hadis&nbsp;<em>iftiraq&nbsp;<\/em>ini, sebab diriwayatkan oleh banyak sahabat seperti Anas bin Malik, Abu Hurairah, Abu Darda\u00e2\u20ac\u2122, Jabir, Abu Said al-Khudriy, dan sebagainya. (Lihat Dr. KH. Noer Iskandar al-Barsyaniy, MA, (selanjutnya disebut Noer Iskandar),&nbsp;<em>Aktualisasi Ahlussunah Waljamaah&nbsp;<\/em>(Purwokerto: Program Pascasarjana UNISMA- Pondok Pesantren al-Hidayah, 1999), h. 5<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref3\">[3]<\/a>Dalam bahasa Arab lafazh&nbsp;<em>ahlun&nbsp;<\/em>memiliki beberapa arti, di antaranya (1) keluarga, seperti QS. Hud\/11: 45:&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u0153Sesungguhnya anakku termasuk keluargaku..\u00e2\u20ac\u009d<\/em>; (2) penduduk, seperti QS. al-A\u00e2\u20ac\u2122raf\/7: 96:&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u0153Jika sekiranya penduduk-penduduk negeri itu beriman..\u00e2\u20ac\u009d;&nbsp;<\/em>(3) orang yang berilmu, seperti QS. al-Nahl: 43:&nbsp;<em>\u00e2\u20ac\u0153bertanyalah kamu sekalian orang yang memiliki pengetahuan\u00e2\u20ac\u00a6\u00e2\u20ac\u009d;&nbsp;<\/em>(4) penganut atau pendukung; seperti ungkapan&nbsp;<em>ahl al-kitab&nbsp;<\/em>berarti mereka yang mendukung kitab Suci. Makna yang disebutkan terakhir lebih sesuai dengan istilah dimaksud. Sedangkan lafazh&nbsp;<em>sunnah&nbsp;<\/em>dalam hal ini sebagaimana dipahami oleh umat islam pada umumnya, yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrirnya. Sementara itu, yang dimaksud dengan lafazh&nbsp;<em>jama\u00e2\u20ac\u2122ah&nbsp;<\/em>adalah kelompok mayoritas dalam golongan Islam (<em>jumhur al-muslimin<\/em>).<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref4\">[4]<\/a>Lihat Noer Iskandar,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 1<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref5\">[5]<\/a><em>Ibid<\/em>.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref6\">[6]<\/a>Imam al-Zabidi dalam kitab&nbsp;<em>Itihaf Sadat al-Muttaqin&nbsp;<\/em>syarah&nbsp;<em>Ihya \u00e2\u20ac\u02dcUlumuddin&nbsp;<\/em>karya al-Ghazali mengatakan bahwa \u00e2\u20ac\u0153apabila disebut kaum&nbsp;<em>ahlussunnah wal jama\u00e2\u20ac\u2122ah<\/em>, maka maksudnya ialah orang-orang yang mengikuti rumusan (faham) Asy\u00e2\u20ac\u2122ari dan faham Abu Mansur al-Maturidi\u00e2\u20ac\u009d (<em>Idza Uthliqa ahl al-sunnah fa al-muradu bihi al-Asya\u00e2\u20ac\u2122iratu wa al-Maturidiyatu).&nbsp;<\/em>(Dikutip dari Sirajjuddin Abbas, &nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 17). Dalam persepektif teologis, sekalipun yang dimaksud golongan&nbsp;<em>ahl al-sunnah wa al-jama\u00e2\u20ac\u2122ah&nbsp;<\/em>mencakup faham al-Maturidi, namun dalam tulisan ini secara khusus hanya dibatasi pada pemikiran Imam al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari saja.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref7\">[7]<\/a>Lihat juga literatur yang saling melengkapi, seperti Mukhtar Rasyidi,&nbsp;<em>Doktrin Ahlussunnah Wal Jama\u00e2\u20ac\u2122ah&nbsp;<\/em>(Yogyakarta: Yayasan Kesejahteraan Mahasiswa, t.th.), h. 2<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref8\">[8]<\/a>Kaum mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah adalah pengikut Washil bin Atha\u00e2\u20ac\u2122, yang memisahkan diri dari pengajian gurunya Hasan al-Basri di masjid Basrah. Karena tindakannya ini, maka Hasan al-Basri mengatakan \u00e2\u20ac\u0153<em>I\u00e2\u20ac\u2122tazala anna Wasil\u00e2\u20ac\u009d&nbsp;<\/em>(Wasil menjauhkan diri dari kita). Karenanya, ia serta teman-temannya disebut sebagai kaum mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah. Golongan mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah merupakan golongan yang mengutamakan akal dan pikiran. Perbedaanya yang sangat besar antara golongan mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah dengan golongan ahli sunnah dalam soal ketuhanan adalah ahli sunnah mendahulukan naqli (al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an dan hadis) daripada aqli, sedangkan mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah sebaliknya, yaitu lebih mementingkan dalil-dalil aqli daripada dalil naqli. Golongan ini banyak dipengaruhi oleh filsafat-filsafat Yunani yang berdasarkan rasio semata-mata<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref9\">[9]<\/a><em>Tahkim&nbsp;<\/em>yang semula dimaksudkan untuk menyelesaikan sengeketa antara Ali bin Abi Thalib dan Mu\u00e2\u20ac\u2122awiyyah bin Abi Sufyan, ternyata berjalan tidak adil. Amr bin Ash (juru damai,&nbsp;<em>hakam<\/em>) yang ditunjuk oleh Muawiyyah bin Abi Sufyan dengan licik mengalahkan Abu Musa al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari, juru damai (<em>hakam<\/em>) dari pihak Ali bin Abi Thalib. Sebelumnya, kedua juru damai tersebut sepakat untuk menjatuhkan kedua pemuka yang saling bertentangan, Ali dan Mu\u00e2\u20ac\u2122awiyyah sebagai khalifah. Ketika, Abu Musa al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari menyatakan di muka umum putusan menjatuhkan keduanya, ternyata Amr bi Ash justru mengukuhkan Mu\u00e2\u20ac\u2122awiyyah. (Lihat Harun Nasution,&nbsp;<em>Teologi Islam, Aliran-aliran, Sejarah, Analisa perbandingan&nbsp;<\/em>(Jakarta: UI Press, 1986), h. 5)<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref10\">[10]<\/a>Kaum Khawarij merupakan pengikut-pengikut Ali bin Abi Thalib yang meninggalkan barisannya, disebabkan oleh penerimaan Ali terhadap arbritase (<em>tahkim<\/em>), sebagai cara penyelesaian persengketaan antara pihak Ali dan Mu\u00e2\u20ac\u2122awiyyah. Menurutnya, bahwa&nbsp;<em>tahkim&nbsp;<\/em>tidak dapat diputuskan oleh manusia, tetapi hanya oleh Allah SWT, dengan cara kembali kepada hukum-hukum yang ada dalam al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an. Sehingga muncul slogan \u00e2\u20ac\u0153<em>La hukma illa lillah\u00e2\u20ac\u009d&nbsp;<\/em>(tidak ada hukum selain dari hukum Allah), atau \u00e2\u20ac\u0153&nbsp;<em>La hakama illa Allah\u00e2\u20ac\u2122&nbsp;<\/em>(tidak ada juru damai selain dari Allah).<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref11\">[11]<\/a>Lihat QS. al-Maidah\/5: 44: \u00e2\u20ac\u0153<em>Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir<\/em>\u00e2\u20ac\u009d.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref12\">[12]<\/a>Faham kaum Murji\u00e2\u20ac\u2122ah bertentangan dengan kaum Khawarij, terutama dalah hal hukum seorang mukmin yang melakukan dosa besar. Menurut Murji\u00e2\u20ac\u2122ah bahwa orang mukmin pembuat dosa besar tidak menjadi kafir, akan tetapi tetap mukmin. Oleh sebab itu dosa yang dilakukan oleh seorang mukmin haruslah ditunda (<em>irja\u00e2\u20ac\u2122<\/em>) pembicaraannya, atau mengharap (<em>irja\u00e2\u20ac\u2122<\/em>) akan mendapat ampuan dari Allah di akhirat. (Lihat al-Sahrastani,&nbsp;<em>al-Milal wa al-Nihal&nbsp;<\/em>(Beirut: Dar al-Fikr, 1967), Jilid. I, h. 139)<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref13\">[13]<\/a>Paham rasionalis Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah di antarnya dipengaruhi oleh pemakaian rasio atau akal yang mempunyai kedudukan tinggi dalam kebudayaan Yunani klasik, yaitu dengan cara menterjemahkan buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab. Pemakaian rasio ini kemudian dibawa dalam bidang teologi Islam, dan karenanya teologi mereka mengambil corak teologi liberal. (Lihat harus Nasution,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 8)<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref14\">[14]<\/a>Lihat Harusn Nasution,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 61<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref15\">[15]<\/a>Pada masa pemerintahan al-Ma\u00e2\u20ac\u2122mun, orang yang mengakui bahwa al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an itu&nbsp;<em>qadim&nbsp;<\/em>dianggap sebagai&nbsp;<em>syirk<\/em>, dan&nbsp;<em>syirk&nbsp;<\/em>adalah dosa yang terbesar, dan karenanya ia tidak dapat diampuni oleh Tuhan. Di sisi lain, orang yang berpendapat demikian, tidak boleh menduduki jabatan penting dalam pemerintahan. Oleh karena itu, al-Ma\u00e2\u20ac\u2122mun kemudian menginstruksikan kepada semua gubernurnya untuk mengadakan ujian kepada pemukan pemerintahan dan masyarakat mengenai al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an. Dari sinilah kemudian timbul dalam sejarah Islam apa yang dikenal dengan&nbsp;<em>mihnah&nbsp;<\/em>atau&nbsp;<em>inquisition<\/em>. Di antara yang mendapatkan ujian itu adalah Ahmad Ibn Hanbal. (Keterangan menganai masalah ini dapat dilihat dalam Harus Nasution,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 62-63)<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref16\">[16]<\/a>Aliran Asy\u00e2\u20ac\u2122ariyah didirikan oleh Imam Abu al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari (873-935 M). Pada awalnya ia adalah murid al-Jubai (235-307 H), seorang tokoh Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah. Bahkan, karena kepercayaannya terhadap al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari, al-Jubba\u00e2\u20ac\u2122i sering mempercayakan perdebatan kepadanya. Namun akhirnya ia keluar meninggalkan ajaran mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah. Ada beberapa riwayat yang menyebabkan keluarnya al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari dari Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah, di antaranya karena masalah politik, harta dan pangkat, atau karena al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari dapat mengalahkan gurunya dalam berdebat, namun yang biasa disebut adalah karena al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari pernah bermimpi, yang dalam mimpi itu Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan kepadanya bahwa madzhab ahli hadislah yang benar, dan madzhab mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah salah. (Lihat keterangan lebih lanjut pada Harun Nasution,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 65-66)<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref17\">[17]<\/a>Seyyed Hossein Nasr,&nbsp;<em>Intelektual Islam: Teologi, Filsafat, dan Gnosis,&nbsp;<\/em>terj.Suharsono daan Djamaluddin MZ (Yogyakarta: Pustaka pelajar, 1996), h. 11<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref18\">[18]<\/a>Ada beberapa pendapat yang berkembang dikalangan teolog Muslim tentang makna&nbsp;<em>syak<\/em>(keragu-raguan) al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari sehingga ia meninggalkan aliran Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah. Menurut Ahmad Mahmud Subhi bahwa syak itu timbul karena al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari menganut madzhab Syafi\u00e2\u20ac\u2122i, yang memiliki pemikiran teologi yang berbeda dengan Mu\u00e2\u20ac\u2122tazili, seperti al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an itu tidak diciptakan, tetapi bersifat&nbsp;<em>qadim&nbsp;<\/em>dan bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat kelak. Sedangkan menurut Hammudah Ghurabah bahwa ajaran-ajaran yang diperoleh al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari dari al-Juba\u00e2\u20ac\u2122i menimbulkan persoalan-persoalan yang tak mendapat penyelesaian yang memuaskan, seperti soal mukmin, kafir, dan sebagainya. (Lihat keterangan lebih lanjut pada Harun Nasution,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 67<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref19\">[19]<\/a><em>Ibid.,&nbsp;<\/em>h. 67<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref20\">[20]<\/a>Untuk menentukan golongan ini bisa ditempuh melalui tiga cara, yaitu&nbsp;<em>pertama,&nbsp;<\/em>Ahli Asar, yaitu golongan yang dilahirkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Golongan ini dalam membahas ketuhanan hanya berdasarkan ayat-ayat al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an dan hadis shahih, serta tidak mengesampingkan akal pikiran;&nbsp;<em>kedua<\/em>, Asy\u00e2\u20ac\u2122ariyah, yaitu pengikut Imam Abdul Hasan Asy\u00e2\u20ac\u2122ari. Golongan ini membahas ketuhanan lebih banyak memakai dalil-dalil yang lahir daripada kekuatan akal dan mengujinya dengan dalil-dalil al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an dan hadis; dan&nbsp;<em>ketiga<\/em>, Maturidiyah, yaitu pengikut Imam Abdul Mansur al-Maturidiyah. Golongan ini hampir sama dengan golongan al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ariyah. (Drs. H. Ibrahim Lubis,&nbsp;<em>Agama Islam Suatu Pengantar&nbsp;<\/em>(jakarta: Ghalia Indonesia, 1984), h. 163-164)<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref21\">[21]<\/a>Lihat Sayyed Hossein Nasr,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 12<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref22\">[22]<\/a>Lihat Harun Nasution,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 147<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref23\">[23]<\/a>Dikalangan teolog Islam terjadi perbedaan pendapat dalam hal kemampuan akal untuk mengetahui hal-hal, seperti&nbsp;<em>pertama<\/em>, mengetahui Tuhan,&nbsp;<em>kedua,&nbsp;<\/em>kewajiban mengetahui Tuhan,&nbsp;<em>ketiga<\/em>, mengetahui baik dan buruk, serta&nbsp;<em>keempat<\/em>, kewajiban berbuat baik dan menjahui perbuatan jahat. Bagi kaum Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah, yang merupakan pemikir kalam rasional, berpendapat bahwa akal dapat mengetahui semua masalah tersebut. Sedangkan menurut aliran Asy\u00e2\u20ac\u2122ariyah, bahwa akal hanya dapat mengetahui satu dari keempat masalah itu, yaitu mengetahui Tuhan, sementara ketiga masalahaa lainnya hanya dapat diketahui melalui perantaraan wahyu. Sementara itu aliran Maturidiyah Samarkhan berpendapat bahwa akal mampu mengetahui ketiga masalah tersebut, sedangkan kewajiban berbuat baik dan menjahui perbuatan jahat tidak dapat dijangakau oleh akal. Lain halnya dengan aliran Maturidiyah Bukhara, dimana ia berpendapat bahwa akal hanya mampu mengetahui dua dari keempat masalah tersebut, yaitu adanya Tuhan dan kebaikan&nbsp; serta kejahatan. (Lihat Dr. Hasan Zaini, MA,&nbsp;<em>Tafsir Tematik Ayat-Ayat Kalam; Tafsir al-Maraghi<\/em>, Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta, 1997, h. 37-38).<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref24\">[24]<\/a>Lihat Harun Nasution,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 147<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref25\">[25]<\/a>Artinya: \u00e2\u20ac\u0153<em>Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut (nama) Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan kepada mereka<\/em><em>ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal<\/em>\u00e2\u20ac\u009d. Berdasarkan ayat ini Abd al-Jabbar berpendapat bahwa (1) iman tidak hanya sekedar pengakuan lisan atau keyakinan dalam hati, tetapi merupakan pelaksanaan kewajiban dan ketaatan. Mengingat bahwa Allah swt menyebutkan sifat-sifat orang mukmin, di antaranya ada yang berkairan dengan sikap jiwa dan ada yang berbentuk pengalaman jasmani. Karena itu iman mencakup setiap bentuk ketaatan dan kewajiban; (2) iman dapat bertambah dan berkurang, terbukti dengan beragamnya tingkat pengalaman dan keta\u00e2\u20ac\u2122atan manusia. Lain halnya kalau iman hanya diartikan sebagai pengakuan lisan atau keyakinan dalam hati, tentu sifatnya tetap tidak mengalami perubahan. (Lihat selengkapnya pada \u00e2\u20ac\u02dcAbd al-Jabbar,&nbsp;<em>Mutasyabih al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an,&nbsp;<\/em>(ed) Adnan Muhammad Zarzawar (Kairo: Dar al-Turas, 1969), h. 312-314)<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref26\">[26]<\/a><em>Ibid.<\/em><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref27\">[27]<\/a>Lihat Hamudah Ghurabah,&nbsp;<em>Abu al-Hasan al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari&nbsp;<\/em>(Kairo: Matnu\u00e2\u20ac\u2122at Majma\u00e2\u20ac\u2122 al-Buhus al-Islamiyah, 1993 H\/1973 M), h. 175-176<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref28\">[28]<\/a>Lihat Abu al-Hasan Ibn Isma\u00e2\u20ac\u2122il al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ari,&nbsp;<em>Kitab al-Luma\u00e2\u20ac\u2122 fi al-Radd \u00e2\u20ac\u02dcala al-Zaigh wa al-Bida\u00e2\u20ac\u2122&nbsp;<\/em>(Kairo: Syarikah Musahamah al-Mishriyah, 1955), h. 123<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref29\">[29]<\/a>M. Yusuf Musa,&nbsp;<em>Al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an wa al-Falsafah<\/em>&nbsp;(Kairo: Dar al-Ma\u00e2\u20ac\u2122arif, 1966), h. 102<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref30\">[30]<\/a>Zurkani Yahya,&nbsp;<em>Teologi al-Ghazali, Pendekatan Metodologi&nbsp;<\/em>(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), h. 26-27<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref31\">[31]<\/a>Term Jabariyah berasal dari kata&nbsp;<em>jabara,&nbsp;<\/em>yang mengandung pengertian memaksa. Memang dalam aliran ini terdapat paham bahwa manusia dalam mengerjakan perbuatannya dalam &nbsp;keadaan terpaksa (<em>majbur<\/em>). Manusia tidak memiliki daya, keinginan dan usaha. Paham ini dicetuskan oleh Ja\u00e2\u20ac\u2122ad bin Dirham dan Jahm ibn Sofwan (w. 311). Lihat Abu Zahrah,&nbsp;<em>Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah&nbsp;<\/em>(Kairo: Dar al-Fikr, t.th.), h. 115<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref32\">[32]<\/a>Ahmad Mahmud Subhi,&nbsp;<em>Al-falsafah al-Akhlaqiyah fi Fikr al-Islami&nbsp;<\/em>(Kairo: Dar al-Ma\u00e2\u20ac\u2122arif, 1969), h. 156<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref33\">[33]<\/a>Ayat yang senada dalam QS. al-Insan\/76: 30: \u00e2\u20ac\u0153Dan kamu tidak menghendaki, kecuali bila dikehendaki Allah\u00e2\u20ac\u009d.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref34\">[34]<\/a>Lihat Harun Nasution,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 107<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref35\">[35]<\/a>Zuhdi Jar Allah,&nbsp;<em>Al-Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilat&nbsp;<\/em>(Beirut: Al-Ahliyah li al-Nashr wa al-Tauzi\u00e2\u20ac\u2122, 1874), h. 96<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref36\">[36]<\/a><em>Ibid.<\/em><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref37\">[37]<\/a><em>Ibid.<\/em><a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref38\">[38]<\/a>Ibn Taimiyyah,&nbsp;<em>Minhaj al-Sunnah \u00e2\u20ac\u00a6,<\/em><em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 16-17<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref39\">[39]<\/a>Yusuf Musa,&nbsp;<em>Falsafat al-Akhlak al-Islam&nbsp;<\/em>(Kairo: Muassasah al-Khanji, 1963), h. 46<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref40\">[40]<\/a>Ibrahim Mazkur,&nbsp;<em>Fi Falsafat al-Islamiyyah Manhaj wa Tathbiqah,&nbsp;<\/em>Juz. II., (Mesir: Dar al-Ma\u00e2\u20ac\u2122arif, tth.),h. 104<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref41\">[41]<\/a>Jalal Musa,&nbsp;<em>Nasyat al-Asy\u00e2\u20ac\u2122ariyyat wa Tathawwuruha&nbsp;<\/em>(Beirut: Dar al-Kitab al-Lubnan, 1975), h. 338-406<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref42\">[42]<\/a>Lihat lebih lanjut al-Zarqani,&nbsp;<em>op. cit<\/em>., h. 15-17; teks Arabnya sebagai berikut:\u00d8\u00a5\u00d9\u2020 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u201e\u00d8\u00a5\u00d9\u2020\u00d8\u00b3\u00d8\u00a7\u00d9\u2020 \u00d9\u201e\u00d9\u2021 \u00d9\u0192\u00d9\u201e\u00d8\u00a7\u00d9\u2026, \u00d9\u201a\u00d8\u00af \u00d9\u0160\u00d8\u00b1\u00d8\u00a7\u00d8\u00af \u00d8\u00a8\u00d9\u2021 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d8\u00b9\u00d9\u2020\u00d9\u2030 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d8\u00b5\u00d8\u00af\u00d8\u00b1\u00d9\u2030 \u00d8\u00a7\u00d9\u2030 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00aa\u00d9\u0192\u00d8\u00aa\u00d9\u2026, \u00d9\u02c6\u00d9\u201a\u00d8\u00af \u00d9\u0160\u00d8\u00b1\u00d8\u00a7\u00d8\u00af \u00d8\u00a8\u00d9\u2021 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d8\u00b9\u00d9\u2020\u00d9\u2030 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00ad\u00d8\u00a7\u00d8\u00b5\u00d9\u201e \u00d8\u00a8\u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d8\u00b5\u00d8\u00af\u00d8\u00b1\u00d9\u2030 \u00d8\u00a7\u00d9\u2030 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d8\u00aa\u00d9\u0192\u00d9\u201e\u00d9\u2026 \u00d8\u00a8\u00d9\u2021, \u00d9\u02c6\u00d9\u0192\u00d9\u201e \u00d9\u2026\u00d9\u2020 \u00d9\u2021\u00d8\u00b0\u00d9\u0160\u00d9\u2020 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d8\u00b9\u00d9\u2020\u00d9\u0160\u00d9\u0160\u00d9\u2020 \u00d9\u201e\u00d9\u0081\u00d8\u00b8\u00d9\u2030 \u00d9\u02c6\u00d9\u2020\u00d9\u0081\u00d8\u00b3\u00d9\u2030, \u00d9\u0081\u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u0192\u00d9\u201e\u00d8\u00a7\u00d9\u2026 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00a8\u00d8\u00b4\u00d8\u00b1\u00d9\u2030 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u201e\u00d9\u0081\u00d8\u00b8\u00d9\u2030 \u00d8\u00a8\u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d8\u00b9\u00d9\u2020\u00d9\u2030 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d8\u00b5\u00d8\u00af\u00d8\u00b1\u00d9\u2030 \u00d9\u2021\u00d9\u02c6 \u00d8\u00aa\u00d8\u00ae\u00d8\u00b1\u00d9\u0160\u00d9\u0192 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00a5\u00d9\u2020\u00d8\u00b3\u00d8\u00a7\u00d9\u2020 \u00d9\u201e\u00d8\u00b3\u00d8\u00a7\u00d9\u2020\u00d9\u2021 \u00d9\u02c6\u00d9\u2026\u00d8\u00a7 \u00d9\u0160\u00d8\u00b3\u00d8\u00a7\u00d8\u00b9\u00d8\u00af\u00d9\u2021 \u00d9\u0081\u00d9\u2030 \u00d8\u00a7\u00d8\u00ae\u00d8\u00b1\u00d8\u00a7\u00d8\u00ac \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00ae\u00d8\u00b1\u00d9\u02c6\u00d9\u0081 \u00d9\u2026\u00d9\u2020 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d8\u00ae\u00d8\u00a7\u00d8\u00b1\u00d8\u00ac, \u00d9\u02c6\u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u0192\u00d9\u201e\u00d8\u00a7\u00d9\u2026 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u201e\u00d9\u0081\u00d8\u00b8\u00d9\u2030 \u00d8\u00a8\u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d8\u00b9\u00d9\u2020\u00d9\u2030 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00ad\u00d8\u00a7\u00d8\u00b5\u00d9\u201e \u00d8\u00a8\u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d8\u00b5\u00d8\u00af\u00d8\u00b1\u00d9\u2030 \u00d9\u2021\u00d9\u02c6 \u00d8\u00aa\u00d9\u201e\u00d9\u0192 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u0192\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d8\u00a7\u00d8\u00aa \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d9\u2020\u00d8\u00b7\u00d9\u02c6\u00d9\u201a\u00d8\u00a9 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00aa\u00d9\u0160 \u00d9\u2021\u00d9\u0160 \u00d9\u0192\u00d9\u0160\u00d9\u0081\u00d9\u0160\u00d8\u00a9 \u00d9\u0081\u00d9\u2030 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00b5\u00d9\u02c6\u00d8\u00aa \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00ad\u00d8\u00b3\u00d9\u2030, \u00d9\u02c6\u00d9\u0192\u00d9\u201e\u00d8\u00a7 \u00d9\u2021\u00d8\u00b0\u00d9\u0160\u00d9\u2020 \u00d8\u00b8\u00d8\u00a7\u00d9\u2021\u00d8\u00b1 \u00d9\u201e\u00d8\u00a7 \u00d9\u0160\u00d8\u00ad\u00d8\u00aa\u00d8\u00a7\u00d8\u00ac \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2030 \u00d8\u00aa\u00d9\u02c6\u00d8\u00b6\u00d9\u0160\u00d8\u00ad, \u00d8\u00a7\u00d9\u2026\u00d8\u00a7\u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u0192\u00d9\u201e\u00d8\u00a7\u00d9\u2026 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2020\u00d9\u0081\u00d8\u00b3\u00d9\u2030 \u00d8\u00a8\u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d8\u00b9\u00d9\u2020\u00d9\u2030 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d8\u00b5\u00d8\u00af\u00d8\u00b1\u00d9\u2030 \u00d9\u0081\u00d9\u2021\u00d9\u02c6 \u00d8\u00aa\u00d8\u00ae\u00d8\u00b6\u00d9\u0160\u00d8\u00b1 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00a5\u00d9\u2020\u00d8\u00b3\u00d8\u00a7\u00d9\u2020 \u00d9\u0081\u00d9\u2030 \u00d9\u2020\u00d9\u0081\u00d8\u00b3\u00d9\u2021 \u00d8\u00a8\u00d9\u201a\u00d9\u02c6\u00d8\u00a9 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d8\u00aa\u00d9\u0192\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d8\u00a9 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00a8\u00d8\u00a7\u00d8\u00b7\u00d9\u2020\u00d8\u00a9 \u00d9\u201e\u00d9\u201e\u00d9\u0192\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d8\u00a7\u00d8\u00aa \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00aa\u00d9\u0160 \u00d9\u201e\u00d9\u2026 \u00d8\u00aa\u00d8\u00a8\u00d8\u00b1\u00d8\u00b2 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2030 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00ac\u00d9\u02c6\u00d8\u00a7\u00d8\u00b1\u00d9\u0160\u00d8\u00ad \u00d9\u0081\u00d9\u0160\u00d8\u00aa\u00d9\u0192\u00d9\u201e\u00d9\u2026 \u00d8\u00a8\u00d9\u0192\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d8\u00a7\u00d8\u00aa \u00d9\u2026\u00d8\u00aa\u00d8\u00ae\u00d9\u0160\u00d9\u201e\u00d8\u00a9 \u00d9\u0160\u00d8\u00b1\u00d8\u00aa\u00d8\u00a8\u00d9\u2021\u00d8\u00a7 \u00d9\u0081\u00d9\u2030 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00b0\u00d9\u2021\u00d9\u2020 \u00d8\u00a8\u00d8\u00ad\u00d9\u0160\u00d8\u00ab \u00d8\u00a7\u00d8\u00b0\u00d8\u00a7 \u00d8\u00aa\u00d9\u201e\u00d9\u0081\u00d8\u00b8 \u00d8\u00a8\u00d9\u2021\u00d8\u00a7 \u00d8\u00a8\u00d8\u00b5\u00d9\u02c6\u00d8\u00aa \u00d8\u00ad\u00d8\u00b3\u00d9\u0160 \u00d9\u0192\u00d8\u00a7\u00d9\u2020\u00d8\u00aa \u00d8\u00b7\u00d8\u00a8\u00d9\u201a \u00d9\u0192\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d8\u00a7\u00d8\u00aa\u00d9\u2021 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u201e\u00d9\u0081\u00d8\u00b8\u00d9\u0160\u00d8\u00a9. \u00d9\u02c6\u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u0192\u00d9\u201e\u00d8\u00a7\u00d9\u2026 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2020\u00d9\u0081\u00d8\u00b3\u00d9\u0160 \u00d8\u00a8\u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d8\u00b9\u00d9\u2020\u00d9\u0160 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00ad\u00d8\u00a7\u00d8\u00b5\u00d9\u201e \u00d8\u00a8\u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d8\u00b5\u00d8\u00af\u00d8\u00b1\u00d9\u0160 \u00d9\u2021\u00d9\u02c6 \u00d8\u00aa\u00d9\u201e\u00d9\u0192 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u0192\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d8\u00a7\u00d8\u00aa \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2020\u00d9\u0081\u00d8\u00b3\u00d9\u0160\u00d8\u00a9 \u00d9\u02c6\u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u201e\u00d8\u00a3\u00d9\u201e\u00d9\u0081\u00d8\u00a7\u00d8\u00b8 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00b0\u00d9\u2021\u00d9\u2020\u00d9\u0160\u00d8\u00a9 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d9\u2026\u00d8\u00aa\u00d8\u00b1\u00d8\u00aa\u00d8\u00a8\u00d8\u00a9 \u00d8\u00aa\u00d8\u00b1\u00d8\u00aa\u00d8\u00a8\u00d8\u00a7 \u00d8\u00b0\u00d9\u2021\u00d9\u2020\u00d9\u0160\u00d8\u00a7 \u00d9\u2026\u00d9\u2020\u00d8\u00b7\u00d8\u00a8\u00d9\u201a\u00d8\u00a7 \u00d8\u00b9\u00d9\u201e\u00d9\u0160\u00d9\u2021 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00aa\u00d8\u00b1\u00d8\u00aa\u00d8\u00a8 \u00d8\u00a7\u00d9\u201e\u00d8\u00ae\u00d8\u00a7\u00d8\u00b1\u00d8\u00ac\u00d9\u2030<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref43\">[43]<\/a>Pendapat ini kebanyakan dianut oleh ulama ahli ushul dan fuqaha. Karena tujuannya adalah untuk menggali dan mengeluarkan (<em>istinbath<\/em>) hukum daripadanya, dan hal ini tidak bisa lain kecuali bila berkaitan dengan kalam Allah yang bersifat lafdzi.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref44\">[44]<\/a>Para ulama mutakallimin cenderung mengartikan kalam Allah sebagai kalam nafsi, hal ini disebabkan karena kajian mereka disatu sisi menyangkut sifat-sifat Allah, sedangkan disisi lain menyangkut keyakinan mereka yang menyatakan bahwa al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an adalah kalam Allah yang bersifat qadim dan bukan makhluk.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref45\">[45]<\/a>Dikutip dari Hasanuddin AF,&nbsp;<em>Perbedaan Qira\u00e2\u20ac\u2122at dan pengaruhnya Terhadap Istinbath Hukum Dalam al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an&nbsp;<\/em>(Jakarta: Rajawali Press, 1995), h. 22<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref46\">[46]<\/a><em>Ibid.<\/em>, h. 23<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref47\">[47]<\/a>Dalam lapangan hukum fiqh dikenal beberapa&nbsp;<em>madzhab<\/em>, namun yang terbesar hanya empat madhab dan banyak pengikutnya, yaitu&nbsp;<em>pertama<\/em>, Madzhab Hanafi, yaitu pengikut Nu\u00e2\u20ac\u2122man bin Tsabit yang bergelar Abu Hanifah&nbsp; (w. 767 M).&nbsp; Dasar-dasar&nbsp; yang&nbsp; dipakai&nbsp; madzhab&nbsp; ini&nbsp; adalah al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an, Sunnah Rasul, Ijma\u00e2\u20ac\u2122, Qiyas, Istihsan, dan Adat dan cara yang berlaku dalam masyarakat Islam;&nbsp;<em>kedua<\/em>, Madzhab Syafi\u00e2\u20ac\u2122i, yaitu pengikut Muhammad Ibn&nbsp; Idris&nbsp; Asy-Syafi\u00e2\u20ac\u2122i&nbsp; (w. 820 M).&nbsp; Dasar-dasar&nbsp; yang&nbsp; dipakai&nbsp; adalah al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an, Sunnah Rasul, Ijma\u00e2\u20ac\u2122, Qiyas, Istihsan;&nbsp;<em>ketiga<\/em>, Madzhab Hanbali, yaitu pengikut Ahmad bin Muhammad bin Hanbal (w. 855 M). Dasar-dasar yang dipakai adalah al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an, Sunnah Rasul, Ijma\u00e2\u20ac\u2122, Qiyas, Fatwa sahabat; dan&nbsp;<em>keempat<\/em>, Madzhab Maliki, yaitu penganut Malik bin Anas bin Malik. Dasar-dasar&nbsp; yang&nbsp; dipakai&nbsp; adalah&nbsp; al-Qur\u00e2\u20ac\u2122an,&nbsp; Sunnah&nbsp; Rasul,&nbsp; Qiyas, Ijma\u00e2\u20ac\u2122, dan al-Mashalikhul Mursalah.<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref48\">[48]<\/a>Dikutip dari Hasanuddin AF,&nbsp;<em>op. cit.,<\/em>&nbsp;h. 25<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref49\">[49]<\/a><em>Ibid.<\/em>, h. 25<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref50\">[50]<\/a>Lihat&nbsp;<em>Ensiklopedi Islam<\/em>, Jilid 4, PT. Ichtiar Baru Van Houve, Jakarta, 1994, h. 132. Pandangan ini erat hubungannya dengan paham Mu\u00e2\u20ac\u2122tazilah yang menafikan sifat-sifat Tuhan, seperti al-qudrat, al-iradat, al-sam, al-bashar, al-kalam, dan lain-lain. Menurutnya sifat-sifat tersebut adalah nama-nama Tuhan, bukan sifat-sifat-Nya. (lihat, Hasanuddin AF,&nbsp;<em>op.&nbsp;<\/em>cit.,h. 26)<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref51\">[51]<\/a><em>Ibid<\/em>., Lihat juga Harun Nasution,&nbsp;<em>op. cit.,&nbsp;<\/em>h. 61<a href=\"https:\/\/rasail.wordpress.com\/2012\/05\/25\/161\/#_ftnref52\">[52]<\/a>Lihat Harun Nasution,&nbsp;<em>ibid<\/em>., h. 38<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mohammad Nor Ichwan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar istilah&nbsp;ahl al-sunnah wa al-jama\u00e2\u20ac\u2122ah,&nbsp;suatu faham yang paling banyak dianut oleh umat Islam, termasuk di Indonesia. Namun demikian, kebanyakan umat Islam tidak tahu persis, kelompok manakah yang dimaksud sebagai&nbsp;ahl al-sunnah&nbsp;tersebut. Hal ini lebih disebabkan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":307,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-304","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-akademik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/304","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=304"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/304\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":308,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/304\/revisions\/308"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/307"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=304"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=304"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/s2iat.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=304"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}